أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Tarawih Keliling

Ada satu fenomena selama Ramadhan yang saya, dan mungkin anda sekalian mengalaminya, yaitu orang-orang yang meninggalkan masjid yang dekat dengan rumahnya kemudian mencari masjid lain. Kita tidak bisa memastikan alasan mereka meninggalkan masjid yang berada di dekat rumah mereka. Masing-masing tentu memiliki alasan-alasan yang berbeda.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak shalat di masjid yang paling dekat dengan rumah, walaupun masjid tempat saya shalat sekarang masih dalam satu jalan dengan rumah saya. Masjid yang paling dekat dengan rumah saya hanya berjarak kurang lebih 100 meter, tapi sayang, di sebelah masjid tersebut terdapat kuburan keluarga yang mewakafkan tanah masjid. Mengenai larangan shalat di masjid yang ada kuburannya bisa anda cari di blog ini, karena dalam tulisan ini saya tidak akan membahasnya.

Nah, mengenai orang-orang yang mencari masjid lain yang relatif jauh dari rumahnya, saya menukil dari buku Bimbingan Lengkap Shalat Berjamaah karangan DR. Shalih bin Ghanim As-Sadlan, judul aslinya Shalatul Jama’ah Hukmuha wa Ahkamuha wat Tanbih ‘Alaa Maa Yaqa’u Fiiha min Bida’ wa Akhtha’, yang diterjemahkan oleh al Ustadz Abu Ihsan Al Atsary Hafidzahullah. Berikut kutipannya:

Ibnul Qayyim menyebutkan sederet dalil mengenai larangan perbuatan yang menjurus kepada perkara haram meski pada asalnya perbuatan itu mubah. Beliau berkata: “Bentuk kelima puluh empat: Syariat melarang seseorang meninggalkan masjid yang dekat dengan rumahnya dan mencari masjid lain yang jauh. Sebagaimana diriwayatkan oleh Baqiyyah dari al Mujaasyi’ bin Amru dari Ubaidillah dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

لِِيُصلي أحدكم في المسجد الذي يليه ولا يتخطاه إلى غيره

“Hendaklah kalian shalat di masjid yang dekat dengan rumahnya dan janganlah ia mencari masjid lain.”[1]

Ibnul Qayyim melanjutkan: “Karena hal itu dapat menyebabkan masjid yang dekat rumahnya terbengkalai dan dapat menggoyahkan hati si imam. Adapun bila imamnya tidak menyempurnakan adab dan etika shalat, seorang ahli bid’ah atau terkenal suka berbuat maksiat, maka tidaklah mengapa mencari masjid lain.”[2]

Dalam kitab Badaa-i’ul Fawaa-id beliau mengatakan:

“Diriwayatkan dari Muhammad bin Bahr ia berkata: “Saya bertemu Abu Abdillah (yakni Ahmad bin Hanbal) pada bulan Ramadhan. Ketika itu kebetulan Fadhl bin Ziyaad al Qaththan datang mengimami Abu Abdillah shalat tarawih. Fadhl adala seorang yang baik bacaannya. Maka berkumpullah orang-orang tua dan sebagian jiran sehinga masjid penuh sesak. Abu Abdillah lalu keluar dan naik ke tangga masjid kemudian memandangi jamaah yan gberjubel. Beliau berkata: “Apa-apaan ini? Kalian tinggalkan masjid kalian lalu datang ke masjid lain?!”

Abu Abdillah membiarkan Fadhl mengimami mereka shalat  selama beberapa malam, kemudian beliau menghentikannya karena beliau tidak suka melihat masjid-masjid kosong. Maka hendaknya setiap orang mengerjakan shalat di masjid dekat rumahnya.”

Saya (DR. Shalih bin Ghanim as-Sadlan) katakan: “Sebabnya adalah jauhnya manusia dari ilmu yang shahih dan dangkalnya pemahaman agama, taklid buta tanpa memperhatikan benar-benar dan tidak peduli petunjuk salaf dan alim ulama. Kemudian larangan mencari-cari masjid telah disebutkan dalam hadits dan merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sebagaimana telah kami elaskan, yang paling terkemuka di antaranya adalah Imam Ahamd bin Hanbal Rahimahullah. Belum ditemukan satu pendapat pun dari ahli ilmu baik yang dahulu maupun sekarang yang mengatakan afdhal mencari-cari masjid, terutama masjid yang bagus bacaan imamnya. Namun paling minimal mereka mengatakan boleh, meski pendapat ini bertentangan dengan pendapat jumhur ulama seperti yang telah disebutkan di atas. Dan tidak ada penukilan dari ulama terdahulu yang meyatakan pendapat tersebut. Apalagi shalat bermakmum di belakang imam yang bagus bacaannya bukanlah tujuan yang dianjurkan oleh syariat, namun hanya tujuan sampingan belaka, wallahu a’lam.

Selesai kutipan.

Demikian penjelasan mengenai shalat di tidak di masjid yang terdekat dengan rumah, semoga bermanfaat bagi kita semua.


[1] Demikianlah lafal yang ercantum dalam kitab I’laamul Muwaqqi’in III/160. Dalam  kitab al Jami’ ash-Shaghir dengan syarahnya Faidhul Qadir karangan al Munawi diriwayatkan dengan lafal:”Hendaklah kalian shalat di masjid yang dekat dengan rumahnya dan janganlah ia mencari masjid lain.” Silahkan lihat Faidhul Qadir karangan al Munawi V/392 nomor 7707 diterbitkan oleh Darul Ma’rifah Lebanon cetakan ketiga tahun 1391 H.

[2] I’lamul Muwaqqi’in (III/160).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 2, 2011 by in Fiqih and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: