أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Tahammul

Tahammul[1] artinya mengambil hadits atau talaqqi seorang yang menerima hadits dari syaikhnya.

Apakah Islam dan baligh disyaratkan ketika menerima hadits?

Menurut pendapat yang shahih, Islam dan baligh tidak disyaratkan ketika menerima hadits, tetapi disyaratkan ketika ada’ ,[2] sebagaimana telah disebutkan dalam persyaratan seorang rawi. Berdasarkan hal itu, periwayatan seorang rawi yang muslim dan baligh atas hadits yang diterimanya sebelum masuk Islam atau sebelum baligh itu diterima. Yang belum baligh di sini syaratnya harus mumayyiz.

Ada yang mengatakan bahwa baligh disyaratkan dalam tahammul, tapi pendapat ini tertolak karena kaum muslimin menerima riwayat dari shigharu ash-Shahabah seperti Hasan bin Ali, Ibnu Abbas, dan lainya Radhiyallahu Anhum tanpa membedakan mana riwayat yang diterima ketika mereka belum dan sudah baligh.

Kapan dianjurkannya Sima’ al hadits[3]

Adayang mengatakan pada umur 30 tahun (menurut Ahli Syam), ada yang mengatakan 20 (Kuffah), ada yang mengatakan 10 (Bashrah), yang benar, pada masa kini, adalah menyegerakan untuk mengikuti majelis hadits ketika telah memiliki kemampuan menyimak, karena bagaimana pun hadits bias ditulis dalam kitab (kalau dulu mungkin kesulitan mendapatkan alat tulis).

Apakah ada umur tertentu bagi anak kecil untuk menentukan sahnya penyimakan hadits?

Ada yang mensyaratkan umur 5 tahun, hal ini sesuai dengan praktek yang dilakukan sebagian ahli hadits. Tetapi yang lain mengatakan bahwa yang benar adalah dilihat dari sudah mumayyiz atau belum. Ketika seorang anak kecil sudah bias memahami sebuah perkataan, bias menjawab pertanyaan, berarti dia sudah mumayyiz, jika belum bias berarti dia belum mumayyiz.

Wallahu a’lam


[1] Dr. Mahmud ath-Thahhan, Taysir Musthallah al Hadits, Maktabah Wahbah, hal. 194-195. Dengan tambahan dari penjelasan al Ustad Abu Ihsan yang penulis tangkap.

[2] Meriwayatkan hadits atau menyampaikan hadits kepada muridnya

[3] Hadir di majelis hadits

One comment on “Tahammul

  1. Ping-balik: Cara Mengetahui Keterputusan Sanad | أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: