أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Cara Mengetahui Keterputusan Sanad

Bagaimana cara mengetahui inqitha’ (keterputusan sanad) dalam hadits?

Inqitha’ diketahui dengan beberapa hal:

Pertama, pernyataan seorang Imam mengenai inqitha’ tersebut, atau pernyataan perawi itu sendiri bahwa dia tidak mendengar dari Syaikh Fulan, atau syaikh Fulan tersebut telah wafat sebelum perawi tersebut lahir.

Kedua, tidak adanya kemungkinan bertemu, karena negerinya yang berjauhan, terlebih lagi jika perawi tersebut tidak dikenal melakukan perjalanan dan tidak memiliki semangat yang kuat untuk mencari hadits.

Ketiga, tidak adanya kemungkinan bertemu, dibuktikan dengan tanggal kelahiran perawi dan tanggal wafat syaikhnya.

Keempat, tidak adanya riwayat yang menunjukkan bahwa perawi tersebut mendengar atau bertemu dengan syaikhnya, dan lebih jelas lagi jika ada Imam meragukan sima’ (mendengarkan) perawi rersebut dari perawi di atasnya.

Kelima, adanya riwayat yang menyebutkan adanya seorang perantara atau lebih antara perawi dengan perawi di atasnya, sementara itu tidak ada penegasan adanya (ada’ yang menunjukkan) sima’[1] dalam riwayat-riwayat lainnya.

Keenam, adanya kepastian bahwa perawi tersebut termasuk golongan tabi’in, kemudian menjelaskan bahwa haditsnya diriwayatkan langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Demikian juga dalam hal seorang atba’ at-tabi’in dengan sahabat…dst. Dengan istilah lain: mengetahui thabaqat perawi.

Ketujuh, demikian juga mengetahui inqitha’ dalam sanad yang zhahirnya muttashil dengan mengumpulkan semua jalur periwayatan.

Kedelapan, telah masyhur di kalangan para ahli hadits, walaupun ada penegasan adanya sima’ antara perawi dengan syaikhnya, para ahli hadits memberikan komentar: “lam yashna’ dzalika”, atau “jawwadahu fulan”, yakni perawi meriwayatkan dengan baik dan selamat dari illat, padahal sebenarnya riwayat tersebut memiliki illat.

Kesembilan, bahwa perawi tersebut tidak mendengar dari perawi yang muda usianya, maka mustahil dia mendengar dari perawi yang tua, atau yang duluan wafat…dan ini merujuk kepada tarikh atau pernyataan Imam…

Kesepuluh, perawi yang lebih tua dari perawi tersebut tidak mendengar dari syaikh, maka mustahil bagi perawi tersebut mendengar dari syaikh tersebut.

Masalah, inqitha’ tidak melazimkan dhaifnya riwayat, sebagaimana yang ma’ruf dari ucapan tentang hadits hasan lighairihi.

Bahkan inqitha’ dalam zhahir sanad tidak melazimkan inqitha’ yang hakiki, karena adanya penegasan adanya perantara (yang menjadikan muttashil) melalui jalur lain, atau ulama meriwayatkannya secara muttashil dan shahih, seperti yang dilakukan para ulama kepada hadits Abi Ubaidah bin ‘Abdillah bin Mas’ud dari bapaknya -radhiyallahu anhu-, atau adanya dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud inqitha’ di sini adalah tidak adanya sima’, dan jika ada riwayat dari syaikh dari jalur lain dengan metode tahammul[2] yang baku, wallahu a’lam.

****

Sumber:http://sulaymani.net/index.php?option=com_content&view=article&id=348:2009-07-18-07-57-49&catid=9&Itemid=37

atau bisa dilihat di kitab Al Jawahir as-Sulaimaniyyah Syarh al Manzhumah al Baiquniyyah, pdf. Halaman 246-247, bisa diunduh di http://www.saaid.net/book/list.php?cat=91

 

[1] Yakni istilah dalam meriwayatkan hadits atau menyampaikan hadits yang menunjukkan bahwa perawi tersebut mendengar dari syaikhnya, misalnya dengan sami’tu, haddatsani, dsb.- pen)

[2] Pengertian tahammul dapat dibaca di sini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: