أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

MACAM-MACAM PEMBATAL KEISLAMAN

1. Syirik

Syaikh bin Baz mengatakan :

“Pembatal pertama : Menyekutukan Allah (syirik) dalam ibadah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar,” (QS. an-Nisaa: 48).

Dan firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun,” (QS. al-Maidah: 72).

Contoh dalam masalah ini adalah berdo’a kepada orang yang telah meninggal, beristighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, bernadzar dan menyembelih untuk mereka.”

Penjelasan:

Maksudnya, bahwa menyekutukan Allah dalam ibadah kepada-Nya dan memalingkan ibadah kepada selain-Nya merupakan pembatal pertama dan pembatal keislaman yang paling besar. Sebagaimana yang banyak dilakukan oleh kaum sufi dan kalangan orang-orang yang bodoh selain mereka. Mereka mendatangi makam-makam para wali dan orang-orang shalih, ketika mereka ditimpa musibah. Mereka meminta kepada orang-orang yang telah meninggal itu agar musibah tersebut ditolak dan dihilangkan.

Demikian pula, tatkala mereka mendapatkan kenikmatan mereka bernadzar kepada para wali tersebut. Mereka beristighatsah kepada orang-orang yang telah mati itu dan menyembelih hewan untuk para wali tersebut. Dan telah kita ketahui bersama, bahwa semua perbuatan tersebut merupakan bentuk-bentuk ibadah, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka memalingkannya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan kesyirikan kepada-Nya Tabaraka wa Ta’ala dalam ibadah. Telah jelas bagi kita bahwa merupakan suatu bentuk kesyirikan, adalah jika kita meminta kepada orang yang masih hidup dan berada bersama serta beristighatsah (meminta pertolongan) kepadanya pada sesuatu yang tidak sanggup ia lakukan, kecuali hal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu juga dengan do’a yang ditujukan kepada orang yang tidak berada di antara kita (berada di tempat lain) pada sesuatu yang memang sanggup ia lakukan dan beristighatsah kepadanya, serta meyakini, bahwa orang tersebut mendengar do’a dan istighatshahnya, merupakan suatu kesyirikan. Maka bagaimana dengan do’a dan permintaan yang ditujukan kepada orang yang telah meninggal, yang tidak mungkin terkabulkan kecuali hanya Allah semata?! Ma ha ‘I’inggi Allah lagi Maha Agung dari apa yang dikatakan orang-orang yang zhalim.

2. Menjadikan Makhluk sebagai Perantara

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal kedua: Barangsiapa yang menjadikan perantara­-perantara antara dia dengan Allah, berdo’a kepada mereka, meminta syafa’at dan bertawakkal kepada mereka, maka ia telah kafir berdasarkan Ijma’ ‘Ulama.”

Penjelasan:

Perbuatan ini merupakan bentuk kesyirikan orang-orang musyrik pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menceritakan tentang mereka di dalam al-Qur’an,

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-­Zumar: 3).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman di ayat lainnya yang artinya,

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus : 18)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  tidak menjadikan adanya perantara yang menghubungkan antara Dia dengan makhluk-Nya. Dia menafikan semua perantara itu dari segala bentuk-bentuk kekuasaan dan pengaturan yang membolehkan beribadah kepada mereka. Bahkan Allah menafikan kekuasaan dari mereka walaupun hanya syafa’at. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang hal ini yang artinya,

“Katakanlah: “Serulah mereka yang karnu anggap (sebagai ilah) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai satu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali‑kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkau bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu,” (QS. Sabaa: 22-23).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan manusia beribadah dan meminta hanya kepada-Nya, yang mana Dia berfirman:

“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-A’raf: 55)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang berdo’a kepada selain-Nya, Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”. (QS. Yunus : 106)

Dia menyuruh untuk bertawakkal hanya kepada-Nya, yang mana Dia berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”, (QS. al-Maaidah: 23)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan tawakkal sebagai sifat orang-orang yang beriman, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang mukmin bertawakkal,” (QS. Ibrahim: 11) Tawakkal kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan kesyirikan dalam beribadah kepada-Nya Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Tidak Mengkafirkan Orang-orang Musyrik

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal ketiga: Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka, maka ia kafir.”

Penjelasan :

lni merupakan pembatal keislaman yang ketiga, yaitu seorang muslim yang tidak menghukumi kafir orang-orang musyrik, sesuai dengan perbedaan jenis-jenis kekafiran mereka. Dalam kitab-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghukumi kafir bagi orang-orang Yahudi, Nasrani, para penyembah berhala dan dari kalangan orang-orang musyrik lainnya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam,” (QS. al-Maidah: 72) dan ayat-ayat lainya, yang mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghukumi kafir kaum musyrikin. Barangsiapa yang tidak menghukumi mereka kafir, sungguh ia telah menafikan hukum Allah dalam kitab-Nya, menentang Allah dalam hukum-Nya dan mendustakan-Nya dalam pemberitaan-Nya. Tanpa diragukan lagi bahwa perbuatan tersebut merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Agama Islam.

Demikian pula, barangsiapa yang ragu mengkafirkan orang-orang musyrik, sungguh ia telah ragu terhadap pemberitaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kitab-Nya. Tanpa diragukan bahwa ini juga merupakan kekufuran. Karena termasuk syarat sahnya keimanan adaalah membenarkan dan menyakini, tidak ada padanya pendustaan dan keraguan.

Demikian pula, barangsiapa yang membenarkan agama orang-orang kafir, maka ia kafir dan keluar dari Agama Islam. Karena ia membenarkan apa yang Allah tolak dan batalkan agama mereka da lam kitab-Nya. Juga, karena ia menghukum dengan hukuman ya ng bertentangan dengan hukum-Nya, mengkritik Allah dalam pemberitaan-Nya dan menjadikan dirinya bersama dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada posisi yang bertentangan.

Perhatian : Sebagian orang-orang pada zaman kita sekarang ini, ada yang menyandarkan diri mereka kepada sebagian jama’ah dan mazhab yang memiliki pemikiran-pemikiran yang ekstrim tanpa dilandasi dengan dalil. Yang mana ia terkadang terburu-buru di dalam mengkafirkan sebagian individu atau orang-orang dari kalangan kaum muslimin. Kebanyakan ini terjadi tanpa adanya kebenaran dan tanpa adanya ilmu serta tidak adanya dalil dan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan terkadang pengkafiran ini terjadi pada masalah-masalah yang bukan merupakan suatu perbuatan yang menyebabkan kekafiran sama sekali. Kemudian terhunuslah pedang pengkafiran kepada orang yang menyepakati pendapatnya dan berhujjah kepada mereka, bahwa barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu terhadap pengkafirannya, maka ia kafir. Ini adalah perbuatan yang berlebih-lebihan dan sikap fron­tal dalam Agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena pembatal ini tidak berlaku dan tidak terealisasi melainkan bagi orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik pada asalnya, yang telah tertera kekufuran mereka di dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’ ‘Ulama’ dan pada kelornpok-kelompok dari kalangan orang-orang kafir yang tidak ada perselisihan tentang kekufuran mereka. Wallahu a’lam

4. Mengutamakan Petunjuk Selain Petunjuk Nabi

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal keempat: Barangsiapa yang menyakini, bahwa selain petunjuk dan hukum Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lebih sempurna dan lebih bagus dari petunjuk dan hukum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Seperti orang-orang yang mendahulukan hukum thaghut dari pada hukum beliau, maka ia kafir.”

Penjelasan :

Ini adalah pembatal keislaman yang keempat, yaitu seseorang menyakini, bahwa ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Demikian itu, karena Nabi hanyalah pembawa berita dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Urapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwuahyukan (kepadanya),” (QS. an-Najm: 3-4)

Petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebenarnya adalah petunjuk dan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang termasuk dari konsekwensi keimanan adalah seorang mu’min meyakini, bahwa petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lebih sempurna dan lebih baik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus,” (QS. asy-Syuura: 52)

Dan dalam al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 164, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyifati Nabi-Nya yang artinya:

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”

Petunjuk, syari’at dan berita yang Rasul sampaikan lebih sempurna, lebih baik dan lebih benar. Barangsiapa yang ragu tentangnya, sungguh ia telah kafir. Yang meyakini, bahwa ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sebenarnya dia adalah orang yang meyakini adanya kekurangan pada petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu, ia lebih memprioritaskan petunjuk selain petunjuk beliau. Bagaimana seseorang bisa menjadi seorang yang beriman, jika ia menganggap, bahwa selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat mendatangkan syari’at yang lebih sempurna dari syari’at-Nya, petunjuk selain-Nya lebih baik dari petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau hukumnya lebih baik dari hukum Allah?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum)Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. aI-Maidah:50)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan, bahwa hukum-Nya adalah  hak. Dan Dia memerintahkan nabi-Nya Daud Alaihissalam untuk menghukum dengan keadilan dan kebenaran di antara manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan,” (QS. Shaad: 26) Setiap orang yang lebih mengutamakan selain hukum Allah dari pada hukum-Nya, maka ia kafir.

Yang terkena hukum ini adalah orang yang menyakini, bahwa undang-undang buatan manusia lebih baik dari pada hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau menyamai hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena ia menyamakan antara Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Demikian pula, orang yang meyakini, bahwa bolehnya berhukum dengan undang-undang buatan manusia bukan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengingkari hukum thaghut, sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya,” (QS. an-Nisaa: 60) Semua nash-nash ini dan selainnya terdapat ancaman yang keras bagi orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan di tengah-tengah manusia, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membazva kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (QS. an-Nisaa: 105)

Dan juga firman-Nya yang artinya, “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah: 44)

Ayat-ayat yang menjelaskan tentang masalah ini jumlahnya begitu banyak.

5. Membenci Syariat Islam

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal kelima: Barangsiapa yang membenci apa (syari’at) yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sekalipun ia mengamalkannya, maka ia kafir, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad : 9)”

Penjelasan :

Ini adalah pembatal keislaman yang kelima, yaitu seseorang yang membenci apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam -hingga sekalipun ia mengamalkannya-, karena sesungguhnya cinta kepada syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan cinta kepada Allah; dan membenci syari’at-Nya sama dengan membenci-Nya Subhanahu Wa Ta’ala. Dan membenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah bentuk dari kekafiran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang artinya, “Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9)

Seorang muslim wajib mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena cinta kepada-Nya merupakan dasar-dasar keimanan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah: 165)

Barangsiapa yang cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia harus mencintai apa yang diperintahkan kepadanya dan mencintai apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Barangsiapa yang membenci syari’at Allah, maka tidak ada keraguan padanya, bahwa ia membenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amal yang ia kerjakan tidak memberikan manfaat sedikitpun baginya selama ia membenci syari’at ini, karena pada kondisi ini ia bersifat munafik, tidak berani menampakkan kebenciannya terhadap syari’at Allah, petunjuk dan wahyu-Nya. Agama ini mesti diamalkan atas dasar kecintaan dan ketaatan. Demikian pula semua orang yang membenci sesuatu (syari’at) yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, seperti membenci syari’at Allah tentang hijab wanita, jenggot, bagian wanita setengah dari satu bagian laki-laki dalam harta warisan dan persaksian wanita setengah dari satu persaksian laki-laki. Demikian pula orang yang membenci pensyariatan poligami dan selainnya yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan hukum bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga ia berhukum dengan hukum-Nya, hatinya menerima syari’at itu dan tunduk kepadanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya,” (QS. an-Nisaa: 65)

Tidak cukup seseorang itu berhukum kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, bahkan mesti tidak didapatkan di dalam hatinya perasaan berat atas apa yang diputuskan al-Qur’an dan as-Sunnah, sekalipun keputusan itu bertentangan dengan hawa nafsunya. Tidak diragukan lagi, bahwa membenci syariat Allah yaitu ada perasaan berat yang sangat besar yang ada di dalam hati (untuk melaksanakan syariat ini-edt.) Kemudian seseorang haruslah menyerahkan dirinya secara totalitas kepada hukum Allah dan Rasul-Nya serta patuh terhadapnya dengan penuh ketulusan. Apalagi pada hal-hal yang dibenci oleh hati dan yang menyelisihi hawa nafsu, karena penyerahan diri dan ketundukan ketika itu merupakan tanda-tanda yang agung akan sehat dan kokohnya keimanan di dalam hati pemiliknya.

6. Mengolok-olok Syariat Islam

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal keenam: Barangsiapa yang mengolok-ngolok sedikitpun dari agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pahala ataupun siksaannya, maka ia kafir. Dalilnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa,” (QS. at-Taubah: 65-66)”

Penjelasan :

Ini adalah pembatal keislaman yang keenam, yaitu seseorang yang mengolok-ngolok agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau sedikitpun dari ajaran­Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkafirkan beberapa orang yang keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam perang Tabuk, tatkala mereka mengolok-ngolok Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan para Shahabatnya. Mereka mengucapkan kata­-kata yang dengannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkafirkan mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang mereka yang artinya, “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa,” (QS. at-Taubah: 65-66)”

Ini adalah penjelasan yang sangat jelas lagi terang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang kufurnya orang-orang yang mengolok-ngolok syariat Allah. Yang tergolong ke dalam kelompok ini adalah setiap orang yang mengolok-ngolok sesuatu dari agama Allah, wahyu, hukum-Nya ataupun sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seperti orang yang mengolok-ngolok jenggot dan pakaian yang tidak isbal (yang tidak melewati mata kaki); atau mcngolok-ngolok hijab (jilbab) wanita muslimah; atau mengolok-o1ok azan; atau sesuatu dari urusan-urusan akhirat atau perkara-perkara syari’at lainnya. Baik dcngan tujuan mendiskreditkan urusan syari’at ataupun hanya sekedar menertawakan orang lain. Secara mutlak, bahwa mengolok-ngolok syari’at itu merupakan kekufuran, khususnya jika ia mengetahui, bahwa ini merupakan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan mengolok-ngolok syariat-Nya adalah kufur; baik mengolok-ngolok dengan perkataan atau dengan perbuatan, seperti mengedipkan mata dan memberikan isyarat; baik ia sungguh-sungguh mengolok atau hanya sekedar bercanda. Hendaklah setiap orang waspada dari mengolok-ngolok orang-orang mu’min.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertazuakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-­orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-Muthaffifin: 32-36)

Mengolok-ngolok orang-orang mu’min pada hakikatnya mencaci terhadap iman, manhaj, dakwah mereka dan apa yang orang-orang mu’min jalani. Tanpa diragukan lagi, bahwa ini adalah kekufuran.

7. Sihir

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal ketujuh: sihir, di antara jenis sihir ada yang dinamakan dengan as-sharf (memalingkan seseorang) dan al-‘athaf (pelet) Barangsiapa yang melakukannya atau ridha dengan perbuatan ini, maka ia kafir. Dalilnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir. “(QS. al-Baqarah: 102)”

Penjelasan :

Ini adalah pembatal keislaman yang ketujuh. Yang menunjukkan, bahwa sihir itu kekufuran adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir) Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (QS. al-Baqarah 102)

Maka, sihir adalah kekufuran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”, (QS. Thaaha: 69)

Juga, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan.” (QS. Yunus: 77)

Tukang sihir itu adalah kafir. Jumhur ‘Ulama bersepakat, bahwa tukang sihir itu hukumannya adalah dibunuh. Ini adalah pendapat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Abdullah bin ‘Umar -Radiallahu ‘anhum ­dan selain mereka. Ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad.

Sihir itu memiliki pengaruh yang nyata, terjadi dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pengaruhnya terkadang hanya sekedar memberikan hayalan terkadang mempengaruhi mata-mata manusia, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka.” (QS. Thaaha: 66) Juga, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan).” (QS. al-A’raf: 116)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam agar berlindung kepada-Nya dari keburukan sihir, yaitu yang tertera pada firman-­Nya,

“Dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,” (QS. al-Falaq: 4)

Tanpa diragukan lagi, bahwa setiap sihir yang ada hubungannya dengan jin, bintang-bintang dan selainnya, maka sihir itu adalah kekafiran.

Jenis-jenis sihir:

1- As-sharf, merupakan salah satu jenis sihir. Yang dimaksucl dengannya adalah memalingkan seseorang dari sesuatu atau memalingkan seseorang dari yang ia cintai agar membencinya.

2- Al-‘Athaf, adalah menjadikan seseorang menginginkan pada sesuatu tertentu dan mencintainya serta hatinya condong kepadanya.

Juga yang termasuk sihir adalah an-nusyrah. An-Nusyrah merupakan suatu usaha menghilangkan sihir dan membatalkan pengaruhnya. Jika nusyrah itu dilakukan dengan ruqyah (jampi-jampi) dan dzikir-dzikir yang disyari’atkan, maka nusyrah ini boleh-boleh saja. Dan jika nusyrah ini dilakukan dengan ruqyah yang tidak disyari’atkan, atau didalamnya ada permintaan bantuan kepada jin atau selainnya, maka nusyrah ini tidak boleh dan ia termasuk jenis sihir itu sendiri.

8. Menolong Orang-orang Musyrik

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal kedelapan: Membantu dan menolong orang-orang musyrik di dalam menghadapi kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maaidah: 51)”

Penjelasan:

Sesungguhnya membantu dan menolong orang-orang kafir atas kaum muslimin merupakan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman. Yang menunjukkan atas hal ini adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maaidah: 51)

Pemberian pertolongan dan bantuan kepada orang-orang musyrik ini, maka hasilnya adalah pemberian bantuan untuk memenangkan atas kaum muslimin, atau mengangkat kedudukan orang-orang kafir lebih tinggi dari kedudukan kaum muslimin, atau memberikan kekuatan bagi mereka di dalam menghadapi kaum muslimin, sungguh perbuatan ini adalah bentuk kekafiran. Lebih khusus, jika disertai dengan kecintaan terhadap orang-orang kafir, adanya keinginan menolong mereka atas kaum muslimin dan merasa senang dengan terangkatnya agama mereka.

Juga yang termasuk pemberian bantuan yang diharamkan adalah seseorang yang menunjukkan musuh-musuh Allah kepada tempat-ternpat kelemahan kaum muslimin, untuk membantu mereka di dalam menghadapi kaum muslimin.

Juga termasuk kategori memberikan bantuan kepada orang-orang musyrik adalah mendatangkan beberapa orang-orang yang memiliki misi-misi tertentu untuk membuat provokasi dengan tujuan yang batil dan keji, yang didengung-dengungkan oleh orang-orang kafir tentang Islam dan syariat-syariat Islam. Dengan itu, mereka berkeinginan memberikan pengkaburan atau kerancuan terhadap gambaran Islam dan orang-orang Islam serta menghalangi orang-orang dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

9. Membolehkan Keluar dari Syariat Islam

Syaikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal kesembilan: Barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian orang boleh keluar dari Syari’at Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, maka ia kafir, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)”

Penjelasan:

Juga, yang termasuk dari pembatal-pembatal keislaman adalah seseorang yang meyakini, bahwa sebagian orang memiliki hak untuk keluar dari ajaran-ajaran Syari’at Islam, atau dibebaskan dari tanggung jawab dalam melaksanakan kewajiban agama. Dan bahwasanya mereka boleh meninggalkan ibadah dan kewajiban-­kewajiban yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Atau bolehnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan haram tanpa adanya perasaan berdosa dan bersalah. Ini adalah kekufuran terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan pengingkaran terhadap sesuatu yang telah diketahui, bahwa semua orang harus mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak boleh menyelisihinya. Maka membolehkan seseorang keluar dari syariat agama merupakan agama baru dalam Islam dan merubah hukum Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran :85)

Telah diketahui, bahwa Agama Islam mencakup seluruh apa yang dibawa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengambil perjanjian dari para Nabi, bahwa jika Muhammad diutus dan salah seorang dari mereka masih hidup, maka ia harus mengikuti Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya clan menolongnya.” Allah berfirman : “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu” Mereka menjazvab: “Kami mengakui.”Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (QS. Ali ‘Imran: 81)

10. Berpaling dari Syariat Islam

Saikh Bin Baz mengatakan :

“Pembatal kesepuluh: Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan tidak mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingalkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya  Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa,” (QS. as-Sajadah: 22)”

Penjelasan:

Ini adalah pembatal keislaman yang kesepuluh, yaitu seseorang yang berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan tidak pula mengamalkannya. Ia merasa tidak perlu terhadapnya dan lari serta berpaling darinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa,” (QS. as-Sajadah: 22) Juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya, “Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka,” (QS. al-Ahqaf: 3)

Seseorang yang berpaling dari agama Allah yang menyebabkannya keluar dari Agama Islam, adalah jika ia melecehkan dan meremehkan Agama Allah; tidak memperdulikan agama dan masalah akhirat hatinya lebih mementingkan dunia dari pada akhirat atau lebih mengutamakan agama lain selain agama Islam dan lain sebagainya. Sangat disayangkan sekali, bahwa kebanyakan kaum muslimin yang mengatakan dirinya sebagai ummat Islam, terjerumus ke dalam masalah ini.

Akan tetapi tidak termasuk dalam masalah ini, orang yang bermalas-malasan di dalam menuntut ilmu, meninggalkan sebagian kewajiban, atau mengerjakan sebagian perbuatan dosa, sekalipun ia berdosa, akan tetapi ia tidak kafir hanya karena perbuatan dosa ini, maka perhatikanlah dengan baik.

Dinukil dari al-Itmam Syarhu al-Aqidah ash-Shahihah wa Nawaqid al-Islam lil’Allamah asy-Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, edisi Indonesia Syarah Aqidah ash-Shahihah, Abdul Aziz bin Fathi bin as-Sayyid A’id Nada, Penerbit Pustaka As-Sunnah, hal. 233-250.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 11, 2010 by in Aqidah and tagged .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: