أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Nasihat Wahab bin Munabbih Kepada Seseorang yang Terpengaruh Faham Khawarij

Riwayat[1] ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu ‘Asakir dalam Tasrikh Dimasyq, Imam Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, dan Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar al A’lam an-Nubala, mengenai seseorang yang mendapatkan hidayah sunnah dan selamat dari bid’ah khawarij. Seseorang yang dimaksud di sini adalah Abu Syamr Dzu Khaulan.

Dari Ali bin al Madini, Syaikh al Bukhari berkata bahwasanya Hisyam bin Yusuf Ash-Shan’ani Abu Abdirrahman qadhi Shan’a[2] mengabarkan kepadanya bahwa Dawud bin Qais berkata: “Aku memiliki seorang teman dari keluarga Khaulan dari Hadhur yang bernama Abu Syamr Dzu Khaulan.” Daud bin Qais kemudian berkata: “Aku berangkat dari Shan’a menuju kampung halaman Abu Syamr (Hadhur). Ketika aku sudah mendekati kampung tersebut, aku menemukan sebuah surat yang pada sampulnya tertulis ditujukan kepada Abu Syamr Dzu Khaulan. Aku mendatanginya dan kudapati dia dalam kondisi murung dan sedih. Maka Aku bertanya apa gerangan yang menimpa dirinya, dia pun menjawab bahwa telah datang utusan dari Shan’a yang memberitahukan bahwa teman-temannya di Shan’a telah menulis sebuah surat, tapi utusan itu menghilangkannya. Dia telah mengirimkan budak-budaknya untuk mencarinya dari Hadhur sampai Shan’a, tapi mereka tidak menemukannya. Maka dia pun merasa kecewa berat karenanya.”

Aku (Daud bin Qais) berkata kepadanya (Abu Syamr), “Inilah suratmu, aku telah menemukannya.” Dia pun berkata, “Alhamdulillah, kamu telah menemukannya.”

Dia membuka surat itu kemudian membacanya. Aku berkata, ”Bacakanlah surat itu kepadaku!” Dia berkata, ”Kamu terlalu muda untuk mengetahui isi surat ini.” Aku berkata, ”Apa rupanya isinya?” Dia menjawab, “Potong leher.” Aku berkata, “Barangkali sekelompok orang dari kaum Harura menulis surat ini berkaitan dengan hartamu.” Dia berkata, “Darimana engkau tahu tentang mereka?” Aku berkata: “Aku dan teman-temanku sering duduk di majelis Wahab bin Munabbih, dia sering memperingatkan kami, para pemuda, agar berhati-hati dengan kaum Harura. Jangan sampai mereka menarik kalian kepada pemikiran meraka yang sesat,[3] mereka adalah ibarat penyakit di umat ini.” Dia menyerahkan suratnya kepadaku, lalu aku membacanya, ternyata isinya:

Dengan menyebuat nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami memuji kepada Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, kami mesanasihatkan kepadamu agar senantiasa bertaqwa kepada Allah semata, tidak ada sekutu baginya. Sesungguhnya agama Allah adalah bimbingan dan hidayah di dunia dan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Dan sesugguhnya agama Allah adalah ketaatan kepada Allah dan menyelisihi orang-orang yang menyelisihi sunnah Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam dan syariat-Nya. Apabila datang surat kami ini kepadamu, maka segeralah membayar zakat harta yang Allah wajibkan terhadap anda

nisacaya kamu berhak mendapatkan perlindungan dari Allah dan wali-walinya. Wassalamualaikum warahmatullah[4]

Aku berkata kepadanya, “Aku memperingatkan kepadamu supaya tidak memenuhi permintaan mereka.” Dia berkata, “Bagaimana aku mengikuti saranmu dan meninggalkan saran orang-orang yang lebih senior dari kamu?”

Aku berkata: “Apakah kau ingin kupertemukan dengan Wahab bin Muanabbih agar kamu dapat mendengar nasihatnya dan menceritakan kepadamu tentang kaum Harura?” Dia menjawab, “Ya.” Kemudian aku pun pergi bersamanya ke Shan’a, kemudian kami menemui Wahab bin Munabbih.

Ali bin Al Madini berkata bahwa dia adalah Urwah bin Muhammad bin ‘Athiyyah as-Sa’di…….kamu jumpai orang-orang yang mengikuti majelis Wahab bin Munabbih. Mereka bertanya kepadaku, “Siapakah orang tua ini?” Aku jawab, “Ini Abu Syamr Dzu Khaulan dari Hadhur. Dia memiliki keperluan dengan Abu Abdullah. Mereka berkata, maukah kau menyebutkan apa keperluanya?” aku berkata, “Dia ingin berkonsultasi dengan  Wahab bin Munabbih mengenai keperluan pribadinya.” Kemudian orang-orang yang duduk di majelis Wahab bin Munabbih pun bangkit meninggalkan mejelis tersebut.

Maka Wahab bin Munabbih bertanya kepada Dzu Khaulan, “Apa keperluanmu wahai Dzu Khaulan?” Dzu Khaulan ciut nyalinya dan takut untuk menjawab. Maka Wahab bin Munabbih memintaku untuk mengutarakan keperluan Dzu Khaulan.

Aku pun berkata, “Baiklah wahai Abu Abdillah[5], Dzu Khaulan berasal merupakan Ahli Qur’an dan orang baik-baik menurut yang aku ketahui, wallahu a’lam dengan apa yang ada dalam hatinya. Dia memberitahuku bahwa dirinya didatangi oleh sekelompok orang dari Shan’a dari kaum Harura, dimana mereka berkata kepadanya bahwa zakat yang diberikannya kepada pemerintah itu tidak sah karena mereka tidak menyerahkannya kepada yang berhak. Mereka memintanya untuk memberikan zakatnya kepada mereka supaya mereka bisa memberikannya kepada yang berhak dan mereka akan menegakkan hukum Allah. Saya lihat, nasihat anda kepadanya lebih meyakinkan daripada nasihatku, dia memberitahuku bahwa zakat yang diberikannya kepada kam khawarij adalah satu hektar wajib dikeluarkan darinya satu faraq buah-buahan yang dibawa oleh hewan tunggangan bersama budak-budaknya.”

Maka Wahab bin Munabbih berkata, “Wahai Dzu Khaulan, maukah engkau menjadi Harura (khawarij) setelah engkau tua nanti? Engkau menuduh orang-orang yang lebih baik dari engkau sebagai orang yang sesat. Apa yang engkau katakan kepada Allah kelak di hadapan orang yang engkau tuduh sesat tersebut? Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengolongkan mereka sebagai orang yang beriman sementara engkau menggolongkan mereka sebagai orang kafir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan bahwa mereka mendapat petunjuk sementara engkau menuding mereka sebagai orang-orang yang sesat. Bagaimana jika pendapatmu bertentang dengan pendapat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan kesaksianmu bertentangan dengan kesaksian Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wahab bin Munabbih berkata, “Beritahukanlah kepadaku apa yang mereka katakan kepadamu wahai Dzu Khaulan!” Dzu Khaulan menjawab, “Mereka menyuruhku agar tidak menyerahkan zakatku kecuali kepada orang yang sejalan dengan mereka dan tidak memintakan ampunan kecuali bagi mereka.”

Wahab bin Munabbih berkata, “Engkau benar, inilah ultimatum mereka yang penuh dengan kebohongan. Adapun perkataan mereka tentang zakat, telah sampai kepadaku sebuah hadits bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bercerita tentang seorang wanita dari Yaman yang masuk neraka karena kucing yang diikatnya, dia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya untuk mencari makan di muka bumi. Manakah yang lebih disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk diberi makan karena lapar apakah seorang manusia yang menyembah, mengesakan, dan tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ataukah seekor kucing? Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersabda dalam kitab-Nya:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan.Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.(Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).’ (Al Insan: 8-22). Adapun perkataan mereka bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan memberi ampunan kecuali kepada orang yang memiliki pandangan yang sama dengan mereka, apakah mereka lebih baik dari para malaikat? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Haammim ‘ain sin qaf: ‘para malaikat bertasbih dengan memuji Rabb-nya dan memohonkan ampunan bagi semua orang di muka bumi.’

Dan aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahwasanya para Malaikat melakukan hal tersebut berdasarkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.’ (Al Anbiya: 27). Ayat ini dikuatkan dengan surat Haamim ‘Ain Sin Qaf ditafsirkan dengan surat Haamim al Kubra. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman: ‘Para malaikat yang memikul ‘arsy dan para malaikat yang berada di sekitarnya bertasbih dengan memuji Rab-nya dan mereka beriman kepada-Nya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman.’(Ghafir:7)

Tidakkah kau ingat wahai Dzu Khaulan, aku (Wahab) telah melihat permulaan Islam, demi Allah, tidaklah kaum khawarij ini memiliki jamaah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencerai–beraikan mereka dalam kondisi yang sangat buruk dan tidaklah salah satu dari mereka menyampaikan pendapatnya kecuali dipenggal leher mereka.

Dan umat tidak pernah bersepakat mengangakat seorang Khawarij menjadi pemimpin, kalaulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kekuatan kepada mereka untuk melaksanakan pendapat mereka, niscaya rusaklah bumi ini, jalan-jalan akan disabotase, perjalanan haji ke Baitullah al haram akan terputus. Wal hasil, umat Islam akan kembali ke masa jahiliyyah, sehingga mereka kembali meminta pertolongan dengan puncak-puncak gunung seperti yang pernah dilakukan pada masa jahiliyah.

Akan muncul 10 atau 20 orang, setiap orang akan mengklaim dirinya sebagai khalifah, setiap orang diikuti lebih dari 10.000 tentara dimana mereka akan saling berperang dan saling memvonis kafir, sehingga orang mukmin khawatir akan keselamatan diri, agama, harta, darah, keluarga, dan hartanya, dia tidak tahu kemana atau kepada siapa (yang bias dipercaya) dia akan pergi.

Akan tetapi dengan hikmah, ilmu, dan rahmat-Nya, Allah melihat kaumnya dengan belas kasih, Allah menyatukan dan memadukan hati mereka sehingga dapat sepakat mengangkat pemimpin bukan dari golongan khawarij.

Maka itulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga darah mereka, menutup aurat mereka dan anak keturunan mereka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatukan barisan mereka yang tercerai berai dan menciptakan keamanan di negeri mereka. Merea pun dapat memerangi musuh-musuh mereka, menegakkan hukum-hukum Allah, mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi, dan memerangi orang-orang zhalim sebagai rahmat bagi mereka.

Bersambung ke bagian ke-2 


[1] disampaikan oleh Al Ustadz Abu Ihsan Al Atsari hafizhahullah dalam kajian (rutin) hari Sabtu tanggal 5 Mei 2012 ba’da Isya’ di Masjid Mukhlisin, Jl. Eka Wali Pribadi, Medan Johor, di kota Medan. Saya tuliskan di sini apa yang saya dapat dari kajian tersebut dengan beberapa tambahan.

[2] Sebuah kota di Yaman.

[3]Bukan bergabung, di sini disebutkan masuk ke pemikiran mereka.Perkara bergabung itu perkara yang mudah, kalau pemikiran sudah merasuk, mudah saja untuk kemudian bergabung.

[4]Khawarij melarang menyerahkan zakat kepada waliyyul amri.

sementara ahlussunnah wal jamaah berpendapat bahwa lebih afdhal menyerahkan zakat kepada waliyul amr, walaupun boleh menyerahkan langsung kepada orang yang berhak. (lihat syarhussunnah lil Imam Ahmad)

[5] Kunyah Wahab bin Munabbih

One comment on “Nasihat Wahab bin Munabbih Kepada Seseorang yang Terpengaruh Faham Khawarij

  1. Ping-balik: Nasihat Wahab bin Munabbih Kepada Seseorang yang Terpengaruh Faham Khawarij (bag. ke-2) « أبوفقيه Amaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: