أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Adab memakai sandal/sepatu

 

Pada dasarnya manusia harus memakaikan sesuatu pada kakinya ketika berjalan, seperti sandal, sepatu, dan lainnya. Tujuannya adalah untuk menjaga telapak kakinya. Ada beberapa adab-adab islami yang berkaitan dengan pemakaian sandal/sepatu.

Pertama, Niat yang shalih

Seorang muslim, ketika memakai sandal, harus diniatkan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan telapak kakinya, dan menampakkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah diberikan kepadanya. Seorang muslim harus menghindari niat yang jelek seperti membanggakan diri dengan sandalnya yang mahal.

Kedua, merenungkan bahwa sandal adalah nikmat

Yaitu merenungkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dilimpahkan kepada manusia dengan kemudahan berupa sandal. Karena tanpa kemurahan Allah Azza wa Jalla tidak mungkin menusia bisa memiliki sandal. Betapa banyak manusia yang tidak sanggup membelinya, sehingga sandal menjadi nikmat yang wajib disyukuri .

Ketiga, memperbanyak memakai sandal jika memungkinkan

Orang yang memakai sandal itu seperti orang yang berkendara dalam rangka mengangkat kesulitan, mengurangi rasa lelah, dan menjaga kaki dari halangan di jalan seperti kerasnya jalan, duri, gangguan, tempratur yang sangat panas, atau lumpur.

Lihat hadits riwayat Muslim (2096) dari Jabir Radhiyallahu Anhu.

Keempat, merawat sandal

Maksudnya adalah merawat sandal atau sepatu dengan membersihkannya atau menyemirnya untuk mempertahankan bentuknya dan memperbaiki yang koyak dengan menghindari pemborosan, rasa sombong, dan takabbur. Orang yang memakai sandal harus menjaga kebersihan sandalnya. Janganlah memakai sandal yang menarik perhatian orang lain karena perubahan warnanya, koyak, dan lainnya, kecuali bagi orang yang faqir yang tidak sanggup untuk menyemir, merawat, atau memperbaiki sandalnya.

Kelima, menjaga kebersihan sandal

Yaitu menjaga sandal atau sepatu agar selalu terbebas dari najis yang kadang-kadang ada di bagian bawah atau ujung sandal karena terkadang seseorang harus shalat mengenakan sandal atau sepatu.

Keenam, dianjurkan duduk ketika akan mengenakan sandal

Yaitu mengenakan sandal sambil duduk, tidak sambil berdiri karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melarang seorang laki-laki yang mengenakan sandal sambil berdiri. (at-Tirmidzi/1775 dan 1776)

Al Manawi Rahimahullah berkata: perintah dalam hadits ini bersifat anjuran, karena lebih mudah memakai sandal sambil duduk. Dari hadits tersebut ath-Thibi dan lainnya mengkhususkan larangan untuk sandal yang susah dikenakan sambil berdiri, seperti jenis tasumuh dan khif, tidak seperti terompah dan sarmuzah (yang mudah dikenakan walaupun sambil berdiri).(faidhul qodiir li al Manaawi (6/341).

Salah satu ilat dari larangan mengenakan sandal sambil berdiri adalah adanya kemungkinan tersingkap atau terbentuknya aurat, terutama jika pakaiannya tipis dan transparan. Hal itu juga bisa menyebabkan otot punggung atau tulang belakangnya terkilir. Kadang-kadang mengenakan sandal sambil membungkuk juga bisa menyebabkan orang tersebut terjerembab. Ibnu al-Atsir Rahimahullah berkata: “seseorang dilarang mengenakan sandal sambil berdiri, karena mengenakannya sambil duduk lebih mudah dan memungkinkan, karena terkadang mengenakannya sambil berdiri bisa menyebabkan dia terjungkal.”(jaami’ al ushul (10/650))

adab ketujuh, menggoncang-goncangkan sepatu sebelum memakainya

maksudnya menggoncang-goncangkan atau menghentak-hentakannya ke tanah karena kadang sandal atau sepatu kita dimasuki oleh serangga yang berbahaya atau serangga yang tidak berbahaya tetapi menjijikkan jika penyet apabila terpijak. atau kadang masih ada sisa-sisa debu setelah berjalan di tempat yang berdebu.

Adab kedelapan, mendahulukan kaki kanan

Yakni mendahulukan kaki kanan ketika mengenakan sandal, sebaliknya ketika melepaskannya mendahulukan yang kiri karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“jika kalian memakai sandal maka mulailah dengan yang kanan, dan ketika melepaskannya dahulukanlah yang sebelah kiri, pakailah keduanya sekaligus atau lepaskanlah keduanya sekaligus.”(Muslim/2097 dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, al-Bukhari/5855)

Adab kesembilan, memakai sandal kedua-duanya

Yakni memakai sandal kedua-duanya, atau kalau mau dilepas juga dilepas kedua-duanya. Seseorang tidak boleh berjalan dengan memakai sandal hanya sebelah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tercantum di adab kedelapan walaupun salah satu sandal/sepatu putus talinya karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :” jika tali sepatu salah satu dari kalian putus, janganlah kalian berjalan dengan memakai satu sepatu hingga dia membetulkan talinya, janganlah kalian berjalan dengan memakai satu sandal…”(Muslim/2099 dari Jabir Radhiyallahu Anhu)

diambil dari kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islaamiyyah al-murottabah ‘alaa al-huruuf al-hijaa-iyyah karangan Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 3, 2011 by in Adab dan Akhlak and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: