أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits “Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri Cina”

Tuntutlah ilmu Walau Sampai ke Negeri Cina, sedikit coretan pelajaran ilmu takhrij[1]

Telah mengabarkan kepada kami Syaikh yang mulia, yang tsiqah, Abu al Hasan ‘Abd al Haq bin ‘Abd al Khaliq bin Ahmad bin ‘Abd al Qadir bin Muhammad bin Yusuf, bahwasanya dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Syaikh Abu Muhammad Sa’adullah bin ‘Ali bin al Husain bin Ayyub pada bulan Rabi’ al Akhir tahun 506, bahwasanya dia berkata: telah memberitakan kepada kami asy-Syaikh al Hafizh Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit al Khathib al Baghdadi, bahwasanya dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu al Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman ath-Tharazi di Naisabur, bahwasanya dia berkata: telah berkata kepada kami Abu al ‘Abbas Muhammad bin Yaqub al Ashamm, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami al Hasan bin ‘Ali bin ‘Affan al ‘Amiri, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami al Hasan bin ‘Athiyah, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Abu ‘Atikah dari Anas bin Malik, bahwasanya beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah berkata:

اطلبوا العلم ولو بالصين فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”[2]

Secuil faidah yang bisa diambil:

  1. Kalimat yang dipermasalahkan adalah: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”, sedangkan “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”, tercantum dalam hadit tersendiri dengan jalur yang sangat banyak yang mencapai derajat hasan, sebagaimana disebutkan pentahqiq di halaman selanjutnya.
  2. Imam Al Khathib memiliki sanad sendiri dalam hadits, sehingga kitab-kitab beliau, termasuk kitab ini, bisa dikategorikan sebagai sumber takhrij, jadi kita bisa mengatakan H.R. al Khathib al Baghdadi. Walaupun antara beliau dengan sahabat Nabi terpaut banyak perawi, misalnya dalam hadits di atas terdapat 6 perawi, bandingkan dengan Imam Al Bukhari yang memiliki sanad tsulatsiyat, yakni antara Imam sampai sahabat hanya melalui tiga orang perawi saja. Wallahu a’lam
  3. Jika Imam Al Bukhari menilai seorang perawi dengan jarh “mungkarul hadits”, ini menunjukkan jarh yang sangat keras.
  4. Dalam catatan kaki yang ditulis oleh pentahqiq di atas disebutkan beberapa kitab takhrij antara lain: al-La-aali al mashnu’ah karya Imam as-Suyuthi dan Kasyful Khafa karya Imam al ‘Ajluni.  Kedua kitab ini merupakan kitab takhrij yang berisi hadits-hadits yang masyhur (bukan masyhur yang merupakan bagian dari hadits ahad tetapi yang sering kita dengar dari perkataan orang-orang). Uraian singkat mengenai kedua kitab ini bisa kita peroleh dalam kitab Ushul at-Takhrij wa Dirasah al Asanid karangan DR. Mahmud ath-Thahhan.
  5. نا  itu merupakan singkatan dari حدثنا . [3]
  6. Hadits dhaif bisa diangkat derajatnya menjadi hasan lighairihi jika dhaifnya tidak bersangatan (tidak dhaif jiddan).
  7. Kitab at-Tarikh al Kabir milik Imam al Bukhari dan Kitab al Jarh wat-Ta’dil milik Imam Ibnu Abi Hatim merupakan kitab yang mencantumkan nama-nama perawi secara umum, artinya tidak mencantumkan secara khusus perawi yang tercantum dalam kitab-kitab tertentu seperti al kutub as-sittah.[4]
  8.  Mizanul I’tidal karya Imam adz-Dzahabi, Lisanul Mizan karya Imam Ibnu hajar Al ‘Asqalani, Adh-Dhu’afa karya Imam Al ‘Uqaili, dan al Kamil fii adh-Dhu’afa karya Imam Ibnu ‘Adi  merupakan kitab yang khusus mencantumkan perawi-perawi dhaif.[5]
  9. Walaupun hanya disebutkan ‘ala kulli muslim (atas setiap muslim), hadits ini berlaku juga bagi muslimah.


[1] diterjamahkan dari Rihlah fi Thalab al Hadits, Imam Al Khathib al Baghdadi, tahqiq Dr. Nuruddin ‘Itr.

[2] Hadits: “Tuntulah ilmu walau di negeri Cina,” diriwayatkan oleh al Khathib al Baghdadi di sini melalui tiga jalur yang ujungnya bermuara kepada al Hasan bin ‘Athiyyah dan Abi ‘Atikah Tharif bin Salman dan Anas. Beliau juga meriwayatkan dari jalur ini dalam Tarikh Baghdad (j. 9 hal.364) dan beliau berkata: “al Hasan bin ‘Athiyah meriwayatkannya dari Abu ‘Atikah, dan aku tidak mengetahui perawi lain meriwayatkannya dari Abi ‘Atikah,” selesai.

Hadits ini juga diriwayatkan melalui jalur ini oelh Ibnu ‘Adi dalam al Kamil dan Ibnu ‘Abd al Barr dalam Jami’ Bayan al ‘Ilmi wa fadhlihi (j. 1 hal. 7-8). Ibnu ‘Adi berkata: “Perkataannya “walau di negari Cina” aku tidak mengetahuinya kecuali yang diriwayatkan oleh al Hasan bin ‘Athiyyah dari Abi ‘Atikah dari Anas,” selesai.

Akan tetapi kami (pentahqiq, yakni DR. Nuruddin ‘Itr) menemukan riwayat hadits ini selain riwayat Al Hasan bin ‘Athiyyah dari Abi ‘Atikah; diriwayatkan dari Hammad bin Khalid al Khayyath dari Abi ‘Atikah. Al ‘Uqaili mentakhrijnya dalam kitab adh-Dhu’afa, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Ja’far bin Muhammad Az-Za’farani bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Ahmad bin Abi Suraij ar-Razi bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Hammad bin Khalid al Khayyath, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Tharif bin Salman Abu ‘Atikah bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik radhiyallahu Anhu, bahwasanya beliau berkata dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Kemudian al ‘Uqaili mengomentari hal tersebut: “Tidak diriwayatkan dengan “walau ke negeri Cina,” kecuali dari Abu ‘Atikah, sementara dia Matrukul Hadits, dan (kalimat) “Wajib bagi setiap Muslim” dalam riwayat ini terdapat perawi layyin, mendekati dhaif, selesai perkataan al ‘Uqaili.

Dan Abu ‘Atikah ini disebutkan Imam al Bukhari dalam at-Tarikh al Kabir (2/2/358) dan beliau meriwayatkan hadits ini darinya (abu ‘Atikah), kemudian beliau berkata: (Abu ‘Atikah) “Munkarul hadits.” Ini (mungkarul hadits) merupakan jarh yang sangat keras menurut Imam al Bukhari. Ibnu Abi Hatim berkata sebagaimana disebutkan dalam al Jarh wat-Ta’dil (2/1/494): “Zhahibul Hadits, Dha’iful hadits,” ad-Daruquthni berkata: “Dha’if.” Demikian juga disebutkan Ibnu ‘Abd al Barr seperti disebutkannya dalam at-Tahdzib. Silahkan lihat al-La-aali al Mashnu’ah milik Imam as-Suyuthi (j. 1 hal.193), al Mughni fidh-Dhu’afa nomor 2937 dan 7561 dengan tahqiq kami (DR. Nuruddin ‘Itr).

Sebenarnya Abu ‘Atikah tidak menyendiri dalam periwayatan dari Anas, bahkan hadits ini memiliki jalur lain juga melalui Anas:

Ibnu ‘Abd al Barr mencantumkannya dalam Jami’ Bayan al ‘Ilmi, bahwasanya dia berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Ahmad, bahwasanya beliau berkata: Telah berbicara kepada kami Maslamah, bahwasanya dia berkata: Telah berbicara kepada kami Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al ‘Aswalani, bahwasanya dia berkata: Telah berbicara kepada kami ‘Ubaid bin Muhammad al Faryabi di Baitul Maqdis, bahwasanya dia berkata: Telah berkata kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Az-Zuhri dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwasanya beliau berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: disebutkan hadits dengan lafazh sebelumnya.

Dalam sanad ini terdapat Y’qub bin Ishaq al ‘Asqalani, adz-Dzahabi berkata dalam Mizan al I’tidal (j. 4 hal. 449): “Kadzdzab,” dan dalam Lisan al Mizan (j. 6, hal. 304) dari Maslamah bin Qasim dalam Kitab ash-Shilah: “…menurut kami dia Shalih Ja-izul hadits.”

Ibnu ‘Adi mencantumkan hadits ini dari Ibnu Kiram dari Ahmad bin ‘Abdillah al Juwaibari dari al Fadhl bin Musa dari Muhammad bin ‘Amr dari Abi Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu hadits: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” Silahkan lihat al-La-aali al Mashnu’ah.

Dan Al Juwaibari yang terdapat dalam sanad ini adalah kadzdzab, Ibnu ‘Adi berkata: “Dia memalsukan hadits yang dia riwayatkan kepada Ibnu Kiram. Ibnu Hibban berkata: “Dajjal dari para Dajjal yang meriwayatkan dari para imam ribuan hadits yang tidak mereka riwayatkan.” Adz-Dzahabi berkata dalam Mizan al I’tidal (j. 1 hal. 107): “Termasuk yang orang yang kedustaannya dijadikan contoh.” Dan dalam Al Mughni nomor 322: “Kadzdzab Jabal”.

Maka hadits ini, sanad di antara sanad-sanadnya termasuk yang dicela dengan celaan yang keras. Maka dari itu Ibnu al Jauzi menyebutkannya dalam al Maudhu’at. Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafa (j. 1 hal. 138): “Kami sependapat dengan perkataan al hafizh al Mizzi: hadits itu memiliki jalur-jalur yang barangkali bisa sampai ke derajat hasan dengan mengumpulkan jalur-jalurnya, dan setuju dengan perkataan adz-Dzahabi dalam at-talkhish al Wahiyat: “diriwayatkan dari banyak jalur yang lemah, sebagian shalih,” selesai.

Akan tetapi kami (pentahqiq) tidak sependapat dengan bisa terangkatnya derajat hadits ini menjadi hasan, karena syarat terangkatnya sebuah hadits dhaif (menjadi hasan) adalah kedhaifan perawinya tidak bersangatan (tidak dhaif jiddan), di sini (sanad hadits ini) dhaifnya bersangatan, sehingga hadits-hadits yang bisa dijadikan mutaba’ah ini tidak bisa menguatkannya.

Sebagaimana kami (pentahqiq) juga tidak setuju dengan Ibnu al Jauzi yang menetapkan bahwa hadits ini hadits yang dibuat-buat, makdzub (didustakan), tapi hanya hadits dhaif sebab diketahui banyaknya sanad yang mencegahnya ditetapkan sebagai hadits palsu. Kami telah menjelaskan dalam masalah hadits ini secara panjang lebar untuk memenuhi perlunya hal ini.

[3] Untuk mengetahui cara membacanya silahkan merujuk ke pembahasan dalam blog ini https://amaz95.wordpress.com/2011/12/28/istilah-istilah-ada/

[4] Ushul at-Takhrij wa Dirasah al Asanid, DR. Mahmud ath-Thahhan, Maktabah al Ma’arif, hal. 154, pdf.

[5] Ibid, hal. 175-176.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: