أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

KEDUDUKAN ADAB DALAM PANDANGAN SALAF

Telah disebutkan dari para ulama Salaf tentang pujian terhadap adab dan ahlinya, keutamaan serta dorongan kepadanya. Banyak sekali riwayat dan penukilan yang menjelaskan kedudukan adab dalam pandangan mereka.

Di antaranya adalah:

Habib al-Jalab berkata: “Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak: ‘Apakah sebaik-baik perkara yang diberikan kepada seseorang?

Dia menjawab: ‘Akal yang cerdas.’

Aku berkata: ‘Kalau tidak bisa?’

Dia rnenjawab: ‘Adab yang baik.’

Aku berkata: ‘Kalau tidak bisa?’

Dia menjawab: ‘Saudara penyayang yang selalu bermusyawarah dengannya.’

Aku berkata: ‘Kalau tidak bisa?‘

Dia menjawab: ‘Diam yang panjang.’

Aku berkata: ‘Kalau tidak bisa.’

Dia menjawab: ‘Kematian yang segera.”’[1]

Imam asy-Syafi’i berkata: “Barang siapa yang ingin Allah membukakan hatinya atau meneranginya, hendaklah ia ber-khalwat (menyendiri), sedikit makan, meninggalkan pergaulan dengan orang-orang bodoh, dan membenci ahli ilmu yang tidak memiliki inshaf(sikap objektif) dan adab.”[2]

Ibnu Sirin berkata: “Para Salaf rnempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”[3]

Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki keluar untuk menuntut ilmu adab baginya selama dua tahun, kemudian dua tahun.”[4]

Habib bin asy-Syahid berkata kepada anaknya: “Wahai, anakku, pergaulilah para fuqaha’ dan ulama; belajarlah dan ambillah adab dari mereka. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak hadits.”[5]

Seorang Salaf berkata kepada anaknya: “Wahai, anakku, engkau mempelajari satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab dari ilmu.”[6]

Mukhallad bin al-Husain berkata kepada Ibnul Mubarak: “Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits.“[7]

Dikatakan kepada Imam aSy-Syafi’i: “Bagaimana hasratrnu terhadap adab?

Dia menjawab: “Aku mendengar satu huruf dari adab yang belum pernah aku dengar, maka seluruh anggota badanku ingin memiliki pendengaran hingga dapat merasakan kenikmatan mendengarnya.” Dikatakan: “Bagaimana keinginanmu untuk mendapatkannya?” Dia menjawab: “Seperti keinginan seorang wanita yang kehilangan anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya.“[8]

Abu Bakar al-Mithwa’i  berkata: “Aku bolak-balik kepada Abu ‘Abdilkah—yakni Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah-selama sepuluh tahun. Beliau membacakan kitab al-Musnad kepada anak-anaknya. Aku tidak menulis satu pun hadits darinya. Aku hanya melihat pada adab dan akhlak beliau.”[9]

Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan: “Bahwasanya majelis Imam Ahmad dihadiri oleh lima ribu orang. Lima ratus di antaranya mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak, dan adab beliau.”[10]

Ibnul Mubarak berkata:

 syair ibnu mubarok

aku telah rnencoba diriku maka aku tidak mendapatkan baginya

sesuatu yang lebih bermanfaat setelah takwa kepada Allah daripada adab

dalam setiap kondisinya meski jiwaku tidak suka,

selalu lebih baik daripada diamnya dari berbuat bohong

atau mengghibahi manusia sesungguhnya ghibah telah diharamkan

oleh Yang Mahamulia dalam kitab-kitab

aku katakan pada diriku: “Taatlah” dan aku memaksanya

kesantunan dan ilmu adalah perhiasan bagi orang yang memiliki kemuliaan

seandainya ucapanmu itu dari perak, wahai diri, maka diam adalah dari emas.[11]

Ibnul Mubarak juga berkata: “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun. Adalah para Salaf mempelajari adab, baru kemudian mempelajari ilmu.”

Al-Qarafi  berkata dalam kitabnya, al-Faruq, ketika menjelaskan kedudukan adab: “Ketahuilah bahwasanya sedikit adab lebih baik daripada banyak amal. Oleh karena itulah, Ruwaiyim-seorang alim yang shalih-berkata kepada anaknya: ‘Wahai, anakku, jadikanlah amalmu ibarat gararn dan adabmu ibarat tepung. Yakni, perbanyaklah adab hingga perbandingan banyaknya seperti perbandingan tepung dan garam-dalam suatu adonan. Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada amal dengan sedikit adab.“[12]

Sumber: Mausu’ah al Adab al Islamiyyah, ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada, versi Indonesia: Ensiklopedi Adab Islam Menurut Al Qur’an dan As-Sunnah, diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Ihsan Al Atsary, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii, hal. 9-11, via books.google.co.id


[1] Syiar A’lam an-Nubala (VIII/397)

[2] Muqaddimah al Majmu’’ Syarah Muhadzdzab (I/31)

[3] Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim {hal. 2)

[4] Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim {hal. 2)

[5] Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim {hal. 2)

[6] Ibid (hal. 3)

[7] Ibid (hal. 3)

[8] Ibid (hal. 3)

[9] Syiar A’lam an-Nubala (XI/316)

[10] Ibid (XI/316)

[11] Al Mashdari As-Sabiq (VIII/416)

[12] Al Faruq (III/95, IV/272)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 23, 2013 by in Adab dan Akhlak and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: