أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Makna Halal dan Haram

Fatwa Nomor 17706

Pertanyaan:

Apakah yang dimaksud dengan haram dan halal dalam Islam?

Jawab:

Halal dan haram adalah dua hukum syar’i[1] yang diambil dari Al Quran dan Sunnah[2] Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Setiap orang yang beriman wajib meyakini dengan tegas keharaman sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meyakini kehalalan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Karena keyakinan ini menjadi sebab masuknya seorang mu’min ke dalam surga sebagaimana disebutkan dalam hadits:

أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم فقال أرأيت إن أحللت الحلال وحرمت الحرام أأدخل الجنة قال نعم

“Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, di berkata: ‘Apa pendapat anda jika saya menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, apakah saya akan masuk surga?’ Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab:’ya’.” (Muslim, Ahmad, Abu Ya’la, dan Ibnu Mandah)[3]

Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh menghalalkan yang haram sekehendak hatinya, karena hal itu salah satu perbuatan yang sangat diharamkan. Allah Ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(Al A’raf: 33)[4]

Allah Ta’ala juga bersabda:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (An-Nahl: 116)[5]

Kaum muslimin telah bersepakat bahwa orang yang menghalalkan sesuatu yang haram secara dharuri[6], seperti orang yang menghalalkan zina, riba, atau khamr. Hal itu merupakan kekufuran dan keluar dari agama Islam.

Demikian juga orang yang mengharamkan sesuatu yang halal secara dharuri, seperti orang yang mengharamkan daging (yang halal), roti, dan lainnya, berarti telah kufur terhadap syariat Allah dan keluar dari Islam.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiqnya, dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi

Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz

 

Anggota: Syaikh Abdulllah bin Ghudayan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid

diterjemahkan dari sumber dengan penambahan catatan kaki.


[1] Hukum Syar’i dibagi tiga, yakni: taklifi, takhyiri, dan wadh’i. taklifi maksudnya khithab (kalam) berkaitan dengan perintah, larangan, anjuran. Takhyiri artinya memilih untuk melakukan atau tidak melakukan. Sedangkan wadh’i berkiatan dengan sebab, syarat, rukun, mani’ (penghalang), dan lain-lain. Berarti haram masuk ke dalam kategori taklifi, karena berupa larangan. Haram atau tahrim merupakan larangan yang bersifat tegas. Berbeda dengan makruh yang juga berupa larangan tetapi tidak bersifat tegas. Ahnaf (ulama-ulama yang bermazhab Hanafi) membagi makruh menjadi tanzih dan tahrim. Makruh tahrim menurut mereka adalah larangan yang bersifat tegas seperti haram. Perbedaannya menurut mereka, tahrim ditetapkan dengan dalil yang qath’i dalalah dan tsubut-nya, sedangkan makruh tanzih ditetapkan dengan dalil yang qath’i dalalh tapi zhanni tsubutnya, atau sebaliknya. Sedangkan jumhur (3 imam lainnya) tidak membedakan antara keduanya. Adapun makruh tanzih maknanya sama dengan makruh menurut jumhur.

Sementara itu, halal, termasuk dalam kategori hukum takhyiri (al ibahah). Yaitu, apa yang diizinkan oleh syari’ untuk dilakukan atau ditinggalkan, tidak berkaitan dengan celaan atau pujian bagi pelakunya. Wallahu ‘alam (Lihat Talkhish al Ushul, Syaikh Hafizh Tsanaullah Az-Zahidi)

[2] Sunnah dalam lingkup fiqih termasuk dalam hukum taklifi, yakni mandub, artinya sesuatu yang diperintahkan secara syar’i tanpa adanya celaan bagi orang yang meninggalkannya. Tetapi dalam konteks kalimat di atas, yakni apabila ditemukan istilah al Quran dan sunnah, maka sunnah tidak termasuk kategori hukum syar’i yang barusan kita bahas karena tidak masuk ke dalam ilmu fiqih. Sunnah di sini maksudnya adalah hadits.

Lain lagi jika kita mendefinisikan sunnah dalam konteks yang lebih luas lagi, yakni jika kita mendengar istilah ahlu sunnah wal jamaah. Atau kadang anda mungkin sering mendengar orang berkata: “…oh dia orang sunah itu”, maksudnya orang yang berpegang atau berjalan di atas sunnah. Sunnah yang dimaksud dalam konteks ini adalah sunnah dalam pengertian yang paling luas, yakni setiap perkara yang sejalan dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam serta para sahabatnya baik perkara I’tikad maupun ibadah, dan lawannya adalah bid’ah. Hal ini pernah dijelaskan dalam kajian kitab “Kun Salafiyyan ‘alal Jaaddah” karangan Syaikh Abdussalam bin Salaim as-Suhaimi. Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Jadilah Salafi Sejati”. Untuk penjelasan yang lebih detil, anda bisa baca artikel di link ini: http://abuzubair.wordpress.com/2008/12/17/pengertian-sunnah/

Wallahu a’lam

[3] Dalam syarah Hadits Arba’in hadits ke-22 dari artikel haditsweb versi 5.0 disebutkan:

Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdullah Al-Anshori radhiyallahu ‘anhu. Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa pendapatmu bila aku telah sholat lima waktu, berpuasa Ramadhan, aku menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah amalan selain itu, apakah aku akan masuk surga?” Nabi menjawab, “Ya” (HR Muslim)

Masuk Surga

Apabila sebuah amalan dikatakan bahwa pelakunya masuk surga maka maksudnya:

  1. Amalan tersebut merupakan sebab masuknya dia ke surga setelah memenuhi seluruh syarat dan ternafikanya seluruh mawani’ (penghalang).
  2. Melakukan amal tersebut dengan dilandasi tauhid.

Masuk surga ada dua makna, yaitu:

  • Langsung masuk surga tanpa masuk neraka sama sekali.
  • Masuk surga setelah sebelumnya masuk neraka.

Tidak masuk surga ada dua makna, yaitu:

  • Tidak masuk surga sama sekali.
  • Tidak langsung masuk surga.

Menghalalkan Yang Halal Dan Mengharamkan Yang Haram

Menghalalkan yang halal maknanya adalah, meyakini halalnya semua yang dihalalkan Allah Ta’ala. Termasuk yang dihalalkan Allah Ta’ala semua yang diwajibkan, yang disunahkan dan yang mubah. Mengharamkan yang haram maknanya adalah, meyakini haramnya semua yang diharamkan Allah Ta’ala dan meninggalkannya. Dengan demikian barang siapa menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram dengan makna seperti tersebut di atas, dan konsekuen pasti masuk surga.

[4] Al Quran Digital versi 2.1

[5] ibid

[6] Wajib diketahui oleh semua orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: