أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Ancaman Bagi Orang yang Tidak Puasa Ramadhan Tanpa Udzur

Puasa merupakan salah satu rukun iman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.”[1]

Wajib bagi kaum muslimin untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan, kecuali bagi yang sedang mendapatkan udzur dan rukhshah. Meninggalkannya merupakan dosa besar, bahkan lebih besar dari dosa berzina dan peminum khamr, sebagaimana disebutkan Imam Adz-Dzahabi:

Telah ada kesepakatan di kalangan kaum mu’minin bahwa orang yang meninggalkan puasa bukan karena sakit atau sebuah hajat, bahwasanya dia lebih buruk dari pezina, makkas (penarik cukai), dan pecandu khamr. Bahkan mereka meragukan keislamannya, dan mencurigainya sebagai orang zindiq dan inhilal.[2]

Meninggalkan ibadah puasa Ramadhan sama saja dengan tidak menginginkan ampunan dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan orang-orang yang meninggalkan puasa Ramadhan diancam dengan adzab dengan digantung pada urat ketingnya,[3] sementara kedua bibirnya dikoyak dan mengalir darah darinya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

نا الربيع بن سليمان المرادي و بحر بن نصر الخولاني قالا : ثنا بشر بن بكر نا ابن جابر عن سليمان بن عامر أبي يحيى حدثني أبو أمامة الباهلي قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضَبعَيَّ فأتيا بي جبلا وَعرا فقالا : اصعَد فقلت : إني لا أُطيقه فقالا : إنا سنُسهِّله لك فصعِدتُ حتى إذا كنت في سَواء الجبل إذا بأصوات شديدة قلت : ما هذه الأصوات ؟ قالوا : هذا عَواء أهل النار ثم انطلق بي فإذا أنا بقوم مُعلَّقين بعَراقيبهم مشقَّقة أشداقُهم تَسيل أشداقُهم دَما قال قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يُفطرون قبل تَحِلَّة صومهم

 Telah berkata kepada kami ar-Rabi’ bin Sulaiman al Muradi dan Bahr bin Nashr al Khaulani, bahwasanya keduanya berkata: Telah berkata kepada kami Bisyr bin Bakr, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Ibnu Jabir dari Sulaiman bin ‘Amir Abi Yahya, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepadaku Abu Umamah Al Bahili, bahwasanya beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam berkata: “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba dua orang laki-laki mendatangiku kemudian memegang kedua lenganku dan membawaku ke sebuah gunung yang terjal. Lalu keduanya berkata: ‘Panjatlah!’. Aku berkata: ‘Aku tidak bisa,’ Keduanya berkata: ‘Kami akan memudahkannya bagi anda.’ Maka aku pun naik, sampai di puncak gunungnya tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: ‘Suara apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah suara lolongan penduduk neraka.’ Aku pun pergi hingga aku menyaksikan suatu kaum yang digantung pada urat ketingnya yang ujung bibirnya terkoyak dan mengalir darinya darah. Aku bertanya: ‘ Siapakah mereka ini?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya…’”[4]

Semoga bermanfaat

Wallahu a’lam

Dibuat sebelum Jumatan, 12 Juli 2013, terinspirasi dari kajian Ustadz Abu ‘Aliyah di masjid at-Taubah Jalan Prona Medan.


[1] Al Bukhari dan Muslim.

[2] Al Kabair, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman, hal. 161, pdf.

[3] Urat di belakang kaki sebelah atas tumit.

[4] Shahih Ibnu Khuzaimah, III/237, no. 1986, pdf. Syaikh Al A’zhami berkata: Sanadnya shahih. Al Mustadrak 1:430 dari jalur Bahr bin Nashr al Khaulani secara ringkas. Dan Al Hakim berkata: Shahih sesuai dengan syarat Muslim, dan disetujui adz-Dzahabi.

Al Mustadrak, I/ 1568, Tahqiq Musthafa ‘Abdil Qadir ‘Atha, Darul Kutub al Ilmiyyah, pdf. Pentahqiq berkata: berkata (Adz-Dzahabi) dalam at-Talkhish: sesuai  syarat Muslim.

Shahih Ibnu Hibban, Tahqiq Syaikh Syu’aib al Arnauth, XVI/537, no. 7491, Muassasah ar-Risalah, pdf. Syaikh Al Arnauth berkata: Sanadnya shahih. Para perawinya tsiqah, para perawi shahihain kecuali Bisyr bin Abi Bakr, yang merupakan perawi al Bukhari, dan Sulaim bin ‘Amir, yakni  Abu Yahya al Kala’I, yang merupakan perawi Muslim.

Imam ath Ath-Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, VIII/7667, Tahqiq Hamdi Abdul Majid as-Salafi, Maktabah Ibnu Taimiyyah, pdf.

Imam Al Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, Tahqiq ‘Abdullah Muhammad ad-Darwisy, I/246-247, hadits no. 240, Darul Fikr, pdf. Pentahqiq berkata: Diriwayatkan ath-Thabrani (7666 dan 7667), …

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 12, 2013 by in Aqidah, Fiqih and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: