أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah


بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah


رُوِيَ عن عبد الله بن أبي أوفى عن النبي قال: نوم الصائم عبادة وسكوته تسبيح

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah dan diamnya adalah tasbih (berdzikir kepada Allah )”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (3/415) dengan sanad beliau dari Sulaiman bin ‘Amr, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Riwayat ini sanadnya palsu, karena ada rawi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr, dia adalah Abu Dawud an-Nakha’i, seorang pendusta dan pemalsu hadits yang terkenal.[1]

Riwayat ini dinyatakan kelemahannya yang fatal oleh Imam al-‘Iraqi dalam “Takhriiju Ahaadiitsil Ihya’” (hlm 187) dan al-Munawi dalam “Faidhul Qadiir” (6/290).

Juga diriwayatkan dari jalur lain dari Abdullah bin Abi Aufa, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (3/415).

Riwayat ini sanadnya sangat lemah, karena ada rawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan as-Samarqandi, Imam Ibnu ‘Adi berkata tentangnya: “Hadits (yang diriwayatkan)nya munkar (sangat lemah)”.[2]

Juga ada jalur lain dari Abdullah bin Abi Aufa, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam, dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (3/415).

Riwayat ini sanadnya sangat lemah bahkan palsu, karena ada rawi yang bernama Khalaf bin Yahya, dia dinyatakan sebagai pendusta oleh Imam Abu Hatim ar-Raazi.[3]

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari shahabat lain, yaitu ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dikeluarkan oleh Imam Abu Nu’aim dalam “Hilyatul Auliya’” (5/83).

Hadits ini juga sanadnya lemah, karena ada rawi yang bernama Abu Thaibah ‘Abdullah bin Muslim as-Sulami al-Marwazi. Imam Abu Hatim ar-Raazi berkata tentangnya: “Hadits (riwayatnya) ditulis tapi tidak dijadikan sebagai sandaran”. Imam Ibnu Hibban berkata: “Dia selalu salah dan menyelisihi (dalam meriwayatkan hadits)”.[4]

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dikeluarkan oleh Imam Hamzah bin Yusuf al-Jurjani dalam “Tarikh Jurjan” (hlmn 370).

Hadits ini dihukumi oleh Syaikh al-Albani sebagai hadits yang sangat lemah karena sanadnya gelap (rawi-rawinya tidak dikenal) dan terputus.[5]

Juga diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu Anhuma, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana yang dinukil oleh Imam al-‘Iraqi dalam “Takhriiju ahaadiitsil Ihya’” (hlm 187) dan dinyatakan lemah sanadnya oleh beliau.

Kesimpulannya, hadits ini lemah dari semua jalur periwayatannya, bahkan sebagian jalurnya sangat lemah dan yang lain palsu.

Hadits ini dihukumi sebagai hadits lemah oleh Imam al-‘Iraqi, Imam al-Munawi dan Syaikh al-Albani.[6]

Kelemahan derajat hadits ini menjadikannya tidak bisa dipakai sebagai argumentasi dan sandaran untuk menetapkan bahwa tidur dan diamnya orang yang berpuasa bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena hukum asal tidur dan berdiam diri adalah mubah (boleh/tidak berpahala dan tidak berdosa).

Bahkan tidur yang berlebihan termasuk sebab besar yang menjadikan hati manusia lalai dan terhalang dari mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala,[7] sehingga mestinya dilakukan sesuai dengan kebutuhan saja.

Meskipun demikian, perbuatan hukum asalnya mubah (boleh dilakukan tanpa ada dosa dan pahala), termasuk tidur, kalau diniatkan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka akan bernilai ibadah dan menjadi amal ketaatan yang mendapat pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.[8] Ini berlaku umum bagi orang yang berpuasa maupun tidak.

Inilah makna sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Ketika seorang suami mengumpuli istrinya maka itu bernilai sedekah”.[9]


وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 25 Rajab 1436 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

Artikel manisnyaiman.com

[1] Lihat kitab “Lisaanul miizaan” (3/97).

[2] Kitab “al-Kaamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (6/325).

[3] Lihat kitab “Lisaanul miizaan” (2/405).

[4] Lihat kitab “Tahdziibut tahdziib” (6/27).

[5] Lihat kitab “Silsiltul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (10/231).

[6] Dalam “Takhriiju ahaadiitsil Ihya’” (hlmn 187), “Faidhul Qadiir” (6/290) dan “Silsiltul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (10/230).

[7] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Zaadul ma’aad” (2/82).

[8] Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam “Syarhu shahiihi Muslim” (6/16).

[9] HSR Muslim (no. 1006).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 6, 2015 by in Hadits and tagged , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: