أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Tentang Wanita yang Ditinggal Mati Suaminya

Wajib Berkabung selama Empat Bulan Sepuluh Hari

Dari Zainab binti Abi Salamah, ia berkata: “Ketika disampaikan berita kematian Abu Sufyan Radhiyallahu Anhu di Syam, Ummu Habibah Radhiyallahu Anha meminta syufrah (parfum) pada hari ketiga lalu ia mengusap kedua pipinya dan lengannya dengan parfum tersebut lalu ia berkata: ‘Sebenarnya aku tidak butuh parfum ini, kalaulah bukan karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيْهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

‘Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari kecuali atas kematian suaminya. Ia boleh berkabung selama empat bulan sepuluh hari[1].’”[2]

Dari Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ تُحِدُّ امْرَأَةٌ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Janganlah seorang wanita berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari. Kecuali atas kematian suaminya. Ia boleh berkabung selama empat bulan sepuluh dari.”[3]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu Anha dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda:

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجِهَا

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari kecuali atas kematian suaminya.”[4]

Dari Hafshah binti ‘Umar, istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda:

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجِهَا

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari kecuali atas kematian suaminya.”[5]

Perkara-perkara yang Diharamkan bagi Wanita Saat Berkabung

Dari Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ تُحِدُّ امْرَأَةٌ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا وَلاَ تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوغًا إِلاَّ ثَوْبَ عَصْبٍ وَلاَ تَكْتَحِلُ وَلاَ تَمَسُّ طِيبًا إِلاَّ إِذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ أَوْ أَظْفَارٍ

“Janganlah seorang wanita berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari. Kecuali atas kematian suaminya, ia berkabung selama 4 bulan 10 hari. Janganlah ia mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashab,[6] janganlah ia memakai celak, jangan memakai parfum kecuali ia suci dari haidh, hendaklah ia mengambil sepotong qusth atau azhfaar[7].”[8]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda:

الْمُتَوَفَّى عَنْهَا زَوْجُهَا لاَ تَلْبَسُ الْمُعَصْفَرَ مِنَ الثِّيَابِ وَلاَ الْمُمَشَّقَةَ وَلاَ الْحُلِىَّ وَلاَ تَخْتَضِبُ وَلاَ تَكْتَحِلُ

“Wanita yang meninggal suami janganlah memakai pakaian dicelup dengan mu’ashfar, jangan pula mengenakan mumasysyaqah,[9] janganlah ia memakai perhiasan, jangan mencat kukunya (kutek) dan jangan pula memakai celak.”[10]

Masih dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدْ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا أَفَتَكْحُلُهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا كُلَّ ذَلِكَ يَقُولُ لَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ وَقَدْ كَانَتْ إِحْدَاكُنَّ فِي الْجَاهِلِيَّةِ تَرْمِي بِالْبَعْرَةِ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ قَالَ حُمَيْدٌ فَقُلْتُ لِزَيْنَبَ وَمَا تَرْمِي بِالْبَعْرَةِ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ فَقَالَتْ زَيْنَبُ كَانَتْ الْمَرْأَةُ إِذَا تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا دَخَلَتْ حِفْشًا وَلَبِسَتْ شَرَّ ثِيَابِهَا وَلَمْ تَمَسَّ طِيبًا حَتَّى تَمُرَّ بِهَا سَنَةٌ ثُمَّ تُؤْتَى بِدَابَّةٍ حِمَارٍ أَوْ شَاةٍ أَوْ طَائِرٍ فَتَفْتَضُّ بِهِ فَقَلَّمَا تَفْتَضُّ بِشَيْءٍ إِلَّا مَاتَ ثُمَّ تَخْرُجُ فَتُعْطَى بَعَرَةً فَتَرْمِي ثُمَّ تُرَاجِعُ بَعْدُ مَا شَاءَتْ مِنْ طِيبٍ أَوْ غَيْرِهِ سُئِلَ مَالِكٌ مَا تَفْتَضُّ بِهِ قَالَ تَمْسَحُ بِهِ جِلْدَهَا

Seorang wanita dating menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya puteriku, suaminya meniggal. Kemudian ia mengeluhkan matanya sakit, bolehkah aku mencelakinya?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Tidak boleh!” Beliau ulangi dua kali atau tiga kali, beliau tetap mengatakan tidak boleh. Kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya masa berkabung baginya adalah empat bulan sepuluh hari. Sesungguhnya dahulu kaum wanita pada masa jahiliyyah membuang kotoran unta sesudah melewati masa berkabung satu tahun.”

Humaid berkata: “Aku bertanya kepada Zainab: ‘Apa maksud membuang kotoran unta sesudah  melewati masa berkabung satu tahun?’ Zainab berkata: ‘Dahulu kaum wanita apabila suaminya meninggal, maka ia memasuki gubuk kecil dan mengenakan pakaiannya yang paling jelek. Ia tidak memakai parfum atau apapun sampai setahun. Lalu dibawakan kepadanya seekor binatang, kadangkala keledai, atau kambing, atau burung. Lalu ia mengusap seluruh tubuhnya dengan binatang itu.[11] Jarang sekali binatang yang dipakai untuk mengusap tubuhnya itu dapat hidup (yakni pasti mati). Kemudian ia keluar dari gubuknya lalu diberikan kepadanya kotoran unta untuk dilemparkannya. Kemudian ia kembali seperti biasanya memakai perfume atau yang lainnya.’”[12]

Kandungan Bab:

  1. Seorang wanita muslimah boleh berkabung atas kematian seseorang selama tiga hari baik orang yang mati itu kerabatnya atau orang lain, namun hukumnya tidak wajib. Karena ulama sepakat sekiranya sang suami mengajaknya berhubungan badan, maka ia tidak boleh menolaknya.
  2. Berkabung atas kematian suami wajib selama empat bulan sepuluh hari, kecuali wanita hamil, maka berkabungnya adalah sampai melahrirkan.
  3. Apabila seorang wanita tidak berkabung atas kematian seseorang yang bukan suaminya untuk membuat ridha suaminya dan untuk memenuhi kebutuhan biologis suaminya, maka hal itu lebih afdhal bagi mereka berdua dan diharapkan akan mendatangkan kebaikan yang besar di balik itu. Dalilnya adalah hadits Ummu Sulaim dan suaminya, Abu Thalhah al Anshari, dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan dalam ash-Shahihain.
  4. Haram hukumnya atas wanita yang meninggal suaminya mengenakan pakaian-pakaian yang indah, memakai inai, bercelak, mengenakan perhiasan, dan memakai parfum.
  5. Syariat memberikan keringanan menggunakan wewangian saat mandi dari haidh untuk menghilangkan bau busuk dan membersihkan bekas-bekas darah, bukan untuk berhias.

Sumber: Ensiklopedi Larangan Menurut Al Quran dan As-Sunnah, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali ini, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii, Jilid II.


[1] Yakni sampai habis masa iddahnya.

[2] H.R. Al Bukhari (1280) dan Muslim (1486). Ada hadits lain yang menguatkannya dari Zainab binti Jahsy Radhiyallahu Anha yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim.

[3] H.R. Al Bukhari (1279) dan Muslim (938).

[4] H.R. Muslim (1491)

[5]  H.R. Muslim (1490)

[6] Kain yang berasal dari Yaman yang dipintal kemudian dicelup.

[7] Qusth dan azhfar adalah dua jenis tumbuhan yang diolah untuk parfum.

[8] H.R. Al Bukhari (313) dan Muslim (938)

[9] Pakaian yang dicelup dengan warna merah atau kuning.

[10] Hadits shahih diriwayatkanb Abu Dawud (2304), an-Nasai (VI/203-204), Ahmad (VI/302), al Baihaqi (VII/440), san Ibnu Hibban (4306) dan selainnya dengan sanad yang shahih.

[11] Ada yang mengatakan: “Ia mengusap qubulnya (kemaluannya) dengan binatang itu dan membersihkannya.” Adanyang mengatakan: ”Ia mengusap kulitnya dengan binatang itu.” Ada yang mengatakan: “Ia mengusap tangannya di atas punggung binatang itu.” Ada pula yang mengatakan:” Ia mandi dan membersihkan tubuhnya dari kotoran dengan binatang itu.”

[12] H.R. Al Bukhari (5334), dan Muslim (1488 dan 1489.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 4, 2013 by in Fiqih and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: