أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Syubhat Seputar Larangan Shalat di Masjid Yang Dibangun di Atas Kuburan

Tulisan pertama dari dua tulisan

Tulisan berikut adalah nukilan dari buku Larangan Shalat di Masjid Yang Dibangun Diatas Kubur karangan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dalam bab  syubhat tentang makam Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang sekarang ini berada di dalam masjid Nabawi yang berkaitan dengan larangan shalat di masjid yang di bangun di atas kuburan. Berikut nukilannya:

Syubhat kedua adalah pernyataan yang menyebut kan bahwa makam Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berada di dalam masjidnya sebagaimana yang ada sekarang ini, seandainya hal itu haram, niscaya beliau tidak akan dikuburkan di dalam masjid.

Mengenai syubhat tersebut, dapat dijawab bahwa yang demikian itu, meskipun yang tampak sekarang ini memang seperti itu, maka pada masa Sahabat Radhiyallahu Anhum keadaannya tidak demikian. Sebab, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat, para Sahabat menguburkan beliau di kamarnya yang terletak tepat di samping masjidnya. Antara keduanya dipisahkan oleh dinding yang berpintu. Dari pintu tersebut beliau biasa keluar menuju masjid. Hal itu sudah  sangat terkenal dan pasti menurut para ulama,           dan tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang itu. Para Sahabat (di waktu) menguburkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di  kamar beliau, tidak lain bertujuan agar tidak seorang pun sepeninggal beliau akan mennjadikan makamnya sebagai masjid, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya di dalam  Hadits ‘Aisyah dan  yang lainnya.

‘I’etapi yang terjadi setelah itu di luar perkiraan mereka. Di mana al-Walid bin `Abdul Malik, pada tahun 88 memerintahkan untuk memugar Masjid dan menambahkan kamar isteri-isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada bangunan masjid. Lalu dimasukkan kamar Nabi, yang juga kamar `Aisyah ke dalam bangunan masjid, sehingga makam beliau berada di dalam masjid.[1]

Dan di Madinah an-Nabawiyyah tidak terdapat seorang Sahabat pun pada saat itu, berbeda dengan apa yang diragukan oleh sebagian mereka.

Di dalam kitab ash-Shaarimul Manki, (hal. 136), Al-Allamah al-Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadi mengatakan: “Digabungkannya kamar Nabi ke dalam masjid pada masa kekhalifahan al-Walid bin Abdul Malik, berlangsung setelah meninggalnya seluruh Sahabat yang tinggal di Madinah. Dan Sahabat  yang terakhir kali meninggal dunia adalah Jabir bin  `Abdillah, di mana beliau meninggal dunia pada masa  kekhalifahan `Abdul Malik. Beliau meninggal pada tahun 78. Al-Walid menjadi khalifah tahun 86 dan wafat tahun 96. Sedangkan renovasi bangunan masjid dan penggabungan bangunan kamar Nabi itu terjadi di antara tahun-tahun tersebut.[2]

Abu Zaid `Umar bin Syabah an-Numairi di dalam k i tab Akhbaarul Madiinah, telah menceritakan tentang Madinah (kota) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam , dari para syaikhnya, tlari orang-orang yang menyampaikan hadits darinya, bahwa `Umar bin `Abdul `Aziz ketika menjadi wakil al-Walid dalam memimpin Madinah pada tahun 91, menghancurkan masjid dan membangunnya kembali dengan batu yang terukir, dengan atap dari kayu, dan air emas. Dan dia hancurkan beberapa kamar isteri-­isteri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, lalu menggabungkannya ke dalam masjid dan juga memasukkan makam itu ke dalamnya.


[1]Taariikh Ibni Jarir (V/222-223). Dan Taariikh Ibni Katsir /74-75).

[2]Dapat saya katakan: “Al-Hafizh ‘Abdul Hadi tidak menyebutkan secara jelas tahun berlangsungnya peristiwa itu, karena tidak ada riwayat yang pasti yang menceritakan hal tersebut. Dan hadits yang kami nukil dari Ibnu Jarir berasal dari riwayat al-Waqidi, sedang dia adalah seorang yang muttaham (tertuduh). Dan riwayat Ibnu Syabah yang akan diuraikan lebih lanjut dalam ungkapan al-Hafizh Ibnu `Abdul Hadi, porosnya adalah orang-orang yang tidak tahu dan mereka bersumber dari orang yang tidak diketahui juga.  Seperti yang tampak dengan jelas. Dengan demikian, tidak ada sedikit pun darinya yang dapat dijadikan hujjah. Menurut kesepakatan para ahli sejarah, memasukkan kamar Nabi ke dalam masjid itu pada waktu pemerintahan al-Walid. Dan hal tersebut sudah cukup untuk menetapkan bahwa peristiwa itu berlangsung setelah kematian para Sahabat yang tinggal di Madinah, sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh al-Hafizh, tetapi hal itu dirancukan oleh apa yang diriwayatkan oleh Abu `Abdillah ar-Razi di dalam kitab Masyikhahnya (218/1), dari Muhammad bin ar-Rabi’ al-Jaizi: Sahl bin Sa’ad meninggal dunia di Madinah dengan usia 100 tahun. Dia wafat pada tahun 91, dan dia merupakan Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam paling akhir yang meninggal dunia di Madinah. Hanya saja, al-Jaizi ini tidak saya kenal. Selain itu, dia juga seorang yang sangat misterius. Hal senada juga disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab al-Ishaabah (2/87) dari az-Zuhri dari perkataannya bahwa khabar itu mu’dhal (dua sanad atau lebih terputus secara berurutan) atau mursal (sanadnya ter­putus setelah Tabi’in), lalu ia mengatakan: “Ada yang mengatakan, hal itu berlangsung sebelumnya. Ibnu Abi Dawud  mengaku bahwa dia (Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu). meninggal dunia di Iskandaria.” Dan di dalam at-Taqriib disebutkan bahwa dia meninggal dunia pada tahun 88. Wallaahu a’lam.

Ringkas kata, dapat dikatakan bahwasanya pada kami tidak ada nash yang bisa menjadi dalil bahwasanya ada salah seorang Sahabat pada masa proses perubahan ini. Oleh karena itu, barangsiapa mengklaim kebalikan dari itu, maka dipersilahkan mengajukan bukti. Sedangkan apa yang diberita­kan di dalam Syarh Muslim (V/13-14) bahwa peristiwa tersebut terjadi pada masa Sahabat, barangkali sandarannya adalah riwayat yang mu’dhal atau mursal. Dan riwayat seperti itu tidak dapat menjadi hujjah yang menunjukkan bahwa ia lebih khusus dari pengakuan. Sebab, jika hal itu memang benar, maka riwayat itu menetapkan adanya salah seorang Sahabat pada saat itu, tidak (beberapa Sahabat).

Sedangkan pendapat beberapa orang yang menulis masalah ini tanpa didasari ilmu: “Jadi, Masjid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam itu ada sejak diperluas oleh `Utsman Radhiyallahu Anhu dan dia masukkan apa yang sebelumnya bukan dari bagian masjid tersebut, sehingga tiga makam masuk bagian masjid, tidak ada seorang pun dari kaum Salaf yang mengingkari hal tersebut.”

Maka, di antara bentuk kebodohan mereka yang tidak berbatas -dan saya tidak bermaksud mengatakan bahwa hal itu merupakan bagian dari tindakan mengada-ada mereka ­karena tidak ada seorang pun dari ulama yazng mengatalcan bahwa pemasukan ketiga makam ke dalam masjid berlangsung pada masa `Utsman Radhiyallahu Anhu, tetapi mereka bersepakat bahwa hal tersebut terjadi pada masa al-Walid bin `Abdul Malik, seperti yang dijelaskan sebelumnya, yakni setelah `Utsman, kira-kira setengah abad, hanya saja mereka telah berbicara atas apa yang tidak mereka ketahui.

Yang demikian itu karena `Utsman Radhiyallahu Anhu melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang mereka nisbatIcaii kepadanya, di mana ketika memperluas masjid Nabawi, dia sangat berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam “lembah” yang bertentangan dengan hadits-hadits yang mengisyaratkan kepadanya. Dengan demikian, masjid tersebut tidak diperluas dari sisi kamar dan tidak juga dia memasukannya ke dalam masjid. Ini pula yang dilakukan olehi pendahulunya, `Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu Anhu. Bahkan, hal ini mengisyarat kan bahwa perluasan itu dari sisi yang diisyaratkan kepada nya yang diperingatkan dan disebutkan dii dalam hadits-­hadits terdahulu, seperti yang akan dibahas tidak lama lagi.

Sedangkan ungkapan mereka: “Dan tidak ada seorangpun dari kaum Salaf yang mengingkari hal teersebut.”

Mengenai hal tersebut, dapat kami tanyakan, “Apakah kalian tahu tentang hal itu?” Yang paling sulit bagi para intelektual adalah menetapkan penafian sesuatu mungkin saja terjadi dan tidak diketahui, sebagaimana yang sangat  populer di kalangan ulama, karena yang demikian memerlukan penyelidikan penuh dan penguasaan terhadap segala yang terjadi. Dan pendapat yang dikemukakan sekitar peristiwa yang berkaitan dengan masalah yang maksudnya hendak dinafikan. Dari mana (datang) sebagian yang diisyaratkan akan mereka kerjakan jika mereka mampu. Seandainya mereka merujuk kembali beberapa buku yang mem­bahas masalah ini, niscaya mereka tidak akan terperangkap ke dalam kebodohan yang memalukan, dan pasti mereka akan mendapatkan apa yang mereka emban untuk tidak mengingkari apa yang ilmunya tidak mereka kuasai. Di kitab Tarikhnya, (hal. 75, jilid IX), setelah menyitir kisah penggabungan makam Nabi ke Masjid, Ibnu Katsir me­ngatakan: “Diceritakan bahwa Sa’id bin al-Musayyab me­nolak penggabungan kamar ‘Aisyah ke dalam masjid, seakan­akan dia khawatir makam beliau itu akan dijadikan masjid.”

Bagi saya, shahih atau tidaknya riwayat ini tidak begitu saya perlukan, karena kita tidak membuat hukum syari’at di atasnya, tetapi dugaan terhadap Sa’id bin al-Musayyab dan juga ulama-ulama lainnya yang mengetahui perubahan itu, benar-benar menolak hal tersebut, karena pertentangan­nya terhadap hadits-hadits terdahulu, khususnya riwayat `Aisyah, yang di dalamnya ‘Aisyah mengatakan: “Kalau bukan karena (laknat) itu, niscaya kuburan beliau akan di­tempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut makam­nya itu akan dijadikan sebagai masjid.” Dan apa yang di­khawatirkan oleh para Sahabat pun akhirnya terjadi -yang sangat disayangkan- dengan masuknya makam beliau ke dalam masjid, di mana tidak ada perbedaan antara mereka memakamkan beliau pada saat beliau wafat di dalam masjid dan antara apa yang dilakukan oleh orang-orang setelah mereka yang memasukkan makam beliau ke dalam masjid dengan segala keluasannya. Dan apa yang dikhawatirkan itu pun terjadi, seperti yang dikemukakan terdahulu dari al-Hafizh al-`Iraqi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dan dugaan ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Sa’id bin al­Musayyab merupakan salah satu perawi hadits kedua, sebagaimana disampaikan sebelumnya. Apakah pantas bagi orang yang diakui keilmuan, kemuliaan, dan keberaniannya dalam kebenaran, diduga bahwa dia mengingkari orang yang menolak hadits yang dia merupakan salah satu periwayatnya, atau pantaskah dia disebut tidak mengingkari hal itu, sebagaimana yang diklaim orang-orang yang diisyaratkan kepada mereka ketika mereka berkata: “Tidak ada seorang Salaf pun yang mengingkari hal tersebut?!”

Pada hakikatnya, ungkapan mereka itu mengandung celaan yang sangat nyata -jika mereka menyadari- terhadap seluruh kaum Salaf, karena memasukkan makam ke masjid sudah jelas-jelas perbuatan menyimpang dalam pandangan orang-orang yang mengetahui hadits-hadits terdahulu dengan segala maknanya. Suatu hal yang mustahil jika kita harus menisbatkan kebodohan mereka akan hal itu kepada seluruh kaum Salaf. Mereka, atau minimal sebagian mereka me­ngetahui hal tersebut dengan penuh keyakinan. Jika demi­kian kenyataannya, maka dapat kita katakan bahwa mereka mengingkari hal tersebut, meskipun kita tidak mendapatkatt nash mengenai hal itu, karena sejarah tidak mencatat(kan) seluruh kejadian kepada kita, lalu bagaimana mungkin di­katakan bahwa mereka tidak mengingkari hal tersebut? Ya Allah, berikanlah ampunan.

Bentuk kebodohan lainnya adalah ungkapan mereka yang merupakan tambahan bagi ungkapan sebelumnya: “Demikian juga dengan masjid Bani Umayyah sejak masuknya kaum muslimin ke Damaskus, baik dari kalangan Sahabat maupun yang lainnya. Sedangkan makam ada di dalam masjid, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengingkari hal ter­sebut.”

Logika mereka itu benar-benar ganjil lagi aneh. Mereka itu benar-benar berimajinasi bahwa apa yang mereka saksi­kan sekarang ini di masjid Bani Umayah sudah ada sejak masa pendiri pertamanya, al-Walid bin ‘Abdul Malik. Apa­kah mungkin hal tersebut dikatakan oleh orang yang ber­akal? Tidak, sama sekali tidak mungkin, kecuali orang-orang itu saja. Dan dengan pasti kami menilai ungkapan mereka itu salah. Dan bahwasanya tidak ada seorang pun dari Sahabat dan Tabi’in yang melihat makam dengan jelas di dalam masjid Bani Umayah atau yang lainnya. Bahkan, apa yang terkandung di dalam beberapa riwayat dari Zaid bin Waqid bahwa pada saat proses berlangsung, mereka mendapati gua yang di dalamnya terdapat peti yang berisi keranjang.

Pada keranjang tersebut terdapat kepala Yahya bin Zakariya Alaihissalam yang tertulis di atasnya: Ini kepala Yahya Alaihissalam. Maka al-Walid memerintahkan agar dikembalikan ke tempatnya seraya berkata: “Rubahlah tiang-tiang yang ada di atasnya.” Lalu dia membuatkan di atasnya tiang yang dicor di tempat keranjang kepala. Diriwayatkan oleh Abul Hasan ar-Rib’i di dalam kitab Fadhaa-ilusy Syam (33). Dan dari jalan Ibnu `Asakir di dalam Tarikhnya (juz II/1, hal. 9-10). Sanadnya dha’if  jiddan (lemah sekali). Di dalamnya terdapat Ibrahim Ibnu Hisyam al-Ghassani, yang didustakan oleh Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Adz-Dzahabi mengatakan, “Dia seorang yang matruk (tidak dianggap).”

Dengan demikian, secara pasti dapat kita katakan bahwa di dalam masjid tidak terdapat bentuk makam sampai akhir abad kedua, berdasarkan pada apa yang diriwayatkan oleh ar-­Rib’i dan Ibnu `Asakir dari al-Walid bin Muslim bahwasanya dia pernah ditanya, “Di mana engkau diberitahu tentang keberadaan kepala Yahya bin Zakariya?” Dia menjawab, “Aku diberitahu keberadaannya itu ada di sana.” Dia me nunjuk ke tiang keempat dari rukun (sudut) timur yang berlapis kulit. Dan itu menunjukkan bahwa di sana tidak terdapat makam pada masa al-Walid bin Muslim sedang dia wafat pada tahun 194.

Mengenai keberadaan kepala yang disebut kepala Yahya Alaihissalam, maka tidak memungkinkan penetapannya secara pasti. Oleh karena itu, para ahli sejarah telah berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Mayoritas mereka menyatakan bahwa kepala Yahya Alaihissalam dimakamkan di masjid Halab, bukan di masjid Damaskus, sebagaimana yang ditahqiq oleh al­`Allamah Syaikh Muhammad Raghib ath-Thabbakh dalam suatu pembahasan miliknya yang dipublikasikan oleh majalah al-Majma’ul ‘Ilmil ‘Arabi, di Damaskus, (jilid I, hal. 41-1482), dengan judul: Kepala Yahya dan Kepala Zakariya. Bagi siapa yang ingin, silahkan merujuknya.

Tidak penting bagi kami sebutan ini atau itu dari sisi syari’at, baik kepala mulia itu ada di dalam masjid ini atau yang lainnya, tetapi seandainya kita benar-benar meyakiti tidak adanya kepala tersebut di masing-masing masjid itu, maka keberadaan bentuk makam di dalam kedua masjid tersebut cukup menjadi suatu hal yang menyimpang, karena hukum syari’at yang suci itu dibangun berdasarkan lahiriah, bukan yang bathin, seperti yang sudah diketahui bersama.

Pada pembahasan berikutnya, akan disampaikan ungkapan ulama yang memperkuat hal tersebut. Penentangan yang paling parah adalah jika makam itu berada di kiblat masjid, sebagaimana yang terjadi di masjid Halab, dan tidak seorang pun dari ulama kita yang mengingkari hal tersebut.

Ketahuilah, upaya menghilangkan penyimpangan itu  tidak berarti apa pun, karena makam itu berada di dalam masjid di tempat yang terpisah, sebagaimana yang diakui oleh para penulis risalah. Sebab, bagaimanapun ia tetap saja tampak. Dan makam itu tidak ditujukan oleh orang-orang awam dan orang-orang khusus kecuali untuk menghadap kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan melalui perantaraan selain Allah Tabaaraka wa Ta’ala. Dengan demi­kian, munculnya makam itu merupakan sebab larangan, sebagaimana akan dijelaskan nantinya melalui ungkapan Imam an-Nawawi

Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa pendapat orang-orang yang kami isyaratkan tadi tentang makam Yahya Alaihissalam ber­ada di Masjid Umawi ketika para Sahabat dan selain mereka memasuki Damaskus, tidak diingkari oleh seorang pun dari mereka. Pernyataan ini jelas merupakan rekayasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: