أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Haruskah Kita Curhat?

Hari Ahad kemarin saya menemukan satu faidah dari kajian yang disampaikan ustadzuna Abu Ihsan hafizhahullah. Inti dari kajian yang dibahas hari Ahad kemarin sebenarnya adalah anjuran berdoa perlindungan dari cobaan yang berat, pedihnya kesengsaraan, keputusan yang jelek, dan kebahagiaan para musuh. Doa lengkapnya sebagai berikut:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلَاءِ وَدَرَكِ الشَقَاءِ وَسُوْءِ القَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

Min jahdil bala, boleh juga dibaca juhdil bala, demikian juga darakisy-syaqaa boleh dibaca darkisy-syaqaa.

Doa ini diriwayatkan oleh al Imam Al Bukhari dan al Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنِي سُمَيٌّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَيَتَعَوَّذُ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

 

Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Ash-Shahih Kitab ad-Da’awat, Bab at_Ta’awwudz min Jahdi al Bala.[1]

Sementara Al Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya Kitab adz-Dzikri wad-Du’a wat-Taubati wal Istighfar…, Bab at-Ta’awwudz min Su-il Qadha…:[2]

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي سُمَيٌّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ وَمِنْ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ وَمِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ

Syaikh Abdurrahman as-Suhaim menjelaskan beberapa hal tentang doa di atas yakni:

“Yang dimaksud dengan jahdil balaa adalah semua kesulitan besar yang menimpa seseorang, yang tidak bisa ditanggung dan tidak bisa ditolak. Ada juga yang mengatakan bahwa jahdil balaa adalah sedikit harta dan banyak tanggungan, demikian seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma….ada juga yang mengatakan bahwa jahdil balaa adalah sesuatu yang menyebabkan orang lebih memilih mati.

Sedangkan darakisy-syaqaa bisa terjadi dalam perkara dunia maupun perkara akhirat, demikian juga su-ul qadha bersifat umum mencakup jiwa, harta, keluarga, anak, akhir kehidupan, dan tempat kembali di akhirat….[3]

Nah, bagi seorang muslim mendapatkan cobaan-cobaan di atas, yakni jahdil balaa, darakisy-syaqaa, su-ul qadha, dan syamatatul a’da, jalan keluarnya adalah sabar. Walaupun sabar adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sangat berat untuk dilaksanakan. Selain itu menumpahkan isi hatinya hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu bagaimana jika seorang muslim yang ditimpa cobaan justru curhat kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Saya menemukan tulisan dalam sebuah artikel yang mencoba menjelaskan definisi curhat sebagai berikut:

“…Mungkin untuk memudahkan, saya kasih terjemahan bebas curhat yang kira-kira artinya  adalah mengeluarkan (mencurahkan) isi hati. Bisa kepada seorang teman, rekan kerja, kekasih, sahabat orang tua maupun dengan orang yang dipercaya. Ada juga yang mengeluarkan isi hatinya ini dengan menulisnya ke dalam Diary atau buku harian atau di era moderen ini di ketik langsung ke dalam Notebook dan disimpan di file tersembunyi supaya tidak bisa dibaca orang lain. Orang yang lebih religius ada juga yang curhat ke Tuhan. Memohon petunjuk…”[4]

Tulisan tersebut hanya untuk membantu memahami makna dari curhat. Orang-orang biasa menumpahkan keluh kesahnya kepada orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, abang atau kakak, adik, teman dekat, atau ustadz. Ustadz Abu Ihsan mengatakan bahwa cobaan itu rahasia antara Allah Azza wa Jalla dan hambanya, yang seharusnya tidak disebarluaskan kepada orang lain. Sisi negatifnya adalah keluarga atau teman akan merasa kasihan, dan tentunya musuh-musuh kita akan tertawa, bahagia melihat kesusahan kita.

Kalau ada pertanyaan, apakah kita punya musuh, tentunya kita punya musuh, minimal musuh kita adalah syaitan.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S. Fathir: 6)

Lalu apa hukum curhat?

Dalam situs Islamqa.com yang diasuh oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid ada seseorang yang bertanya tentang curhat:

“Apa hukum orang yang mengeluhkan kondisinya kepada selain Allah setelah mengadukannya kepada Allah Azza wa Jalla. Karena jiwa orang tersebut merasa sesak ketika mendapatkan cobaan. Apakah ia boleh mencari hiburan dari hamba Allah yang lain, untuk dapat mengeluarkan mereka dari beban yang menghimpit dada mereka. Bisa dengan cara meminta nasihat atau bimbingan dari mereka. Atau yang demikian itu menunjukkan ketidakpercayaan dirinya terhadap Allah yang akan memperkenankan doa mereka?”

Syaikh menjawab:

“Al-Hamdulillah. Memberitahukan kepada sesama makhluk kondisi diri sendiri, apabila dengan tujuan untuk meminta tolong, meminta bimbingan atau menjadikannya sebagai perantaraan menghilangkan kesusahan tidaklah merusak nilai kesabaran. Seperti orang sakit yang mengadu kepada dokter tentang sakit yang dideritanya, atau orang yang dizhalimi mengadu kepada orang yang mampu menolongnya, atau orang yang tertimpa musibah mengabarkan penderitaannya kepada orang yang diharapkan mampu membebaskannya dari kesulitan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri apabila datang menjenguk orang sakit beliau menanyakan kondisinya: “Bagaimana kondisinya sekarang?” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya.) An-Nawawi menyebutkan: “Sanadnya bagus. Dalam hadits itu disebutkan bahwa beliau menanyatakan berita dan kondisi si sakit.” Silakan lihat Iddatush Shabirin oleh Imam Ibnul Qayyim 323. Wallahu A’lam.

Kitab Masa-il wa Rasaa-il oleh Muhammad Mahmud An-Najdi”.[5]

Kesimpulan dari fatwa tersebut adalah, tidak dianjurkan untuk curhat untuk meminta bimbingan atau menghilangkan kesusuhan kepada orang yang tidak bisa memberikan solusi, orang sakit mengadu kepada selain dokter, mengadukan kezaliman orang kepada orang yang tidak bisa menolongnya, menceritakan musibah atau penderitaan kepaad orang yang tidak mampu membebaskannya dari kesulitan.

Selain tidak akan memberikan solusi atas permasalahannya, hal itu juga bisa mengakibatkan menyebarnya masalah kepada banyak orang, tentunya mereka akan memiliki respon berbeda ketika mengetahui permasalahan kita, ada yang simpati, ada pula yang mencemooh, bahkan kegirangan.

Satu hal lagi yang mungkin berkaitan dengan kemajuan teknologi, yakni adanya situs-situs jejaring sosial, atau program-program yang memungkinkan untuk chatting. Tidak jarang pengguna situs-situs tersebut memanfaatkanya untuk curhat dengan menuliskan isi hatinya di wall-nya, sehingga semua temannya baik laki-laki maupun perempuan bisa membacanya. Atau melakukan chatting dengan teman chattingnya bahkan dengan teman chattingnya yang berlawanan jenis kelamin, yang akhirnya memancing syaitan untuk memasang jeratnya.

Wallahu A’lam

Demikian semoga bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: