مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah ditanya mengenai Ar-Raudhul Fa-iq dan Tanbihul Ghafilin
Beliau menjawab:
Saya tidak mengetahui tentang kitab ar-Raudhul Fa-iq, sedangkan Tanbihul Ghafilin adalah kitab yang berisi nasihat yang pada umumnya banyak mengandung hadits-hadits dhaif bahkan kadang palsu. Di dalamnya juga terdapat hikayat-hikayat yang tidak shahih dimana penulisnya ingin menggunakannya untuk melembutkan hati dan menjadikan mata menjadi menangis. Akan tetapi hal ini bukanlah cara yang benar, karena nasihat-nasihat yang ada dalam Kitabullah dan yang shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah cukup sehingga tidak perlu lagi bagi kita untuk menasihati orang-orang dengan sesuatu yang tidak shahih baik yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maupun yang disandarkan kepada kaum-kaum yang shalih yang kadang mereka salah dalam pendapat mereka yang berupa ucapan atau perbuatan. Memang dalam kitab ini terdapat hal-hal yang tidak dipermasalahkan, namun demikian saya tidak menasihatkan untuk membacanya kecuali bagi orang yang memiliki ilmu dan faham serta bisa membedakan antara hadits-hadits yang shahih, dhaif dan mauquf.
Sumber: http://www.ibnothaimeen.com
@@@@@@@@@@@@@@@
artikel lain silahkan baca di http://www.islamlight.net
Silahkan bagi yang mau mengunduh kitab كتب حذر منها العلماء (kitab-kitab yang ditahdzir ulama) di sini:
thanks for informasi,y !!!
smoga qta slalu dlm lindungan,y !!!
alhamdulillah…amiin
alhamdulillah
alhamdulillah
semoga bermanfaat
Gelo eta jalama nu ngomong kitu…dasar ahlul bidah
Kalaupun itu (menurut orang awam, sperti komentator) doif ataupun lemah, tapi isinya merupakan nasehat yang baik untuk kita lakukan, apa ya tidak boleh…???
kalau hadits-hadits shahih masih banyak, dan mungkin ngga bakalan habis kita lahap, ngapain pake yang dhaif???
Yang penting kita beramal dan itu baik menurut kita serta bermanfaat bagi orang lain…. Selanjutnya kita serahkan kepada Alloh SWT…
hadits yang boleh diamalkan adalah hadits shahih lidzatihi, shahih lighairihi, hasan lidzatihi, dan hasan lighairihi. di bawah derajat tersebut tidak boleh diamalkan.
dhoif? pernah baca
ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang dhaif, bahkan yang palsu (maudhu’) pun ada. coba baca kitab yang ada tahqiqnya. makanya Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah dalam artikel di atas mengingatkan kita semua:
“…Memang dalam kitab ini terdapat hal-hal yang tidak dipermasalahkan, namun demikian saya tidak menasihatkan untuk membacanya kecuali bagi orang yang memiliki ilmu dan faham serta bisa membedakan antara hadits-hadits yang shahih, dhaif dan mauquf.”
ana mau tanya kpd antum yg telah berkomentar bvegotu sinis dan yang telah memposting artikel ini.
tolong sebutkan hadits mana yang maudu”,alhasil antum jangan membuka kebodohan antum hanya karena demi perpecahan ulam.
Ulama terdahulu lebidh dapat di percaya daripada ulama zaman sekarang ini yang su”u.
sinis?
saya ngga merendahkan siapapun, saya tidak mengatakan bahwa dalam tanbihul ghafilin tidak ada kebaikan sama sekali. mbok ya dibaca baik-baik artikel di atas.
contoh hadits yang maudhu’ dalam tanbihul ghafilin:
-Berfikir sesaat lebih baik daripada ibadah setahun.(Tanbihul Ghafilin, Maktabah al Iman bil Manshurah, hal. 6, tahqiq as-Sayyid al ‘Arabi, pdf.)
Maudhu’ (hadits marfu’). Abu asy-Syaikh Al Ashbahani dalam al ‘Azhmah (44). Ibnul Jauzi dalam al Maudhu’at (3/144) dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dan menyebutkan Abu asy-Syaikh (49) dengan sanad dhaif dari ‘Amr bin Qais al Mala-I bahwasanya dia berkata: telah sampai kepadaku bahwa berfikir sesaat lebih baik daripada amalan setahun. Lihat adh-Dha’ifah (173)
-diriwayatkan dari ‘Abdulllah bin Miswar al Hasyimi, bahwasanya dia berkata: datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata; Aku datang kepada engkau agar engkau mengajarkan kepadaku hal yang sulit difahami dari ilmu …dst. (Tanbihul Ghafilin, Maktabah al Iman bil Manshurah, tahqiq as-Sayyid al ‘Arabi, pdf, Hal. 18)
Hadits palsu, ‘Abdullah bin al Miswar memalsu hadits sebagaimana disebutkan dalam al Mizan (3/504)
-Diriwayatkan dari Abdullah bin Miswar al Hasyimi, bahwasanya dia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca ayat ini: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, “ kemudian Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ketika cahaya Islam telah masuk ke dalam hati maka hati menjadi lapang dan senang….dst
(Tanbihul Ghafilin, Maktabah al Iman bil Manshurah, tahqiq as-Sayyid al ‘Arabi, pdf, Hal. 18)
Hadits palsu, ‘Abdullah bin al Miswar memalsu hadits sebagaimana disebutkan dalam al Mizan (3/504)
-diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: kematian adalah menyenangkan bagi orang beriman. (hal.25)
Hadits Maudhu’, dicantumkan Abu Nu’aim dalam al Hilyah (3/131), Al Baihaqi dalam asy-Syu’ab (9885, 9886), al Khathib dalam at-Tarikh (1/347), Ibnul Jauzi dalam al Maudhu’at (3/121) dengan lafadz “kematian itu kaffarah bagi setiap muslim – atau mu’min. lihat Dha’if al Jami’ (4950) dan tahqiq asy-Syihab (171-173).
wallahu a’lam
dan masih ada yang lain. coba antum perhatikan nama-nama ulama di atas seperti Imam Ibnul Jauzi, pengarang al Mizan (Imam Adz-Dzahabi)dan Abu Asy-Syaikh Al Ashbahani, apakah mereka bermaksud menimbulkan perpecahan? apakah mereka ulama su’u karena mengatakan hadits di atas palsu?
adakah Warisan Kitab yg pernah ditulis ole Muhammad Abdul Wahab”…?????????????
Ga semestinya yg punya keahlian bikin BLOG, jd goblog, coba bahas hal-hal yang lebih manfaat dari pada bikin ribut ummat.