أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Laa Ashla Lahu

Apa makna perkataan para ulama mengenai sebuah hadits, “Laa ashla lahu”?

Terkadang para ulama mengatakan “Laa ashla lahu” mengenai sebagian hadits-hadits, maknanya adalah: bahwa hadits tersebut tidak memiliki sanad yang sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, bisa jadi mauquf, maqthu’, atau hikayat. Kadang maksudnya tidak memiliki sanad pada asalnya[1], hanya diketahui dalam kitab-kitab, dan masyhur di lisan para dokter, lisan para tukang cerita, atau lisan para ahli ibadah dan para ahli nasihat[2]. Kadang juga bermakna tidak ada asalnya, maksudnya tidak memiliki sanad yang shahih walaupun ada sanadnya yang dhaif yang tidak bisa dikuatkan derajatnya. Dan bagi yang membaca kitab-kitab yang memfokuskan pada hadits-hadits dhaif, akan banyak menemui hal ini, secara dia harus mengetahui bahwa para ulama menggunakan ucapan mereka “laa yasih” dengan makna bahwa hadits tersebut maudhu’[3], lihatlah permasalahan ini dalam Al Maudhu’at milik Ibnul jauzi dan Adh-Dha’ifah milik Syaikhuna Al Albani rahimahullah.

_______________

[1] Misalnya perkataan ulama: hadits

الحديث في المسجد يأكل الحسنات كما تأكل البهائم الحشيش

percakapan di dalam masjid memakan pahala kebaikan seperti binatang ternak makan rerumputan.”

Syaikh Al Albani berkata dalam adh-Dhaifah (1/18 nomor 4): “laa ashla lahu” dicantumkan Al Ghazali dalam Al Ihya (1/136), lalu pentakhrijnya, al Iraqi, berkata: aku tidak mengetahui asalnya, dan Abdul Wahhab bin Taqiyuddin as-Subki berkata dalam Thabaqat asy-Syafiiyyah (145-147): aku tidak menemukan sanadnya.

[2] Misalnya hadits:

البطنة أصل الداء، والحمية أصل الدواء…

Kenyang itu sumber penyakit, dan diet adalah sumber obat…”

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata dalam adh-Dhaifah (nomor 252): laa ashla lahu, dicantumkan al Ghazali dalam al Ihya dengan sanad marfu’ sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian al Iraqi berkata dalam takhrijnya: aku tidak menemukan asalnya, dan disetujui as-Sakhawi dalam al Maqashid al Hasanah (1035). Ibnul Qayyim berkata dalam Zaadul Ma’ad (3/97): adapun hadits yang beredar di lisan banyak orang:

الحمية رأس الدواء والمعدة بيت الداء…

Hadits ini merupakan ucapan al Harits bin Kildah seorang tabib Arab, tidak boleh disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, banyak para imam hadits yang mengatakan demikian…selesai.

[3] Syaikh Al Albani menukilnya dari Syaikh Mula al Qari, lihat adh-Dhaifah (jilid I hal. 139 nomor 104) dan lihat contonya dalam sumber yang sama nomor 78.

—-=======—-

diterjemahkan dari http://www.sulaymani.net/index.php?option=com_content&view=article&id=1015:—–l–r&catid=9&Itemid=37

wallahu a’lam

One comment on “Laa Ashla Lahu

  1. Ping-balik: Membaca Al Insyirah dan Al Fiil dalam Shalat Fajar | أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 30, 2014 by in Hadits and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: