أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Mengajak Anak-anak ke Masjid

Sebagian orang membawa anak-anaknya yang belum mumayyiz ke masjid. Mereka belum bisa mengerjakan shalat dengan balk. Mereka berdiri berbaris bersama jama’ah. Namun sebagian anak-anak itu bermain dan mengganggu orang sekitarnya. Bagaimana hukumnya hal tersebut? Apa nasehat Syaikh kepada orangtua anak­-anak tersebut?

Jawab: Menurut hemat saya, membawa anak-anak yang akan mengganggu jama’ah shalat tidak boleh. Karena hanya akan menyakiti jama’ah yang sedang menunaikan kewajiban dari Allah ‘Azza Wa Jalla. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mendengar beberapa sahabat yang sedang shalat, bersuara keras dalam membaca qira’ah, maka beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَهْجُرَنَّ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي القِرَاءَةِ

“Janganlah sebagian kalian bersuara melebihi orang lain dalam membaca ayat.”

Jadi, segala sesuatu yang dapat mengganggu jama’ah shalat tidak boleh dilakukan oleh siapapun.

Nasehat saya kepada orang tua, sebaiknya tidak menyertakan anak-anak ke masjid. Hendaklah mereka berpegang pada petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ فِي الصَّلَاةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا ِلعَسْرٍ

 

Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat sewaktu berumur 7 tahun. Dan pukullah mereka jika tidak mau melakukannya sewaktu berumur 10 tahun.

Demikian juga saya pesan kepada pengurus masjid agar berlapang dada dan tidak menghalangi anak-anak datang ke masjid sepanjang diperbolehkan oleh syari’at. Dan tidak mengusir mereka dari tempatnya, karena siapa saja yang lebih dahulu mengambil tempat, maka dialah yang paling berhak mendapatkannya, balk anak­-anak atau orang dewasa. Karena. itu, mengusir anak­-anak dari tempat shalat mereka mengandung unsur:

  • Perampasan hak, karena seorang Muslim manapun yang mendahului orang lain, maka dia orang yang paling berhak meraihnya.
  • Menyebabkan trauma pada anak untuk kembali mendatangi masjid.
  • Akan menanamkan rasa dengki anak terhadap orang yang mengusirnya dari tempat semula.
  • Anak-anak akan berkumpul menjadi satu, sehingga mereka melakukan permainan dan menyebabkan gangguan terhadap jamaah yang sebenarnya hal itu tidak terjadi manakala anak-anak berbaris dalam shaf orang-orang dewasa.

Adapun pendapat yang disebutkan oleh sebagian Ulama, bahwa anak kecil boleh dipindahkan dari tempatnya semula sehingga berada di ujung shaf atau di shaf paling akhir, dengan dalih bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

 

لِيَلِيَنِيْ مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلَامِ وَالَنَهْيِ

 

Hendaknya berada di dekatku, orang-orang dewasa dan berakal

Adalah            pendapat         marjuh (lemah)            yang  bertentangan dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang lain:

 

مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ أَحَدٌ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

 

Barangsiapa lebih dulu mendapatkan sesuatu yang belum ada seorangpun yang mendahuluinya maka dialah orang yang paling berhak mendapatkannya.

Dan istidlal (penggunaan dalil) mereka dengan sabda Nabi “Hendaknya berada di dekatku, orang­-orang dewasa dan berakal” dalam masalah ini tidak tepat. Karena kandungan hadits ini adalah anjuran kepada orang-orang dewasa dan berakal agar maju mendekati Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka adalah orang-orang yang lebih faham terhadap seluk-beluk shalat daripada anak kecil dan lebih kuat pengetahuannya terhadap apa-­apa yang dilihat atau didengar dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tidak mengatakan, “Tidak boleh berada di dekatku kecuali orang dewasa lagi berakal.” Seandainya beliau mengucapkan kalimat seperti itu, tentu pendapat yang membolehkan pemindahan anak-anak dari barisan depan bisa diterima. Tetapi redaksi hadits ini berisi perintah bagi para orang-orang dewasa dan berakal untuk mencari shaf-shaf awal agar berada di dekat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Syaikh Ibnu Utsaimin (Fatawa Islamiyah: 2/8)

Sumber: 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Griya Ilmu, Agustus 2004 M, Hlm. 73-75

Artikel Majalah Assunnah Edisi 10/THN XV/RABI’UL AWWAL 1433H/PEBRUARI 2012M

One comment on “Mengajak Anak-anak ke Masjid

  1. Ping-balik: Biasakanlah Anak yang Sudah Mumayyiz Sholat Berjamaah di Masjid dan Jangan Membawa Anak yang Sering Mengganggu ke Masjid |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 28, 2012 by in Fiqih and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: