أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Riwayat Anak dari Bapaknya dari Kakeknya atau Riwayat dari Bapak dari Anaknya

Riwayat anak dari bapaknya maksudnya jika ditemukan sanad dalam sebuah hadits dimana seorang anak meriwayatkan hadits dari bapaknya, atau anak dari bapaknya dari kakeknya.[1] Ada juga kebalikannya, yakni riwayat bapak dari anaknya, yakni jika ditemukan dalam sanad seorang ayah meriwayatkan dari anaknya.[2] Walaupun yang lebih umum adalah anak dari bapaknya.

Pembahasan keduanya penting karena kita akan menjumpai penulisan sanad dengan redaksi fulan bin fulan dari bapaknya dari kakeknya, atau fulan bin dari anaknya. Dalam sanad tersebut tidak menuliskan nama bapaknya, kakeknya, atau nama anaknya.

Faidah pembahasan riwayat anak dari bapaknya dari kakeknya adalah:

  1. mengetahui nama bapak dan kakek jika tidak disebutkan dalam sanad.
  2. Penjelasan mengenai kakek, maksudnya apakah kakek dari anak atau dari bapak.

Beberapa kitab yang masyhur yang membahas masalah ini antara lain:

  1. Riwayah al Abna ‘an Aba-ihim, karya Abu Nashr ‘Ubaidillah bin Sa’id al Wa-ili.
  2. Juz man Rawa ‘an Abihi ‘an Jaddihi, karya Ibnu Abi Khaitsamah.
  3. Kitab Al Wasyyul Mu’lim Fii man Rawa ‘an ‘an Abihi ‘an Jaddihi ‘an an-Nabiyy Shallallahu Alaihi Wasallam, karya al Hafizh al ‘Ala-iy.[3]

Adapun faidah dari pembahasan riwayat bapak dari anaknya adalah agar orang tidak mengira terjadi keterbalikan atau kesalahan dalam penulisan sanad, karena biasanya sanad itu “anak dari bapaknya”. Masalah ini menunjukkan ketawadhu’an ulama yang mengambil ilmu dari siapa pun walaupun dari orang yang lebih muda baik keilmuan maupun umurnya.

Kitab yang masyhur yang membahas masalah ini adalah kitab Riwayah al Aba ‘an al Abna, karangan al Khathib al Baghdadi.[4]

Contoh periwayatan bapak dari anaknya adalah hadits yang diriwayatkan al ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib dari anaknya yang memiliki keutamaan:[5] bahwasanya anaknya berkata:

أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم جَمَعَ بَيْنَ الصَلاتَين بالمُزْدَلِفَةِ

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjamak dua shalat[6] di Muzdalifah.” Diriwayatkan oleh al Khathib al Baghdadi.[7]

Contoh riwayat anak dari bapaknya adalah riwayat ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya. ‘Amr bin Syu’aib adalah ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ashi.  Jadi kakek dari ‘Amr adalah Muhammad, tapi para ulama melalui penelitian menemukan bahwa dhamir dalam “jaddihi” (kakeknya) kembali kepada Syu’aib, sehingga maksud dari “kakeknya” adalah kakek dari Syu’aib yakni ‘Abdullah bin ‘Amr seorang sahabat yang masyhur.[8]

Berikut hadits riwayat Imam Ibnu Majah yang berkaitan dengan pembahasan yang ditanyakan seorang penanya kepada situ Islamweb:

قال ابن ماجه في سننه: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ عَلَى أَصْحَابِهِ، وَهُمْ يَخْتَصِمُونَ فِي الْقَدَرِ

Ibnu Majah menyebutkan dalam kitab Sunannya: “Ali bin Muhammad telah menyampaikan kepadaku, bahwasanya dia berkata:’ Abu Mu’awiyah telah menyampaikan kepadaku, bahwasanya dia berkata: ‘Dawud bin Abi Dind telah menyampaikan kepadaku dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dar kakeknya, bahwasanya kakeknya berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam keluar menemui para shahabatnya sementara mereka sedang bertengkar mengenai qadha dan qadar…[9]

Yang jadi pertanyaan adalah, siapa yang dimaksud dalam rangkaian sanad ini, dari bapaknya dari kakeknya?

Terima kasih, semoga Allah Ta’ala memberkati Anda.

Jawab:

Yang dimaksud dengan jaddihi dalam sanad ini adalah sahabat yang mulia ‘Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash Radhiyallahu Anhuma karena maksud Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr adalah riwayat bapaknya dari kakeknya sebagaimana dikatakan Imam Adz-Dzahabi mengomentari perkataan Ibnu ‘Adi yang berkata bahwa Syu’aib tsiqah kecuali jika meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya maka haditsnya mursal[10] karena kakeknya adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amr, bukan seorang sahabat.

Adz-Dzahabi berkata, aku berkata: laki-laki yang dimaksud, tidaklah yang dimaksud kakeknya kecuali kakeknya yang mulia ‘Abdullah Radhiyallahu Anhu. Hal itu jelas tercantum dalam banyak hadits yan gmenyebutkan dari kakeknya ‘Abdullah. Hadits ini tidak mursal, dan telah dipastikan bahwa Syu’aib mendengar hadits dari bapaknya dari kakeknya, ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Mu’awiyah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Ibnu ‘Umar, dan lainnya. Tidak ada pada kami persoalan tentang Syu’aib, dia dididik dalam kondisi yatim oleh kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr dan menyimak hadits darinya dan melakukan safar dengannya. Barangkali dia lahir pada masa kekhalifahan ‘Ali bin ‘Abi Thalib Radhiyallahu Anhu atau sebelumnya. Belum ditemukan riwayat yang jelas milik ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, yakni Muhammad bin ‘Abdullah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sebaliknya ada sekitar sepuluh hadits yang diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dan sebagian dari ‘Amr dari bapaknya dari kakeknya, Abdullah. Aku tidak mengetahui apakah Syu’aib menghafal hadits dari bapaknya atau tidak. Yang saya ketahui bahwasanya Syu’aib bermulazamah dan menyimak hadits dari kakeknya.

وعلى ذلك، فالجد المذكور هو الجد الثاني  عمرو  وليس الأول

Berdasarkan hal-hal di atas, maka kakek yaىل dimaksud di atas adalah kakek yang kedua, bukan kakek yang pertama.[11]

Berikut ini ada fatwa tentang tahqiq atas komentar tentang ‘Amr bin Syu’aib:

عمرو بن شعيب  عن أبيه عن جده وتحقيق القول فيه

 تحقيق : د .  عبد العزيز بن أحمد الجاسم

 اسمه ونسبه:  هو  عمرو بن شعيب بن محمد بن عبد الله بن عمرو بن العاص بن وائل بن هاشم بن سعيد بن سهم السهمي القرشي  .

‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dan penelitian atas komentar tentangnya.

Tahqiq Dr. ‘Abdul Aziz bin ‘Ahmad al Jasim

Nama dan nasabnya: ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin al ‘Ash bin Wa-il bin Hasyim bin Sa’id bin Sahm as-Sahmi al Qurasyi.

 كنيته:  يكنى  أبا إبراهيم  على الصحيح  ويقال:  أبو عبد الله  .

Kunyahnya: Abu Ibrahim  menurut pendapat yang shahih, ada juga yang menyebut Abu ‘Abdillah.

تحديد طبقته:  لقد سمع من  الربيع بنت معوذ  وزينب بنت أبي سلمة  ولهما صحبة  .

 وقد رأى  ابن عمر  وابن عباس  كما صحح ذلك  الحاكم  وأقره  الذهبي  .

 فعلى هذا يكون من التابعين الصغار . توفي سنة 118 هـ .

Thabaqat: mendengar hadits dari Ar-Rubayyi’ bin Mu’awwidz,[12] Zainab binti Abi Salamah,[13] keduanya shahabiyah. Dan dia berjumpa dengan Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas sebagaimana pendapat ini disahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Berdasarkan hal tersebut, dia (‘Amr bin Syu’aib) merupakan tabi’in kecil, wafat tahun 118 Hijriyah.

أما من قال: إنه من أتباع التابعين  كأبي بكر النقاش  والنووي  فغير صحيح  .

Ada pun yang mengatakan bahwa ‘Amr bin Su’aib merupakan Atba’ at-Tabi’in seperti Abu Bakar An-Naqqash dan an-Nawawi, maka pendapat ini tidak benar.[14]

Kontroversi Seputar Sanad ini[15]

Kontroversi mengenai kehujjiahan sanad ini ternyata masih tetap ada. Ada yang menyatakan bahwa sanad ini bisa dijadikan sebagai hujjah, ada juga juga yang tidak. Ikhtilaf ini tidak lepas dari penentuan maksud dari kakek di atas, wallahu a’lam.

Ulama-ulama yang mencela sanad ini saya uraikan secara singkat antara lain:

–       Ibnu Hibban dalam al Majruhin 2/72.

–       At-Tirmidzi: orang yang berkomentar tentang hadits ‘Amr bin syu’aib mendhaifkannya karena ‘Amr tidak meriwayatkan hadits dari Shahifah kakeknya, sepertinya mereka berpendapat bahwa ‘Amr tidak mendengar hadits dari kakeknya,  2/140.

–       At-Tirmidzi, ‘Ali bin ‘Abdillah dari Yahya bin Sa’id, Abu ‘Ubaid al Ajurry, sebagaimana disebutkan Adz-Dzahabi dalam Mizan al I’tidal 5/319.

–       Ibnu Hazm dalam al Muhalla 5/232.

Sementara ulama-ulama yang menerima[16] sanad ini antara lain:

–       Al Bukhari: aku melihat Ahmad bin Hanbal, Ali bin al Madini, Ishaq bin Rahuyah, Abu ‘Ubaid, dan banyak sahabatku berhujjah dengan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, tidak ada seorang pun yang meninggalkannya. Al Bukhari berkata: orang-orang setelahnya?. (at-Tarikh al Kabir 6/342)

–       Imam an-Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, Imam Ibnul Qayyim: berhujjah dengan hadits ini adalah pendapat yang benar yang dipilih oleh para imam ahli hadits…

–       Al Hafizh Ibnu Hajar dan Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz bin Bazz: yang benar adalah bahwasanya haditsnya adalah hujjah selama tidak ada pertentangan.

–       Ishaq bin Rahuyah: jika para perawi dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya tsiqah, maka sanad ini setara Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar.

–       Adz-Dzahabi: sanad ini tertinggi dari derajat hasan. Beliau juga berkata:

…….tentang riwayatnya dari bapaknya dari kakeknya kami jawab: bahwasanya riwayatnya tidak mursal, juga tidak munqathi’.[17] Adapun mengenai status wijadah,[18] atau sebagian sama’[19] sebagian wijadah maka hal ini merupakan wilayah penelitian, kami katakan: bahwasanya haditsnya merupakan jenis hadits shahih tapi dari jalan hadits hasan. Selesai. (Mizanul I’tidal 5/322)

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas maka jika ditemukan sanad:

عمرو بن شعيب  عن أبيه عن جده

Seperti dalam hadits riwayat Imam Ibnu Majah di atas, maka maksudnya adalah ‘Amr bin Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash dari bapaknya, yakni Syu’aib, dari kakeknya, yakni kakek dari Syu’aib yang bernama ‘Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, bukan kakek dari ‘Amr, yang bernama Muhammad bin ‘Abdullah, karena kalau yang dimaksud kakek di sini adalah Muhammad maka haditsnya mursal karena Muahammad ini tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Wallahu a’lam


[1] Taysir Musthalah al Hadits, Dr. Mahmud Ath-Thahhan, hal. 236, Maktabah al Ma’arif

[2] Idem, hal. 235

[3] Idem, hal. 237

[4] Idem, hal. 235

[5] ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu Anhuma.

[6] Al Ustadz Abu Ihsan menjelaskan bahwa shalat yang dimaksud adalah Maghrib dan ‘Isya, yakni jamak ta’khir, karena di Muzdalifah dalam rangka mabit.

[7] idem

[8] Idem, hal. 236

[9] Syaikh Al Albani berkata: Hasan Sahih, lihat Sunan Ibnu Majah (No. 85).

[10] Jika seorang tabi’in berkata: Qaala Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam….atau sejenisnya.

[11] http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=157291

[12] Dibaca dengan tashghir dan tasykil, Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra al Anshariyah an-Najjariyyah, Sighar Shahabiyyah, lihat Taqrib at-Thdzib Majmu’an ila al Kasyif wa Maratib al Mudallisin wa…(no. 8584)

[13] Anak tiri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, lihat Taqrib at-Thdzib Majmu’an ila al Kasyif wa Maratib al Mudallisin wa…(no. 8595)

[14] http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=4579&PageNo=1&BookID=2

[15] Mengambil faidah dari http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=5333

[16] Tentunya jika perawi lainnya tsiqah.

[17] Terputus sanadnya.

[18] Wijadah merupkan salah satu metode penerimaan (tahammul) hadits yakni dimana seorang murid menemukan hadits dengan tulisan tangan syaikhnya yang diriwayatkan oleh syaikhnya, dimana muridnya ini mengetahui bentuk tulisan syaikhnya, tanpa ada sama’ dari atau ijazah dari syaikhnya. Al Ustadz Abu Ihsan mengatakan bahwa belum tentu itu tulisan syaikhnya, bisa jadi itu tulisan orang lain.

[19] Sama’ merupakan metode tahammul yang paling tinggi menurut jumhur ahli hadits, yakni seorang syaikh membaca hadits baik dari hafalan atau kitabnya, kemudian murid-muridnya mendengarkan dan mencatat haditsnya, atau mendengar daja tanpa menulisnya. Kalimat yang dipakai dalam ada (menyampaikan) haditsnya adalah: sami’tu (aku mendengar), haddatsana (telah mengabarkan kepada kami), akhbarana (telah menabarkan kepada kami), anba-ana (telah mengabarkan kepada kami), qaala li (telah berkata kepadaku), atau dzakara li (telah menyebutkan kepadaku). Taysir Musthalah al Hadits, hal. 196-197.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 17, 2012 by in Hadits and tagged , , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: