أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Sedikit Tentang Ibnu Lahi’ah

from burning booksSyaikh Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsari berkata:[1]

…sebagian orang terlalu berlebihan, dengan melemahkan semua hadits Ibnu Lahi’ah, baik yang berasal dari perawi qudama’ (yang meriwayatkan dari Ibnu Lahi’ah sebelum kitabnya terbakar,wallahu a’lam-admin) dan perawi mutaakhkhirin (setelah kitab-kitab Ibnu Lahi’ah terbakar, wallahu a’lam-admin). Sebagian lainnya terlalu bermudah-mudah, yakni menshahihkan semua haditsnya, bahkan dari riwayat mutaakhkhirin darinya.

Kebenaran hilang di antara ifrath (pendapat yang mendha’ifkan seluruhnya) dan tafrith (pendapat yang menshahihkan seluruhnya).

Yang benar adalah, bahwa hadits Ibnu Lahi’ah yang diriwayatkan para perawi qudama’ kuat lagi maqbul (diterima riwayatnya), dan Ibnu Lahi’ah tidak melakukan tadlis dalam riwayat-riwayat tersebut. Adapun setelah kitab-kitabnya terbakar, banyak riwayatnya yang mungkar. Beberapa ulama mengingkari terbakarnya kitab Ibnu Lahi’ah sebagaimana disebutkan Yazid bin al Haitsam dari Ibnu Ma’in. Pendapat tersebut masih butuh penelitian. Sepertinya saya telah menyebutkannya dalam kitab “Kasyful Waji’ah, bibayani Hal Ibnu Lahi’ah”, semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan untuk menyelesaikannya.

Aku (syaikh) telah memperoleh nama-nama perawi yang mendengar riwayat dari Ibnu Lahi’ah sebelum kitab-kitabnya terbakar, di antaranya:

  • ‘Abdullah bin Al Mubarak

  • ‘Abdullah bin Wahb

  • ‘Abdullah bin Yazid al Muqri’

  • ‘Abdullah bin Maslamah Al Qa’naby

  • Yahya bin Ishaq

  • Al Walid bin Mazid

  • ‘Abdurrahman bin Mahdiy

  • Ishaq bin ‘Isa

  • Al-Laits bin Sa’d

  • Bisyr bin Bakr

Saya (Syaikh) berkata: yang menyebutkan ketiga perawi pertama adalah As-Sajiy, ‘Abdul Ghaniy bin Sa’id, dan lainnya.

Ad-Dzahabi berkata dalam “Tadzkiratul Huffazh”[2] (1/238): “meriwayatkan darinya (Ibnu Lahi’ah) Ibnul Mubarak, Ibnu Wahb, Abu ‘Abdirrahman al Muqri’, dan sekelompok perawi sebelum muncul banyak wahm dalam haditsnya, dan sebelum terbakar kitab-kitabnya. Hadits dari mereka kuat, dan sebagian menshahihkannya, dan tidak lebih dari itu” selesai.

Ibnu Mahdi berkata: “Aku tidak memperhitungkan riwayat dari Ibnu Lahi’ah, kecuali yang berasal dari sima’(mendengarnya) Ibnul Mubarak dan yang sepertinya, demikian juga yang disebutkan Ibnu Hibban dalam “Al Majruhin” (2/11).

Ibnu Hibban menyebutkan tentang Al Qa’nabi.

Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam “Al Mizan” (2/482), dan dalam “as-Siyar” (8/23).

Yang menyebutkan Yahya bin Ishaq adalah Al Hafizh dalam “at-Tahdzib” (2/420) dalam biografi Hafsh bin Hasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqash.

Yang menyebutkan tentang Al Walid bin Mazid adalah Ath-Thabrani dalam “Mu’jam ash-Shaghir” (1/231).

Yang menyebutkan tentang ‘Abdurrahman bin Mahdi adalah Al Hafizh dalam “Muqaddimah al-Lisan” (1/10-11).

Aku memiliki beberapa pandangan seputar mendengarnya Ibnu Mahdi dari Ibnu Lahi’ah.

Yang menyebutkan tentang Ishaq bin ‘Isa adalah Ahmad bin Hanbal.

Dalam “Al Mizan” (2/477) milik adz-Dzahabi: “Ahmad berkata: ‘Telah berkata kepadaku Ishaq bin ‘Isa bahwasanya dia bertemu Ibnu Lahi’ah tahun 164, dan kitab-kitab Ibnu Lahi’ah terbakar pada tahun 167.’”

Yang menyebutkan tentang Al-Laits bin Sa’d adalah al Hafizh Ibnu Hajar. Ibnu Hajar berkata dalam “al Fath” (4/345): “…dalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah, tetapi hadits tersebut diriwayatkan sebelum kitab-kitab Ibnu Lahi’ah terbakar, karena Ibnu ‘Abdil Hakam mencantumkannya dalam “Futuh Mishr” dari jalur al-Laits dari Ibnu Lahi’ah’” selesai.

Yang menyebutkan tentang Bisyr bin Bakr adalah Al ‘Uqaili dengan sanadnya. Beliau berkata dalam “adh-Dhu’afa”[3] (2/294): “Telah berkata kepada kami Hajjaj bin ‘Imran, bahsanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Ahmad bin Yahya bin al Wazir, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Bisyr bin Bakr, bahwasanya dia berkata: Aku tidak mendengar satu riwayatpun dari Ibnu Lahi’ah setelah tahun 153.” Para perawinya tsiqah, kecuali syaikhnya al ‘Uqaili, aku tidak mengetahui biografinya.

Kesimpulannya, bahwa mengenai Ibnu Lahi’ah terdapat perincian: tidak menolak riwayatnya seperti Al Bushiri,[4] rahimahullah, dalam “Az-Zawa-id”, karena beliau walaupun tasamuh (tasahul, toleran-adm)dalam mencela, tapi mutasyaddid (dalam mencela-adm) Ibnu Lahi’ah.

Allah ta’ala yang memberi taufik…selesai

Wallahu a’lam

_____________

ket:gambar dari sini

[1] Dalam “Badzlul Ihsan bitaqrib Sunan an-Nasa-i Abi ‘Abdirrahman,” jilid I hal. 32-35, Al Maktabah at-Tarbiyyah al Islamiyyah, pdf, via http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showpost.php?p=2074446&postcount=18

[2] Silahkan baca artikel tentang “Tadzkiratul Huffazh” di blog ini

[3] Maksudnya “Kitab sdh-Dhu’afa, yakni kitab yang khusus tentang perawi-perawi dhaif, karangan Abu Ja’far Muhammad bin ‘Amr Al ‘Uqaili (323 H), silahkan lihat Ushul at-Takhrij wadirasah al Asanid, DR Mahmud ath-Thahhan, Maktabah Al Ma’arif, hal. 175-adm

[4] Silahkan baca artikel tentang “Az-Zawa-id” dalam blog ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 10, 2014 by in Hadits and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: