أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits Hasan Menurut Imam At-Tirmidzi

Berkata Ibnu Shalah: dan kami meriwayatkan dari at-Tirmidzi bahwasanya yang beliau maksud dengan hadits hasan adalah hadits yang tidak ada pada sanadnya perawi yang muttaham bil kadzb (dituduh berdusta), tidak ada syadz, dan diriwayatkan dari banyak jalan yang semisal dengannya.

Berkata Ibnu Rajab Al Hanbali: “adapun hadits hasan Imam at-Tirmidzi telah menjelaskan yang dimaksud dengan hadits hasan yaitu hadits yang hasan sanadnya.

Dan Ibnu Rajab menjelaskan hasan sanadnya (hasanul isnad) adalah dalam sanadnya tidak ada perawi yang muttaham bil kadzb, tidak syadz, dan diriwayatkan lebih dari satu jalan, maka setiap hadits yang seperti menurut at-Tirmidzi adalah hadits hasan.

Berdasarkan apa yang disebutkan oleh Imam at-Tirmidzi disimpulkan bahwa setiap hadits yang pada sanadnya ada perawi muttaham berarti tidak hasan, selain itu berarti hasan dengan syarat tidak syadz.

Sanggahan sebagian ulama dalam definisi ini: dua syarat pertama (tidak ada perawi muttaham dan tidak ada syadz) sesuai dengan syarat hadits shahih, yakni tidak ada perawi muttaham dan tidak ada syadz. Sementara syarat yang ketiga (diriwayatkan dari banyak jalan yang semisal dengannya) ini membedakan antara hadits shahih dan hasan karena hadits shahih tidak dipersyaratkan memiliki banyak jalan. Ada juga yang memberikan sanggahan lain yakni bahwasanya hadits hasan lidzatihi juga tidak dipersyaratkan memiliki banyak jalan dan disyaratkan adanya periwayatan perawi ‘adil dan dhabith, jika dhabithnya ringan. Ketika syarat pertama berdasarkan definisi at-Tirmidzi Rahimahullah mencakup para perawi yang tingkatannya di bawah perawi hadits hasan lidzatihi, maka maksudnya adalah tidak ada perawi muttaham dalam sanadnya. Maka hal ini keluar dari definisi hasan, dan definisi menurut at-Tirmidzi terbatas pada satu jenis saja yakni hadits hasan lighairihi (yang membutuhkan banyak jalan periwayatan agar kedhaifannya hilang seperti hadits mursal yang menjadi kuat dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama agar mencapai derajat hasan lighairihi dan bisa dijadikan hujjah, berbeda dengan hasan lidzatihi yang dari awal memang sudah hasan tanpa perlu jalur lain (sebagai penguat)) bahkan jika ada jalur lain yang menguatkan bisa terangkat ke derajat shahih lighairihi.

Syaikh Ahmad Syakir Rahimahullah mengomentari syarat harus ada banyaknya jalan, bahwasanya at-Tirmidzi Rahimahullah tidak bermaksud dalam penjelasan makna hadits hasan “dan diriwayatkan dari banyak jalan yang semisal dengannya” bahwa hadits itu sendiri diriwayatkan dari jalur-jalur yang lain dari shahabat, karena sekarang tidak lagi gharib. Sesungguhnya tidak dikatakan gharib jika diriwayatkan makna hadits tersebut dari shahabat lain, tidak bertentangan dengan keumuman hadits lain, atau yang semisalnya, yang dengan hal-hal tersebut mengeluarkannya dari kategori hadits yang syadz juga gharib.

Imam Ibnu Hajar berkata tentang hadits hasan menurut Imam at-Tirmidzi, beliau berkata: “Jika dikatakan: ‘at-Tirmidzi telah menjelaskan bahwa syarat hadits hasan adalah diriwayatkan dari banyak jalan, maka apa maksudnya perkataannya pada banyak hadits: “hasan gharib”, “laa na’rifuhu illa min hadzal wajhi”?’”

Jawabnya: bahwasanya at-Tirmidzi tidak mendefinisikan hadits hasan secara mutlak, beliau hanya memberikan definisi pada jenis yang khusus hadits yang ada dalam kitabnya, yaitu apa yang beliau katakan: “hasan”, tanpa tambahan sifat lain, yang demikian itu bahwasnya: beliau berkata dalam sebagian hadits-hadits “hasan”, dan pada bahagian yang lain “shahih”, dan pada hadits lain “gharib”, dan hadits lain “hasan shahih”, dan pada hadits lain “hasan gharib”, dan pada hadits lain “shahih gharib”, dan pada hadits lain “hasan shahih gharib”.

At-Tirmidzi memberikan definisi hanya pada yang pertama, dan pernyataannya menunjukkan pada hal tersebut, dimana beliau berkata dalam akhir kitabnya: apa yang kami katakan dalam kitab kami: “hadits hasan”, yang kami maksud adalah hasan sanadnya adalah setiap hadits yang diriwayatkan yang pada sanadnya tidak ada perawi muttaham, diriwayatkan tidak hanya dari satu jalan, dan tidak syadz, itulah hasan menurut kami.

Setelah meneliti perkataan para ulama dan hadits-hadits yang dihukumi hasan oleh at-Tirmidzi, jelaslah bahwasanya hukum hasan ini tidak menunjukkan penerimaan maupun penolakan, dan tidak ada kelemahan (dhaif) dan at-Tirmidzi menamakannya dengan “hasan” saja. Dan kadang sebagian ulama keliru dengan dengan memutlakan istilah dari imam at-Tirmidzi ini dan mengira bahwa yang dimaksud adalah istilah hasan menurut ahli musthalah hadits, padahal tidak demikian.

Sumber: al Jami’ wa manhaj at-Tirmidzi fiih (pdf), hal. 15-17. Link download: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/attachment.php?attachmentid=85429&d=1307101644

One comment on “Hadits Hasan Menurut Imam At-Tirmidzi

  1. midazortega
    Agustus 8, 2012

    dari artikel di atas, juga dari penjelasan dari al Ustadz Abu Ihsan al Atsary, istilah hasan menurut imam at-Tirmidzi maksudnya adalah hasan lighairihi. wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 8, 2012 by in Hadits and tagged , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: