أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Adab Menguap

Adab pertama, mencoba menahan menguap dan menolaknya sebisa mungkin (muhaawalatu kazhmit tatsaa-ub wa radduhu qadral imkaan)

Kita harus berusaha menghindari menguap, berusaha menahannya agar tidak menguap, khususnya ketika shalat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Jika salah satu dari kalian menguap ketika shalat maka tahanlah semampu kalian, karena setan akan masuk.” (Muslim (2995) dari Abi Sa’id Radhiyallahu Anhu.
Seseorang tidak perlu merasa aneh tentang masuknya setan ini karena setan terbuat dari api, maka bisa saja dia berubah bentuk, berpindah, dan bergerak seperti udara dan angin, dan dia tidak memiliki jasad seperti halnya manusia. Intinya, selama ada khabar shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka wajib bagi kita untuk menerimanya dan membenarkannya walaupun manusia memandangnya aneh sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mensifati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam surat an-Najm ayat 3-4:

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Adab kedua, meletakkan tangan pada mulut (wadh’ul yad ‘alal famm)
Hal itu dilakukan agar mulut tidak terbuka ketika menguap, karena seseorang yang terbuka mulutnya ketika menguap terlihat jelek. Juga karena setan menertawai manusia yang menguap sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Shallallahu Alaihi Wasallam:

“Menguap itu dari setan. Maka bila seorang dari kalian menguap hendaklah sedapat mungkin menahannya karena bila kalian menguap dengan mengeluarkan suara “haa”, setan akan tertawa”. (Al Bukhari)
Juga hadits:
Jika salah seorang dari kalian menguap maka peganglah mulutmu dengan tanganmu, karena setan akan masuk.“(Muslim (2995) dari Abu Sa’id)

Penjelasan:
Menutup mulut ketika menguap berbeda dengan menutup mulut ketika bersin. Ustadz Ali Nur berkata bahwa menutup mulut ketika menguap bertujuan untuk mencegah mulut agar tidak terbuka, bukan menutupi mulut yang terbuka ketika menguap-selesai kutipan.
Sedangkan menutup mulut ketika bersin disebutkan oleh pengarang kitab ini (Mausu’ah al adab al islamiyyah) yaitu Syaikh Abdul Aziz bin al Fathi as-Sayyid Nada, memiliki hikmah agar air ludah tidak muncrat kemana-mana atau mencegah tersebarnya penyakit-dengan izin Allah- dan menular ke orang-orang disekitarnya. (hal. 617)

Lalu dengan tangan sebelah mana kita menutupnya?

واستحب غير واحد من أهل العلم أن يكون باليد اليسرى ؛ لأنه من باب دفع الأذى ، وقاعدة الشريعة : تقديم اليمين في كل ما كان من باب الكرامة ، وتقديم الشمال في كل ما كان من باب المهانة .

…Banyak ulama menganjurkan dengan tangan kiri karena hal ini dalam rangka menolak gangguan. Kaidah syar’i: mendahulukan tangan kanan dalam hal-hal yang mulia dan mendahulukan tangan kiri dalam hal-hal yang hina.

وذكروا أن ذلك يكون بوضع ظهر كفه اليسرى على فمه ؛ لأنه من باب دفع الشيطان ، فيكون دفعه بباطنها ، فإن كظمه باليمنى حصل أصل السنة ، وحينئذ يكون بوضع باطنها على الفم .

Mereka berpendapat agar seseorang meletakkan punggung telapak tangan kirinya pada mulutnya karena daam rangka menolak setan…(http://islamqa.com/ar/ref/106439/هل%20يستحب%20أن%20أقول%20عند%20التثاؤب)

Ustadz Ali Nur menambahkan:

…ketika bersin, kita dianjurkan menutup wajah dengan kedua telapak tangan kita berdsarkan hadits dari Abu hurairah radhiyallahu anhu:

jika salah seorang dari kalian bersin maka hendaklah dia letakkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, dan merendahkan suaranya.” (al hakim(4/264) disetujui adz-Dzahabi, al Baihaqi dalam asy-Syu’ab (9353), Shahih al Jami’ (685))
tetapi dalam hadits tentang menguap, hanya disebutkan “yad” saja, artinya hanya satu tangan dan tidak ada dalil yang menentukan tangan mana yang dipake untuk menutup mulut.
demikian yang saya tangkap dari tambahan penjelasan ustadz Ali Nur.

Adab ketiga, tidak boleh mengucapkan aaaah aaaah
Atau haaaah….haaaah seperti disebutkan dalam hadits yang telah lalu yaitu bahwa setan menertawai manusia jika mengeluarkan suara semisal itu ketika menguap.

Adab keempat, tidak boleh meninggikan suara
Hal ini merupakan adab yang tidak baik dan sesuatu yang membuat orang lain tidak berkenan, bahkan menjauh dari pelakunya. Sebagian orang-orang yang jahil kadang menguatkan suaranya supaya orang lain tertawa.

هل يستحب أن أقول عند التثاؤب : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ؟ لأن التثاؤب من الشيطان .
الحمد لله
“لم يرد أن الإنسان إذا تثاءب يقول : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ، وإنما الوارد أن يكتم الإنسان التثاؤب ما استطاع ، وإذا لم يستطع فليضع يده على فيه ، والنبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أرشد إلى هذا عند التثاؤب ، ولم يقل : وليستعذ بالله من الشيطان الرجيم .

Apakah ketika menguap dianjurkan membaca a’udzubillahi minasy syaithanir rajim? Karena menguap itu dari setan?
Jawab:
Alhamdulillah, tidak ada disebutkan bahwa ketika seseorang menguap harus mengucapkan” a’udzubillahi minasy syaithanir rajim” , yang ada adalah harus menahannya, dan jika tidak sanggup menahannya maka dia harus meletakkan tangannya pada mulutnya. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam member petunjuk seperti ini ketika menguap, beliau tidak berkata: mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

فإن قال قائل : أليس الله يقول : (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ) وقد أخبر النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أن التثاؤب من الشيطان .
فالجواب : كل ذلك صحيح ، قال الله هذا ، وأخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنه من الشيطان ، لكن المراد بالنزغ في الآية الكريمة هو هم الإنسان بالسيئة ، إما بترك واجب ، وإما بفعل محرم ، فإذا أحس الإنسان بأنه هَمَّ بذلك ، فليقل : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ، وأما التثاؤب فقد عَلَّم الرسول عليه الصلاة والسلام ما يسن أن يقوم به الإنسان عند وجود التثاؤب” انتهى .
فضيلة الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله .

Jika seseorang berkata: bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah (maksudnya mengucapkan “a’udzubillahi minasy syaithanir rajim”). (Al A’raf: 200)
Dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengabarkan kepada kita bahwa menguap itu dari setan.

Jawab: semua itu benar, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman demikian, dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa menguap itu dari setan. Akan tetapi yang dimaksud dengan نَزْغٌ dalam ayat yang mulia tersebut adalah kekhawatiran manusia dengan keburukan, baik dengan meninggalkan kewajiban maupun melakukan hal-hal yang diharamkan. Jika manusia merasakan kekhawatiran akan melakukan hal buruk tersebut ucapkanlah “a’udzubillahi minasy syaithanir rajim”. Adapun menguap, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengajarkan apa-apa yang disunnahkan untuk dilakukan oleh seseorang yang menguap.

Syaikh Utsaimin Rahimahullah juga pernah ditanya:

السؤال: فضيلة الشيخ! إذا تجشأ الإنسان أو تثاءب فهل هناك ذكر معين يقوله؟
الجواب:
. إذا تجشأ الإنسان أو تثاءب فليس له ذكر، خلافاً للعامة، فالعامة إذا تجشئوا يقولون: الحمد لله! والحمد لله على كل حال؛ لكن لم يرد أن التجشؤ سبب للحمد، كذلك إذا تثاءبوا قالوا: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، وهذا لا أصل له، ولم يرد عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه كان يفعل ذلك. لكن قد يقول قائل: أليس التجشؤ نعمة، والنعمة يستحق الله عز وجل عليها الحمد؟ قلنا: بلى. هو نعمة؛ لكن لم يرد عن النبي عليه الصلاة والسلام أنه كان يحمد الله إذا تجشأ، وإذا لم يرد فإنه ليس مشروعاً بناء على قاعدة معروفة عند العلماء، وهي: أن كلَّ شيء وُجِد سببه في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام فلم يفعله ففعلُه ليس بسنة؛ لأن فعل الرسول سنة وتركه سنة، فالتجشؤ موجود، ولم يكن الرسول صلى الله عليه وسلم يحمد الله عليه، إذاً: ترك الحمد هو السنة. كذلك الاستعاذة من الشيطان الرجيم عند التثاؤب قد يقول قائل: إن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: (التثاؤب من الشيطان)، وقد قال الله تعالى: وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ [الأعراف:200]! قلنا: إن المراد بقوله تعالى: وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنْ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ [الأعراف:200] أنك إذا هممتَ بمعصية أو بترك واجب فاستعذ بالله؛ لأن الأمر بالفحشاء من الشيطان، الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمْ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ [البقرة:268] فإذا حصل هذا النزغ فاستعذ بالله. أما التثاؤب فإن الرسول عليه الصلاة والسلام قال: (التثاؤب من الشيطان، فإذا تثاءب أحدُكم فليَكْظِم ما استطاع، فإن عجز فليضع يده على فيه) ولم يقل: إذا تثاءب أحدكم فليستعذ بالله، مع أنه قال: (التثاؤب من الشيطان)، فدل هذا على أن الاستعاذة بالله من الشيطان الرجيم عند التثاؤب ليست بسُنَّة.
من ” لقاء الباب المفتوح”.الشيخ العلامة ابن عثيمين.
http://majles.alukah.net/showthread.php?t=48307

Fadhilatusy Syaikh, jika seseorang bersendawa atau menguap, adakah dzikir tertentu yang diucapkannya?

Jawab:

Jika seseorang bersendawa atau menguap tidak ada dzikir baginya, berbeda dengan orang pada umumnya. Mereka mengucapkan “Alhamdulillah” dan ” Alhamdulillah ala kulli hal”. Akan tetapi tidak disebutkan bahwa bersendawa adalah suatu sebab membaca “alhamdulillah”. Demikian juga ketika menguap mereka mengucapkan “a’udzubillahi minasy syaithanir rajim”, hal ini tidak ada dasarnya, tidak ada disebutkan riwayat dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa belau pernah melakukan hal tersebut.

Ada yang mengatakan: bukankah sendawa itu nikmat, dan Allah berhak dipuji atas suatu nikmat? Kami katakan: memang, sendawa adalah suatu nikmat. Akan tetapi tidak pernah disebutkan dari Nabi  Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau pernah memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika bersendawa. Jika tidak disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah melakukannya maka hal tersebut tidak disyariatkan berdasarkan kaidah yang diketahui dari para ulama, yaitu bahwa segala sesuatu yang ada penyebabnya pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  akan tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak melakukannya maka hal itu bukanlah suatu sunnah. Karena perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah sunnah dan Rasulullah meninggalkan suatu perbuatan juga sunnah (artinya jika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak melakukannya maka disunnahkan bagi kita untuk meninggalkannya, pen.)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersendawa, tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena sendawa tersebut. Maka, tidak mengucapkan “alhamdulillah” adalah sunnah[1]. Demikian juga beristi’adzah ketika menguap walaupun ada yang beralasan bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “menguap itu dari syaitan”, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:” “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah (maksudnya mengucapkan “a’udzubillahi minasy syaithanir rajim”).” (Al A’raf: 200)

Kami katakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut adalah jika anda merasa khawatir akan melakukan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban maka mintalah perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena perkara keji itu dari syaitan.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Al Baqarah: 268 )

Jika kekhawatiran ini terjadi mintalah perlindungan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Adapun mengenai menguap, memang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“menguap itu dari syaitan, jika salah seorang dari kalian menguap maka tahanlah semampunya, jika tidak sanggup maka hendaklah dia letakkan tangannya pada mulutnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak berkata: “jika salah seorang dari kalian menguap maka mintalah perlindungan kepada Allah, walaupun menguap itu dari syaitan. Hal ini menunjukkan bahwa meminta perlindungan kepada Allah (isti’adzah) ketika menguap bukanlah sunnah.


[1]  Apabila disebutkan Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sunnah di sini bukan sunnah dalam istilah fiqih yang artinya berpahala jika dikerjakan dan tidak apa-apa (tidak berdosa) jika ditinggalkan, tetapi sunnah di sini berarti segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, baik berupa perkataan, perbuatan, atau pernyataan di dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum syariat. Lihat Kitab “Al Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaidu wal Ahkami” kitab karangan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany yang disusun oleh Muhammad ‘Id al Abbasi yang edisi Indonsianya “Hadits Sebagai Landasan Akidah dan Hukum”, terbitan Pustaka Azzam, hal. 19-20. Jadi sunnah di sini merupakan sinonim dari kata hadits.

Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby dalam kitabnya “Ilmu Ushul Bida’” hal. 109 berkata :

فمن رغب عن سنتي فليس مني قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري]۹|۱۰۵[:١لمراد بالسنة الطريقة ل االتي تقاب ل الفرض والرغبة عن اشيء الإعراض عنه إلى غيره والمراد من ترك طريقتي وأخذ بطريقة غيري فليس مني

“….Maka barang siapa yang tidak suka sunnahku maka dia bukan golonganku. Al Hafidz Ibn Hajar dalam “Fathul Bari” (IX/105) berkata ‘Yang dimaksud dengan as sunnah adalah jalan (metode), bukan yang sunnah yang berlawanan dengan fardhu (yaitu kalau dilaksanakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa). Dan tidak suka kepada sesuatu artinya berpaling darinya kepada yang lain. Maksudnya , barang siapa yang meninggalkan jalan/metodeku dan mengambil jalan yang lain, maka dia bukan golonganku.”

Wallahu A’lam

Sumber:
1. Mausu’ah Al Adab Al Islamiyyah, Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada.
2. www.islamqa.com
3. http://majles.alukah.net/showthread.php?t=48307

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 9, 2011 by in Adab dan Akhlak and tagged , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: