أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hukum Mencium Mushaf

Apa hukumnya mencium Mushhaf?

Jawaban

Hal itu – menurut keyakinan kita – termasuk dalam kategori keumuman hadits yang di antaranya adalah : “Berhati-hatilah kalian terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, sebab sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah, dan sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan”,[1] dalam hadits yang lain disebutkan : “Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”[2]

Banyak orang yang memiliki sikap tertentu pada masalah-masalah cabang semacam ini, mereka katakan: “Apa salahnya?, hal itu dilakukan hanya sekedar untuk menghormati dan mengagungkan al-Qur’an”, kita jawab : “Kalian benar, tidak ada niat lain selain penghormatan dan pengagungan al-Qur’an! akan tetapi apakah penghormatan dan pengagungan ini tidak diketahui oleh generasi pertama Islam -yaitu para Sahabat radhiyallahu ‘anhum-, demikian pula para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in setelah mereka? Tidak diragukan lagi, bahwa jawaban atas pertanyaan ini adalah sebagaimana dikatakan oleh ulama Salaf : “Kalau hal itu baik, tentunya mereka (para Sahabat dan generasi setelahnya) telah mendahului kita melakukannya”.

Ini yang pertama, kemudian yang kedua : apakah dasar dari menciuni sesuani hukumnya mubah atau haram?

Di sini harus ditinjau kembali hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan Kitab Shahih mereka berdua, agar orang yang mau mengambil pelajaran dapat mengambil pelajaran dan mengetahui betapa jauhnya kaum muslimin saat ini dari kehidupan Salafusshalih, fiqih mereka dan bagaimana mereka mencari solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

Hadits tersebut adalah : Dari ‘Abbas Ibn Rabi’ah mengatakan : “Aku melihat Umar Ibn Khatthab Radhiyallahu Anhu mencium Hajar Aswad dan mengatakan : “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membawa mudharat dan tidak memberi manfaat, kalau sesandainya aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menciummu, tentu aku tidak akan menciummu.”[3]

Jadi kenapa Umar Radhiyallahu Anhu mencium Hajar Aswad walaupun sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih : “Hajar Aswad adalah batu dari surga?”[4] Apakah Umar menciumnya berdasarkan pendapatnya sendiri dan mengatakan seperti yang, dikatakan dalam pertanyaan di atas : “Ini adalah Kalamullah maka kita menciumnya”? Apakah Umar mengatakan : “Batu ini adalah salah satu materi dari materi-materi surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa sehingga aku menciumnya dan aku tidak membutuhkan nash apapun dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menjelaskan kepadaku akan disyariatkannya mencium Hajar Aswad”? Atau menjustifikasi masalah cabang ini sebagaimana yang diinginkan oleh sebagian orang pada zaman sekarang untuk dikatakan sebagai ilmu Mantiq yang kita serukan dan kita sebut sebagai Mantiq Salafi, yaitu ikhlas dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan orang-orang yang mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat? Demikianlah sikap Umar Radhiyallahu Anhu sehingga dia mengatakan: “Kalau sesandainya aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menciummu, tentu aku tidak akan menciummu”.

Jadi kesimpulannya pada masalah seperti mencium ini haruslah kita pakai hukum yang bersumber dari as-Sunnah, bukan kita yang menghukumi sendiri -sebagaimana telah kita sebutkan di atas- dan kita katakan : “Ini baik, lalu apa akibat buruknya?”, ingatlah tentang sikap Zaid Ibn Tsabit Radhiyallahu Anhu ketika diberi tugas oleh Abu Bakar Radhiyallahu Anhu dan Umar Radhiyallahu Anhu untuk mengumpulkan al-Qur’an serta menjaganya agar tidak hilang, dia mengatakan: “Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam?”

Maka pemahaman masalah agama inilah tidak ada pada kaum muslimin pada zaman sekarang secara mutlak.

Jika ditanyakan kepada orang yang mencium Mushhaf : “Bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam?”, dia akan menjawab dengan jawaban yang sangat mengherankan, di antaranya: “Wahai saudaraku, apa salahnya mencium Mushhaf? Di sana terdapat pengagungan bagi al-Qur’an !”, maka katakan padanya: “Wahai saudaraku, perkataan ini dikembalikan kepadamu: Apakah Rasulullah tidak mengagungkan al-Qur’an? Tidak diragukan bahwa beliau mengagungkan al-Qur’an, namun demikian beliau tidak mencium al-Qur’an”. Atau mereka mengatakan: “Engkau mengingkari kami mencium al-Qur’an, sementara engkau sendiri naik mobil, bepergian menggunakan pesawat terbang, padahal semua itu adalah bid’ah!”, maka bantahannya adalah sesuai dengan yang pernah kalian dengar bahwa setiap bid’ah yang merupakan kesesatan hanya pada permasalahan agama, sedangkan permasalahan duniawi; sebagaimana kita tunjukkan di atas, kadangkala boleh untuk dilakukan dan bisa juga haram -sampai akhir-. Ini sudah dimengerti dan tidak membutuhkan contoh.

Seseorang yang bepergian menggunakan pesawat terbang menuju Ka’bah untuk melaksanakan ibadah haji, tidak diragukan, bahwa hal itu boleh dilakukan, sedangkan seseorang yang bepergian menggunakan pesawat terbang menuju negeri barat, maka tidak diragukan, bahwa hal itu adalah kemaksiatan, dan demikian seterusnya.

Sedangkan dalam masalah ibadah yang jika ditanyakan kepada si pelaku : “Kenapa engkau melakukannya?”, maka dia akan menjawab : “Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala!”

Di sini saya katakan : Tidak ada jalan lain untuk mendekatkan diri. kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang telah disyariatkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun saya ingin mengingatkan tentang sesuatu yang -menurut keyakinan saya- sangat penting artinya untuk membangun dan memperkokoh kaidah “setiap bid’ah adalah kesesatan”; tidak ada ruang bagi akal sama sekali.

Sebagian ulama salaf menyatakan: “Tidaklah dilakukan satu bid’ah kecuali bersamanya matilah satu Sunnah”.

Saya menyentuh kenyataan ini dengan tangan saya[5] berdasarkan penelitian yang saya lakukan terhadap hal-hal yang diada-adakan dalam urusan agama, bagaimana hal itu seringkali dapat menyalahi apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Para ulama ketika mengambil mushhaf al-Qur’an untuk dibaca, maka anda tidak akan pernah melihat mereka menciumnya, mereka hanya mengamalkan isi al-Qur’an. Sedangkan kebanyakan orang -yang perasaannya tidak memiliki prinsip- akan mengatakan : “Apa salahnya mencium al-Qur’an?”, padahal mereka tidak mengamalkan isi al-Qur’an!

Jadi kita katakan : “Tidaklah dilakukan satu bid’ah kecuali bersamanya matilah satu Sunnah.”

Seperti bid’ah ini, ada bid’ah lain: kita seringkali melihat orang-orang -walau orang fasik sekalipun yang masih memiliki sedikit keimanan dalam hatinya- ketika mereka mendengar suara muadzdzin mengumandangkan adzan, mereka serta-merta berdiri tegak! jika anda menanyakan hal ini kepada mereka : “Untuk apa sikap berdiri tegak ini?”, mereka akan menjawab: “Sebagai pengagungan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala!”, mereka tidak pergi ke masjid, namun meneruskan permainan dadu dan catur mereka atau yang semisalnya, akan tetapi mereka meyakini, bahwa mereka sedang mengagungkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan berdiri tegak tersebut! apa dasar hukum dari sikap berdiri tegak ini? Tentu saja datangnya dari sebuah hadits palsu yang tidak berdasar sama-sekali, yaitu: “Jika kalian mendengar suara adzan, maka berdirilah!”[6]

Hadits ini sebenarnya memiliki dasar, akan tetapi sudah dirubah oleh sebagian perawi dha’if atau palsu, dikatakan: (Quumuu) “Berdirilah” sebagai pengganti lafal: (Quuluu) “Ucapkanlah”, kemudian hadits yang shahih ini diringkas: “Jika kalian mendengar suara adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian bacalah shalawat kepadaku …[7] sampai akhir hadits. Perhatikan bagaimana syaithan menghiasi suatu bid’ah bagi seseorang dan meyakinkannya, bahwa dia seorang yang beriman dan mengagungkan syi’ar Allah Subhanahu Wa Ta’ala, buktinya adalah kalau dia memegang mushhaf al-Qur’an, maka dia menciumnya, dan kalau dia mendengar suara adzan, dia akan berdiri tegak?!!!

Akan tetapi, apakah dia mengamalkan isi al-Qur’an? Jawabannya: tidak!, misalnya dia melaksanakan shalat, akan tetapi apakah dia tidak makan barang haram? Apakah tidak makan riba? Apakah dia tidak menghidupkan riba? Apakah tidak memenuhi masyarakat dengan berbagai media yang menambah kemaksiatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Apakah? Apakah?  Berbagai pertanyaan yang tidak akan ada habisnya. Oleh karena itu, kita hanya melaksanakan ketaatan dan peribadatan sesuai dengan apa yang disyaria’atkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak kita tambahi walaupun hanya satu huruf, karena hal itu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Aku tidak meninggalkan apa yang diperintahkan Allah kepada kalian kecuali telah aku perintahkan kepada kalian, dan aku tidak meninggalkan apa yang dilarang Allah atas kalian kecuali aku telah melarangnya atas kalian.”[8] Perbuatan yang anda lakukan ini, apakah dengannya anda berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Kalau jawabannya: Ya! maka tunjukkanlah nash dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kalau dijawab: Tidak ada nash dari Rasulullah Subhanahu Wa Ta’ala, maka itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Jangan sampai hal ini menjadi pertanyaan bagi seseorang sehingga dia mengatakan: “Sesungguhnya masalah ini tingkatannya sangat kecil sekali, namun demikian itu efeknya bisa sampai pada kesesatan dan pelakunya masuk neraka?!”

Pertanyaan semacam ini telah dijawab oleh Imam asy-Syathibi, beliau katakan: “Setiap bid’ah walau sekecil apapun tetap kesesatan.”

Hukum ini -yaitu bahwa bid’ah adalah kesesatan- tidak dilihat pada obyek bid’ah, yang dilihat adalah tempat dimana bid’ah tersebut diletakkan; dimanakah tempat itu? Tempat tersebut adalah syariat Islam yang telah lengkap dan sempurna, sehingga tidak ada kesempatan bagi siapapun juga untuk menambah syari’at Islam dengan bid’ah baik kecil mauputt besar. Dari sinilah kesesatan bid’ah, bukan hanya sekedar mengada-adakannya, namun karena bid’ah telah memberikan makna menambah-nambahi atas syari’at Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dinukil dari Belajar Mudah Ilmu Tafsir, Muhammad Shalih Al-Utsaimin dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerbit Pustaka As-Sunnah, hal. 151-157.


[1]Shahih at-Targhib Wat-Tarhib (1/92/34)

[2]Shalatu at-Taraawiih (hal. 75).

[3]Shahih at-Targhib Wat Tarhib (1/94/41).

[4]Shahih al-Jami’ (3174).

[5]Maksudnya melihat dan mengalaminya sendiri (pent).

[6] Adh-Dha’ifah (711).

[7] Muslim (384).

[8]Ash-Shahihah (1803).

One comment on “Hukum Mencium Mushaf

  1. M. rohman
    November 10, 2014

    Subhannallah..alhamdulilah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 10, 2010 by in Al Quran, Bid'ah and tagged .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: