أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Syubhat Seputar Larangan Shalat di Masjid Yang Dibangun di Atas Kuburan (lanjutan)

Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa makam yang mulia itu dimasukkan ke dalam masjid Nabawi ketika tidak ada seorang pun Sahabat di Madinah. Dan hal itu berbeda dengan tujuan mereka pada saat mereka mengubur beliau Shallallahu Alaihi Wasallam  di kamarnya. Dengan demikian, setelah mengetahui kebenaran ini, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berhujjah dengan peristiwa yang terjadi setelah Sahabat , karena ia memang bertentangan dengan hadits-hadits shahih serta pemahaman para Sahabat dan para imam terhadap hadits-hadits tersebut, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal itu juga bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh ‘Umar dan `Utsman pada saat keduanya meluaskan masjid dan keduanya tidak memasukkan makam ke dalamnya.

Oleh karena itu, secara pasti kami berani menyalahkan apa yang dilakukan oleh al-Walid bin ‘Abdul Malik, mudah-mudahan Allah mengampuninya. Kalau memang dia terpaksa melalukan perluasan masjid, hendaknya dia berusaha semaksirnal mungkin untuk memperluasnya dari sisi-sisi yang lain tanpa harus mengutak-atik kamar Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mulia. Dan `Umar bin al-Khaththab telah mengisyaratkan kesalahan semacam ini ketika dia melakukan perluasan terhadap masjid dari beberapa sisi yang lain tanpa mengutak-atik bagian kamar Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, bahkan dia mengatakan, “Tidak ada alasan untuk merubah posisi kamar.”[1]

I,alu ‘Umar Radhiyallahu Anhu mengisyaratkan pada bahaya yang mengancam akibat penghancuran dan penggabu­ngannya ke masjid.

Dengan sikap yang bertentangan secara nyata terhadap hadits-hadits terdahulu dan juga Sunnah Klaulafa’ ur Rasyidin, maka orang-orang yang me­nentang tersebut pada saat memasukkan makam Nabi ke dalam masjid cukup berhati-hati dan berusaha untuk meminimalisir pertentangan yang mereka dapat lakukan. Di dalam kitab Syarh Muslim, (V/ 14), Imam an-Nawawi mengatakan: “Para Sahabat dan Tabi’in membutuhkan penambahan luas masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika jumlah kaum muslimin semakin banyak. Penambahan itu sampai memasukkan rumah  isteri-isteri Nabi ke dalam masjid, yang di antaranya adalah kamar `Aisyah Radhiyallahu Anha , yang juga menjadi makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan dua orang Sahabat beliau, Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu Anhuma. Maka, mereka pun membangun dinding yang tinggi yang mengelilingi makam tersebut agar makam itu tidak tampak di dalam masjid.[2]

Untuk selanjutnya kaum awam mengerjakan shalat dengan menghadap ke sana dan menyeret kepada hal yang dilarang. Kemudian mereka membangun dua dinding dari dua sudut makam sebelah utara, lalu membelokkannya sehingga keduanya bertemu. Dengan demikian, tidak memungkinkan bagi seorangpun untuk menghadap ke makam.

Al-Hafizh Ibnu Rajab di dalam al-Fat-h juga menukil hal senada dari al-Qurthubi, sebagaimana di  dalam kitab al-Kawaakibud Daraari (65/91/1).

Dan di dalam kitab al-Jawaabul Baahir (9/2), Ibnu  Taimiyyah mengatakan: “Pada saat kamar `Aisyah di masukkan ke dalam masjid, pintunya ditutup, dan di atasnya dibangun dinding lain, sebagai upaya melindungi rumah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam agar tidak dijadikan tempat perayaan dan (agar) makamnya (tidak dijadikan) sebagai berhala.”

Dapat saya katakan: “Sayangnya, di atas bangunan  ini telah dibangun kubah hijau yang cukup tinggi sejak beberapa abad yang lalu -jika belum dihilangkan-, dan makam yang mulia itu dikelilingi dengan jendela-jendela yang terbuat dari tembaga, beberapa hiasan, kain, dan lain-lain yang sebenarnya tidak diridhai oleh penghuni makam itu sendiri, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam..

Bahkan, ketika saya mengunjungi Masjid Nabawi yang mulia pada tahun 1368 H, saya melihat di bagian  bawah dinding makam sebelah utara terdapat mihrab kecil yang di belakangnya ada tempat duduk yang sangat tinggi, sebagai petunjuk bahwa tempat tersebut merupakan tempat khusus untuk shalat di belakang makam. Pada saat itu, saya benar-benar heran, bagaimana fenomena berhalaisme seperti masih tetap ada, bahkan di negara penjunjung tinggi tauhid sekalipun.”

Saya katakan tentang hal tersebut dengan mem­berikan pengakuan bahwa saya tidak melihat seorang pun mendatangi tempat itu untuk shalat di sana, karena ketatnya penjagaan aparat yang ditugasi mencegah orang-orang mengerjakan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at di dekat makam yang mulia tersebut. Dan itu merupakan kebijakan yang disyukuri oleh negara Saudi. Namun demikian, hal tersebut tidak cukup dan tidak memadai. Sejak tahun yang lalu, saya sudah mengemukakan di dalam buku saya Ahkaamul janaa-iz wa Bida’uha, (hal. 208): “Yang dilakukan adalah mengembalikan Masjid Nabawi seperti pada masa-masanya terdahulu, yaitu dengan memisahkan antara masjid dan makam Nabi dengan tembok, yang membentang dari arah utara ke selatan, di mana orang yang masuk masjid tidak melihat hal-hal bertentangan yang justru tidak diridhai oleh pendirinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Saya yakin penuh bahwa yang demikian itu merupakan kewajiban negara Saudi, yaitu negara yang berdiri di Atas tauhid. Dan kita sudah pernah dengar, Negara telah memerintahkan untuk kembali memperluas masjid. Dan mudah-mudahan usulan kami ini menjadi perhatian, dan (pihak terkait) memberikan tambahan dinding pemisah itu dari arah barat dan selainnya. Dan hal tersebut akan menutupi kekurangan yang mungkin akan menimpa keluasan mesjid jika usulan tersebut diterapkan. Saya berharap Alah merealisasikan hal itu melalui negara tersebut dan orang yang lebih berkompeten lagi darinya.”

Tahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuur Masaajid, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Edisi Indonesia Larangan Shalat di Masjid Yang Dibangun Di Atas Kubur, Penerbit Pustaka Imam Syafi’i, hal.112-129.


[1]Lihat: Thabaqaat Ibni Sa’ad (IV/21), Taariikh Dimasyqi, Ibnu ‘Asakir (VIII/478/2). Di dalam kitab al-Jaami’ul Kabiir, (III/ 272/2), as-Suyuthi mengatakan: “Sanad hadits ini shahih, hanya saja Salim Abu an-Nadhr tidak pernah bertemu ‘Umar secara langsung.” Juga buku Wafaa-ul Wafa’, karya as-Samahudi (I/343), al-Musyaahadaatul Ma’shuumiyah `inda Qabri Khairil Bariyyah, karya al-`Allamah Muhammad Sulthan al-Ma’shumi Rahimahullah (hal. 43). Beliau ini adalah penulis risalah: Hadiyyatus Sulthaan ilaa Bilaadil Yaabaan, yang oleh salah seorang Doktor, risalah itu diklaim bukan miliknya, tetapi milik salah seorang saudara kami, padahal saya me­nerimanya langsung darinya sebagai hadiah cetakan pada saat saya berkunjung ke kediamannya di Makkah pada saat saya menunaikan haji yang pertama kali, tahun 1368 H.

[2]Dalam hal ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa tampaknya, makam di dalam masjid meski dari belakang jendela, besi, dan pintu, tidak menghilangkan larangan, sebagai mana yang terjadi pada makam Yahya di masjid Bani Umayyah di Damaskus dan Halab. Oleh karena itu, Ahmad menashkan bahwasanya tidak diperbolehkan shalat di masjid yang kiblatnya mengarah ke makam, sehingga di antara dinding masjid dan makam itu terdapat pemisah lain, sebagaimana yang akan dijelaskan lebih lanjut. Lalu, bagaimana jika makam itu berada di kiblat masjid di bagian dalam dengan tanpa adanya dinding pemisah sama sekali? Dari hal tersebut, Anda dapat mengetahui bahwa ungkapan sebagian mereka merupakan ungkapan yang tidak didasarkan pada pengetahuan dan pemahaman: “Sesungguhnya shalat di masjid yang padanya terdapat makam, seperti misalnya masjid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan masjid Bani Umayyah tidak disebut sebagai shalat di kuburan, karena makam itu terletak di tempat tersendiri yang terpisah dari masjid. Lalu apa yang melarang shalat di dalamnya?”

Ungkapan tersebut jelas tidak didasarkan pada ilmu dan pcmahaman, sebab larangan yang ada di masjid Umawi masih tetap ada di sana, yaitu tampaknya makam dari belakang ruang khusus tersebut. Dan yang menjadi dalil atas hal itu adalah tujuan orang-orang terhadap makam tersebut, untuk berdo’a di dekatnya dan berdo’a melalui perantaraannya serta memohon pertolongan padanya, kepada selain Allah, dan lain-lain yang memang tidak diridhai oleh Allah. Pembuat Syari’at yang Mahabijaksana melarang pembangunan masjid di atas makam itu sebagai upaya menutup jalan dan untuk menghindari hal-hal yang bisa terjadi di makam tersebut, sebagaimana yang akan dijelaskan lebih lanjut. Pada saat itu, apa fungsi dari ruangan khusus yang terpisah jika

masih terjadi berbagai kemunkaran di makam tersebut?

Bahkan, pengadaan ruangan terpisah dengan dihiasi berbagi hiasan tersebut merupakan bentuk lain dari kemunkaran yang bisa menyeret orang untuk berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, juga mengagung-agungkan penghuni kubur tersebut, yang menurut syari’at jelas tidak diperbolehkan, hal seperti ini dapat disaksikan dan dikenal di mana-­mana. Dan pembahasannya telah diberikan sebelumnya.

Kemudian, tidakkah cukup untuk menetapkan larangan menempatkan makam di dalam masjid melalui tindakan orang-orang yang menghadap ke makam pada saat shalat, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja. Mungkin orang­-orang yang sedang diperbincangkan dan yang serupa mereka itu akan mengatakan, “Tidak ada larangan untuk menghadap kc arah makam karena adanya penghalang antara orang-­orang yang shalat dengan makam, yaitu jendela makam dan pagar yang terbuat dari tembaga.” Mengenai hal tersebut, dapat kami katakan, “Seandainya penghalang tersebut sudah cukup memadai (untuk dibolehkannya shalat menghadap ke makam), niscaya para Sahabat tidak akan menutup makam Nabi yang mulia dengan dinding yang tinggi di sekelilingnya. Dan tidak cukup hanya dengan itu, bahkan mereka membangun dua dinding yang dengan keduanya mereka terhalang dari menghadap ke makam, meski berdo’a di belakang dinding yang mengelilingi.

Dan telah shahih diriwayatkan dari Ibnu Juraij, di mana dia pernah bercerita, aku pernah bertanya kepada `Atha’, “Apakah kamu benci shalat di tengah-tengah kuburan, atau di masjid yang menghadap ke makam?” Dia menjawab, “Ya, aku membencinya. Dan hal itu memang dilarang.” Diriwayatkan oleh `Abdurrazzaq di dalam kitab Mushannafnya (1/40,1/ 1579). Jika seorang Tabi’in yang mulia (`Atha’ bin Abi Rabali) ini tidak menganggap dinding masjid sebagai pemisah antara orang yang shalat dengan makam sedang dia berada di luar masjid, maka apakah jendela, pagar, dan makam di masjid itu bisa dianggap sebagai pemisah?

Apakah dalam hal tersebut terdapat sesuatu yang memuaskan para penulis itu dengan kebodohan dan kesalahan mereka serta penyerangan mereka terhadap pendapat yang tidak di dasarkan pada ilmu sama sekali?

Adapun Masjid Nabawi yang mulia, maka tidak ada kemakruhan shalat di dalamnya, berbeda dengan apa yang mereka ada-adakan atas kami. Penjelasan mengenai hal tersebut akan diuraikan lebih lanjut di “Bab Ketujuh” insya Allah Ta’ala.

Hanya saja, saya tidak lupa untuk mengingatkan para pembaca yang budiman bahwa para penulis itu melalui tulisan-tulisan mereka terdahulu mengakui bahwa shalat di masjid yang di dalamnya terdapat makam yang tidak dikelilingi oleh ruangan tersendiri adalah shalat yang makruh karena tidak adanya alasan yang dapat menafikan hukum makruh shalat di masjid Bani Umayyah melalui klaim mereka. Lalu, apakah mereka perlu menyuarakan pengakuan mereka itu secara lantang? Ataukah yang demikian itu merupakan sesuatu yang memaksa mereka menyampaikan ungkapan yang membawanya lari dari penentangan hadits- hadits terdahulu secara terang-terangan, meskipun mereka tidak mengajak orang-orang untuk mengamalkannya, sebagai suatu tujuan yang bukan rahasia lagi bagi kaum cerdik  cendikia?

One comment on “Syubhat Seputar Larangan Shalat di Masjid Yang Dibangun di Atas Kuburan (lanjutan)

  1. 444
    Juni 16, 2010

    alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: