أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Ibnu Rahuyah atau Ibnu Rahawaih

إسحاق بن راهوية

Nama tersebut membuat saya penasaran selama ini karena adanya perbedaan dalam membacanya. Pertama kali saya mendengar atau membaca ada yang menulis dengan Ibnu Rahawaih, tetapi kemudian Ustadz Abu Ihsan, dalam banyak kesempatan sering menyebut dengan Ibnu Rahuyah. Kebetulan di kitab Taysir Musthalah al Hadits yang beliau bacakan mencantumkan tanda dhammah di atas huruf haa’. Jadi mana yang benar, Ibnu rahawaih atau Ibnu Rahuyah? Pertanyaan ini senantiasa mengganjal dalam benak saya.

Dalam Taqribut Tahdzib disebutkan sebagai berikut:

 

Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad al Hanzhali, Abu Muhammad bin Rahuyah (dengan mendhammahkan huruf haa’) al Marwazi: Tsiqah Hafizh Mujtahid, sahabat Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud menyebut bahwa Ibn Rahuyah sedikit berubah hafalannya (mukhtalith) sebelum meninggal.[1]

Sementara dalam Tahdzibut Tahdzib,[2] disebutkan sebagai berikut:

….dikenal dengan Ibnu Rahawaih (memfathahkan huruf haa’) al Marwazi…

Saya mendapatkan informasi dari al Akh al Fadhil[3] bahwa hal ini dibahas dalam kitab Tadrib ar-Rawi, yakni adanya perbedaan bacaan antara ahli hadits dan ahli bahasa. Belum sempat saya cek ke kitab tersebut, saya mendapatkan bantuan dari “syaikh” Google dengan mengarahkan ke forum yang di dalamnya ada trit yang membahas hal tersebut:

Az-Zarkasyi berkata dalam Nukatnya 1/129, راهويه bisa dibaca dengan menfathahkan ha’ dan ya’ dan mensukunkan ya’. Boleh juga mendhammahkan ha’ dan mensukunkan wawu dan memfathahkan ya, yang kedua inilah yang terpilih. Diriwayatkan dari al Hafizh Jamaluddin al Mizzi, bahwasanya beliau berkata: ghalibnya di kalangan muhadditsin فعلويه  dibaca dengan mendhamahkan huruf sebelum wawu, kecuali راهويه ghalibnya dengan memfathahkan huruf sebelum wawu.

Lihat al Ansab 3/37, Siyar A’lam an-Nubala 11/358, dan Tadribur Rawi 1/338.

Adapun maknanya, az-Zarkasyi berkata 1/131: ketahuilah bahwa راهويه merupakan laqab dari kakeknya, dinamakan demikian karena lahir di jalan. الرهو Artinya jalan, tapi bapaknya ngga suka dengan nama itu. Dan lihat Tahdzibul Kamal 1/176.

Dalam bahasa persia,   راه artinya jalan, dan ويه artinya bau. Seperti Sibawaih (سيبويه), سيب artinya buah, ويه artinya bau.[4]

Mudah-mudahan di lain waktu ada kesempatan untuk melihat langsung ke kitab-kitab di atas yang menjadi rujukan, atau mungkin di antara pembaca ada yang sudi mengoreksi atau menambahkan.

Semoga bermanfaat.


[1] Taqribut Tahdzib, Hal. 40, Muassasah ar-Risalah, pdf.
[2] Juz I, hal. 112, Maktabah Tahqiq at-Turats fi Muassasah ar-Risalah, pdf.
[3] Tidak saya sebutkan namanya, tapi insya Allah bila ybs tahu bila membaca artikel ini.

[4] http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=57394

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 11, 2012 by in Hadits and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: