أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits Adzan di Telinga Bayi

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menulis dalam blognya mengenai kritik atas anjuran adzan di telinga bayi. Beliau menulis:

“….Hadits pertama:

Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ

“Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Hadits kedua:

Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

“Setiap bayi yang baru lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah). Ummu shibyan adalah jin (perempuan).

Hadits ketiga:

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,

أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد ، فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Penilaian Pakar Hadits Mengenai Hadits-Hadits di Atas

Penilaian hadits pertama:

Para perowi hadits pertama ada enam,

مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ

yaitu: Musaddad, Yahya, Sufyan, ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, ‘Ubaidullah bin Abi Rofi’, dan Abu Rofi’.

Dalam hadits pertama ini, perowi yang jadi masalah adalah ‘Ashim bin Ubaidillah.

Ibnu Hajar menilai ‘Ashim dho’if (lemah). Begitu pula Adz Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Ma’in mengatakan ‘Ashim dho’if (lemah). Al Bukhari dan selainnya mengatakan bahwa ‘Ashim adalah munkarul hadits (sering membawa hadits munkar).

Dari sini nampak dari sisi sanad terdapat rawi yang lemah sehingga secara sanad, hadits ini sanadnya lemah.

Ringkasnya, hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if).

Kemudian beberapa ulama menghasankan hadits ini seperti At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan. Kemungkinan beliau mengangkat hadits ini ke derajat hasan karena ada beberapa riwayat yang semakna yang mungkin bisa dijadikan penguat. Mari kita lihat hadits kedua dan ketiga.

Penilaian hadits kedua:

Para perowi hadits kedua ada lima,

حدثنا جبارة ، حدثنا يحيى بن العلاء ، عن مروان بن سالم ، عن طلحة بن عبيد الله ، عن حسين

yaitu: Jubaaroh, Yahya bin Al ‘Alaa’, Marwan bin Salim, Tholhah bin ‘Ubaidillah, dan Husain.

Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).

Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (hadits yang diriwayatkannya ditinggalkan).

Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.

Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadits.

Dari sini sudah dapat dilihat bahwa hadits kedua ini tidak dapat menguatkan hadits pertama karena syarat hadits penguat adalah cuma sekedar lemah saja, tidak boleh ada perowi yang dusta. Jadi, hadits kedua ini tidak bisa mengangkat derajat hadits pertama yang dho’if (lemah) menjadi hasan.

Penilaian hadits ketiga:

Para perowi hadits ketiga ada delapan,

وأخبرنا علي بن أحمد بن عبدان ، أخبرنا أحمد بن عبيد الصفار ، حدثنا محمد بن يونس ، حدثنا الحسن بن عمرو بن سيف السدوسي ، حدثنا القاسم بن مطيب ، عن منصور ابن صفية ، عن أبي معبد ، عن ابن عباس

yaitu: Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, Ahmad bin ‘Ubaid Ash Shofar, Muhammad bin Yunus, Al Hasan bin Amru bin Saif As Sadusi, dan Qosim bin Muthoyyib, Manshur bin Shofiyah, Abu Ma’bad, dan Ibnu Abbas.

Al Baihaqi sendiri dalam Syu’abul Iman menilai hadits ini dho’if (lemah). Namun, apakah hadits ini bisa jadi penguat hadits pertama tadi? Kita harus melihat perowinya lagi.

Perowi yang menjadi masalah dalam hadits ini adalah Al Hasan bin Amru.

Al Hafidz berkata dalam Tahdzib At Tahdzib no. 538 mengatakan bahwa Bukhari berkata Al Hasan itu kadzdzab (pendusta) dan Ar Razi berkata Al Hasan itu matruk (harus ditinggalkan). Sehingga Al Hafidz berkesimpulan bahwa Al Hasan ini matruk (Taqrib At Tahdzib no. 1269).

Kalau ada satu perowi yang matruk (yang harus ditingalkan) maka tidak ada pengaruhnya kualitas perowi lainnya sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan penguat bagi hadits pertama tadi.

Ringkasnya, hadits kedua dan ketiga adalah hadits maudhu’ (palsu) atau mendekati maudhu’.

Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa hadits pertama tadi memang memiliki beberapa penguat, tetapi sayangnya penguat-penguat tersebut tidak bisa mengangkatnya dari dho’if (lemah) menjadi hasan. Maka pernyataan sebagian ulama yang mengatakan bahwa hadits ini hasan adalah suatu kekeliruan. Syaikh Al Albani juga pada awalnya menilai hadits tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapat beliau ini sebagaimana beliau katakan dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321. Jadi kesimpulannya, hadits yang membicarakan tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah sehingga tidak bisa diamalkan.

Seorang ahli hadits Mesir masa kini yaitu Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini hafizhohullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah. Sedangkan suatu amalan secara sepakat tidak bisa ditetapkan dengan hadits lemah. Saya telah berusaha mencari dan membahas hadits ini, namun belum juga mendapatkan penguatnya (menjadi hasan).” (Al Insyirah fi Adabin Nikah, hal. 96, dinukil dari Hadiah Terindah untuk Si Buah Hati, Ustadz Abu Ubaidah, hal. 22-23).

……..” Selesai kutipan. [1]

Dari kesimpulan yang dibuat oleh al ustadz hadits kedua dan ketiga sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi kemardudannya[2]. Adapun hadits yang pertama dhaif karena dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah.

Mengenai hadits yang pertama ini ada sedikit permasalahan yang mengganjal. Ada seseorang yang berkomentar mengenai perawi ini bahwasanya Syaikh Al Albani Rahimahullah menshahihkan atau menghasankan hadits yang dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. Berikut daftar hadits yang dimaksud:

“…

Sunan Abu Daud 2750: Telah menceritakanØ kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari ‘Ashim bin ‘Ubaidullah dari Al Qasim dari Aisyah ia berkata; aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium Utsman bin Mazh’un sementara ia telah meninggal hingga aku melihat air mata beliau mengalir. (shohih menurut syaikh AlBani)

Sunan Abu Daud 3643: Tentang LARANGAN wanita menggunakan wangian ( shohih menurut albani)Ø

Sunan Abu Daud 4441: Tentang adzan ditelinga bayi (Dinilai hasan oleh syaikh Albani)Ø

Sunan Abu Daud 657: (Dianggap Dhoif syaikh Albani)Ø

Sunan Ibnu Majah 1446: (shohih menurut syaikh AlBani)Ø

Sunan Ibnu Majah 2878:_Sufyan binØ Uyainah dan Ubaidulloh bin Umar meriwayatkan dari Ashim._menyertakan haji dan umrah_( Hadist Shohih dan Syaikh Albani juga menshohihkannya)

Sunan Ibnu Majah 2916_Tentang Manasik. ( Yang meriwayatkan dari Ashim orang yang Dhoif juga)Ø

Sunan Ibnu Majah 1010_ ( Hasan by syaikh AlBani, ada yang Matrukul hadist yakni Asy’ad bin said meriwayatkan dari ashim )Ø

Sunan Ibnu Majah ,1535_ Tentang ziarah ke Baqi_(Shohih, InsyaAlloh)Ø

Musnad Ahmad 23036:_Tentang mencium jenazah.Ø

Musnad Imam Ahmad ,23288_doa berziarah .Ø

Musnad Imam Ahmad ,23335_ziaroh ke baqi.Ø

Musnad Ahmad 23151: _Tentang mencium jenazah.Ø

Musnad Ahmad 9558: _Tentang wanita memakai wangian_( sanadnya Hasan,InsyaAlloh)Ø

Musnad Ahmad 25933: Tentang adzan ditelinga bayi.Ø

Musnad Ahmad 25939: Tentang adzan ditelinga bayi.Ø

Musnad Ahmad 4893. _Syu’bah yang meriwayatkan darinya_Tentang Takdir.Ø

Musnad Ahmad 5224. _Syu’bah yang meriwayatkan darinya_Tentang Takdir.Ø

Musnad Ahmad 15125. _Syu’bah yang meriwayatkan darinya_Tentang Mahar.Ø

Musnad Ahmad 162._Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari Ashim_Tentang haji dan Umrah.Ø

Musnad Ahmad 15138. _Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ashim_Tentang Haji dan UmrahØ

Musnad Ahmad 15141. _ Syarik meriwayatkan dari Ashim _ Tentang Haji dan Umrah.Ø

Musnad Ahmad 15141. _ Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari Ashim _ Tentang Haji dan UmrahØ

Sunan Tirmidzi 1436: tentang Adzan ditelinga bayi ( hasan Shohih dan didhoifkan syaikh alBani)Ø

Sunan Tirmidzi no 1031_Syu’bah meriwayatkan dari Ashim _Tentang mahar sepasang sandal_(Hasan shohih menurut Imam Tirmidzi rh)Ø

Sunan Tirmidzi no 2061_Syu’bah meriwayatkan darinya ( Hasan Shohih, Shohih menurut Syaikh Albani)Ø

Sunan Tirmidzi 2882 ( di Hasankan  syaikh AlBani, ada yang Matrukul hadist yakni Asy’ad bin said)Ø

Sunan Tirmidzi 315 (diHasankan  syaikh AlBani, Tapi ada yang Matrukul hadist yakni Asy’ad bin said)Ø

Sunan Tirmidzi 657 _tentang bersiwak waktu puasa ( Hadist Hasan menurut Imam Tirmidzi)Ø

Sunan Tirmidzi 910_Tentang Rosul mencium jenazah Utsman bin Mazh’un (Hasan Shohih menurut Tirmidzi dan Shohih menurut AlBani)Ø

…..” selesai kutipan[3]

Mengenai hal ini, coba kita ambil hadits tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencium jenazah Utsman bin Mazh’un sebagai sample. di Sunan at-Tirmidzi, terbitan Maktabah al Ma’arif, ada di Kitab Janazah Bab tentang mencium mayyit, hadits no. 989. Di ekornya kita disuruh merujuk ke Sunan Ibnu Majah (no. 1456).[4]

Di Sunan Ibnu Majah dalam Kitab dan Bab yang sama pada hadits no. 1456. Di situ kita merujuk ke Al Misykat (no. 1623), Al Irwa’ (no. 693), Al Ahkam (hal 20-21), dan Mukhtashar Asy-Syama-il (no. 280).[5]

Al Misykat (Misykatul Mashabih) hadits no. 1623, dalam penjelasannya yang tercantum di catatan kakinya Syaikh Al Albani menjelaskan bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat Ashim yang dhaif, sebagaimana disebutkan Al Hafiz dalam At-Taqrib.[6]

Irwa’ al ghalil hadits no. 693, Syaikh mengutip perkataan Al Hakim, yang menyebutkan bahwa hadits tersebut populer di kalangan para imam, hanya saja syaikhani tidak berhujjah dengan dengan Ashim bin Ubaidillah, demikian juga dikatakan oleh Adz-Dzahabi. Syaikh Al Albani berkata bahwa Ashim dhaif sebagaimana disebutkan dalam at-Taqrib.[7]

Ahkamuljanaiz, di kitab yang saya punya hal. 31-32, cetakan Maktabah Ma’arif 1412/1992
Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (2/130) dan beliau menshahihkannya, al Baihaqi dan lainnya. Hadits ini memiliki syahid yang memiliki sanad hasan yang bersumber pada Majma’uz Zawaid (3/20), kemudian menjadi jelas bahwa dalam hadits tersebut ada dua kelemahan. Lihat Kasyful Asytar (1/383). Telah aku takhrij dalam Adh-Dhaifah (no. 6010).[8]

Dalam Adz-Dhaifah hadits no. 6010, dalam penjelasannya Syaikh al Albani menjelaskan:
“…Mengenai kisah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mencium Utsman bin Mazh’un, diriwayatkan Sufyan dan lainnya dari Ashim bin Ubaidillah dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah Radhiyalahu anha.

Dan Ashim ini dhaif, oleh karena itu aku mendhaifkannya dalam al Misykat, al Irwa’, dan lainnya. Akan tetapi aku telah menguatkannya dalam Ahkamul Janaiz (sebelum direvisi) dengan sanad hasan yang aku nukil dari Majmauz Zawaid riwayat dari Al Bazzar. Setelah terbit Zawaid Al Bazzar karya Al Haitsami yang dinamakan dengan Kasyful Asytar………….
Sekarang aku telah meneliti sanadnya, ternyata ada dua kesalahan dalam penilaian sanadnya menjadi hasan.

Pertama: aku belum mengetahui dhaifnya Ashim.

Kedua: Al Umari menyelisihi Sufyan Ats-Tsauri dalam sanadnya…dst.

Oleh karena itu aku telah rujuk dari pendapatku yang menguatkan hadits tersebut, dan akan dikeluarkan dari shahih Ibnu Majah dan lainnya.”[9] Selesai kutipan.

Kemudian, pemilik blog yang sama mengatakan:

“…Dalam hadist diatas Ashim bin Ubaidullah memang didhoifkan oleh ulama, akan tetapi yang meriwayatkan dari beliau adalah Syu’bah bin AlHajjaj bin Warad. (Beliau ini Tsiqoh Tsabat, Hafidz, Amirul Mukminin fil hadist Perawi kutubussittah, Ahmad, dan Darimi) dan Sufyan bin said bin Masruq ( Beliau ini Tsiqoh Hafidz Faqih, Perawi kutubussittah, Ahmad dan Darimi).

Sehingga dua orang yang Tsiqoh Imam telah meriwayatkan dari ashim, dan Syu’bah serta sufyan yang bertemu langsung dengan ashim lebih layak dan afdhol untuk diikuti karena beliau adalah pakar dan ahlinya dalam hadist, sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa beliau meriwayatkan dari ashim karena menganggap hadist diatas shohih.[10]

Mengenai pendapat ini, kalau ngga silap saya pernah membaca salah satu kaidah umum dalam jarh wa ta’dil, yakni adanya perawi tsiqah yang meriwayatkan dari seorang rawi tidak menunjukkan sebuah ta’dil bagi perawi tersebut.[11] Jadi walaupun ada satu atau lebih perawi tsiqah yang meriwayatkan dari ‘Ashim, tidak menunjukkan bahwa dia tsiqah. Belum tentu.

Jadi kesimpulannya mengenai ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, saya setuju dengan penjelasan ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah yang melemahkannya, sehingga haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah. Artinya kita tidak perlu mengadzankan bayi yang baru lahir.

Wallahu A’lam

Semoga bermanfaat.


[2] Lawan dari maqbul.

[5] Sunan Ibnu Majah, hal. 239, Maktabah Al Ma’arif (pdf)

[6] Misykatul Mashabih Tahqiq Nashiruddin Al Albani, hal. 509, Al Maktabah Al Islami (pdf)

[7] Juz 3, hal. 157, Al Maktabah Al Islami (pdf)

[8] hal. 31-32, Maktabah Ma’arif.

[9] Silsilah al Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, juz 13 hal. 27, Maktabah Al Ma’arif Riyadh (pdf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: