أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Orang Yang Telah Dikubur Disiksa Karena Tangisan Keluarganya

Pertanyaan:

Banyak orang yang mengatakan : “Jika suatu hadits menyalahi ayat dalam al-Qur’an, maka hadits tersebut tertolak walau bagaimanapun derajat keshahihannya”, kemudian dia memberikan contoh hadits:

“Sesungguhnya orang yang dikubur mendapatkan siksa lantaran tangisan keluarganya.”[1]

 

Dia juga berdalih dengan perkataan Aisyah yang menolak hadits tersebut dengan membawakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya:

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali(mu).” (Q.S. Faathir:18)

 

Bagaimana membantah orang yang mengatakan demikian?

Jawaban

 

Menolak hadits ini termasuk dalam kategori menolak as-­Sunnah, hal itu menunjukkan akan melencengnya keyakinan.

Jawaban tentang hadits ini -khususnya untuk orang yang berpatokan kepada hadits Aisyah- yaitu :

 

Pertama : Dari sisi ilmu hadits : Hadits ini tidak bisa disanggah dilihat dari sisi ilmu hadits karena dua sebab :

Satu: Hadits tersebut sanadnya shahih dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma.

Dua : Ibnu Umar tidak sendiri dalam meriwayatkannya, namun diikuti oleh Umar Ibn Khatthab, dia dan puteranya juga tidak sendirian meriwayatkan hadits ini, namun diikuti oleh al-Mughirah Ibn Syu’bah. Inilah yang saya ingat saat ini tentang  riwayat-riwayat dari ketiga orang Sahabat tersebut dalam Kitab ash-Shahihain.

 

Sedangkan kalau seseorang berusaha melakukan pembahasan secara khusus mengenai hadits ini, tentunya dia juga akan menemui banyak jalan periwayatan yang lain. Ketiga hadits ini sanadnya masing-masing shahih sehingga tidak dapat disanggah hanya dengan tuduhan kontradiktif dengan al-Qur’an.

 

Kedua : dari sisi ilmu Tafsir. Hadits ini ditafsirkan oleh para ulama dari dua sisi :

Sisi pertama :

Hadits ini sesuai dengan orang mati yang semasa hidupnya, dia mengetahui bahwa keluarganya akan melakukan berbagai pelanggaran dalam syariat sepeninggalnya kemudian dia tidak menasehati mereka. Seharusnya dia mewasiatkan  kepada mereka agar jangan menangisi kepergiannya, kin r tangisan mereka menjadi penyebab si mati diadzab.

 

Huruf Alif Laam Ta’rif dalam lafal “al-Mayyit” bukan untuk istighraq (keumuman), yaitu hadits ini tidak memaksudkan bahwa setiap orang mati akan diadzab karena tangisan keluarganya. Huruf Alif Laam Ta’rif di sini adalah untuk ‘ahd, yaitu : orang mati yang tidak menasehati keluarganya agar tidak melakukan pelanggaran syariat sepeninggalnya sehingga dia akan diadzab, sedangkan orang  yang menjalankan kewajiban memberikan nasehat dan  memberikan wasiat syar’iyah kepada keluarganya agar mereka tidak menangisi kepergiannya dan agar mereka tidak melakukan berbagai kemungkaran yang khususnya dilakukan pada zaman ini sepeninggalnya, maka dia tidak diadzab, kalau dia tidak mewasiatkan dan menasehati, maka dia akan diadzab.

 

Perincian inilah yang wajib kita pahami dari penafsiran pertama, sebab banyak kalangan ulama yang terkenal seperti an-Nawawi dan lain-lain yang mengatakan demikian. Kalau kita sudah mengetahui perincian tersebut, maka akan jelaslah bagi kita bahwa di sana tidak ada kontradiksi antara hadits ini dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya:

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (or­ang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu).” (QS. Faathir : 18)

 

Hanya akan terjadi kontradiksi kalau dipahami, bahwa huruf Alif Laam Ta’rif dalam hadits di atas adalah untuk istighraq, yaitu : setiap orang mati akan diadzab, ketika itulah makna hadits menjadi bermasalah dan kontradiktif dengan ayat al-Qur’an. Sedangkan kalau kita pahami makna yang kita sebutkan di atas tadi, maka tidak ada kontradiksi dan tidak terjadi masalah, karena orang yang diadzab disebabkan dia tidak melaksanakan kewajiban memberi nasehat dan wasiat. Inilah sisi pertama dari penafsiran hadits ini untuk membantah tuduhan adanya kontradiksi.

 

Sisi kedua :

Yaitu yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam sebagian karya tulisnya; bahwa adzab yang tertera dalam hadits bukanlah adzab kubur atau adzab di akhirat. Yang  dimaksud dengan adzab di sini adalah kesedihan, yaitu : orang yang  mati kemudian dia mendengar tangisan keluarganya, dia akan merasa sedih karena hal tersebut.

 

Demikianlah yang dikatakan.oleh Ibnu Taimiyyah. Kalau  memang benar demikian, tentu akan dapat memangkas habis syubhat seputar masalah ini sampai ke akar-akarnya.

Namun saya katakan : Penafsiran ini berseberangan dengan dua hakikat, oleh karena itu kita hanya bisa berpatokan kepada penafsiran pertama dari hadits di atas :

Hakikat pertama : Bahwa dalam hadits al-Mughirah Ibn  Syu’bah yang telah saya tunjukkan di atas ada tambahan yang  menjelaskan bahwa adzab yang dimaksud bukan berarti kesedihan, tapi yang dimaksud adalah siksaan, yaitu neraka, kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni sebagaimana jelas tertera  dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

 

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisaa’ : 48)

Dalam riwayat al-Mughirah Ibn Syu’bah disebutkan: “Sesungguhnya orang yang mati akan mendapatkan siksa pada hari kiamat lantaran tangisan keluarganya”.

Jelas tertera, bahwa orang yang mati akan diadzab di hari kiamat lantaran tangisan keluarganya, bukan adzab kubur yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah sebagai kesedihan.

Hakikat kedua : Seorang yang sudah mati tidak akan merasakan apa yang sedang terjadi di sekitarnya, baik yang terjadi itu suatu nikmat atau bencana -sebagaimana d itunjukkan oleh dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah- kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu yang disebutkan dalam beberapa hadits sebagai patokan bagi setiap orang mati atau sebagiannya, yaitu ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperdengarkan kepada mereka sebagian keadaan yang menjadikan mereka merasa terrsiksa.

Dalil pertama : Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Shahihnya dari hadits Anas Ibn Malik Radhiyallahu Anhu mengatakan : “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya : “Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya telah pergi meninggalkannya -sampai dia mendengar suara sandal mereka- datanglah kepadanya dua orang Malaikat.”[2]0

 

Dalam hadits yang shahih ini dijelaskan tentang penetapan )endengaran khusus bagi orang mati pada waktu pengu­urannya dan ketika para pengantar pergi meninggalkannya, aitu sewaktu dua orang Malaikat mendudukkannya, ketika itu ruh dikembalikan ke dalam tubuh. Dalam keadaan ini dia dapat mendengar suara sandal. Hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa orang mati ini atau setiap orang mati yang ruhnya dikembalikan ke dalam tubuhnya dapat mendengar suara sandal orang-orang yang lewat di antara pekuburan sampai hari kiamat! tidak dibenarkan dalam hal itu.

Ini adalah kondisi khusus dan pendengaran khusus bagi orang mati, karena saat itu ruhnya dikembalikan. Dengan lemikian kalau kita mengambil penafsiran Ibnu Taimiyyah, maka kita telah melebarkan ruang lingkup yang dirasakan oleh orang mati, baik ketika diantar ke pekuburan sebelum dikubur atau setelah diletakkan dalam kuburan, artinya : dia mendengar  tangisan orang-orang yang masih hidup di sekelilingnya, dan  hal ini membutuhkan dalil sementara tidak terdapat dalil yang menjelaskan akan hal itu. Ini yang pertama.

 

Dalil kedua : Sebagian dari dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah yang shahih menjelaskan, bahwa orang mati tidak dapat mendengar. Pembahasan ini sangat panjang, akan tetapi akan menyebutkan satu hadits saja dan menyudahi jawaban untuk pertanyaan ini, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang artinya:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki para Malaikat yang berkeliling di bumi, mereka menyampaikan salam kepadaku dari umatku.”[3]

 

Sabda beliau : “Yang berkeliling di bumi” artinya : Yang berkeliling di majelis-majelis, setiap kali seorang muslim mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka disana terdapat malaikat yang bertugas menyampaikan salam dari orang mati  tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kalau seandainya orang yang  sudah mati dapat mendengar, maka yang paling berhak di  antara orang-orang yang sudah mati untuk mendengar adalah  Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan kepada beliau karunia dan diberi kekhususan di atas para Nabi, Rasul dan seluruh makhluk di alam semesta. Kalau ada orang yang sudah mati dapat mendengar, maka orang itu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan kalau beliau dapat mendengar sesuatu sepeninggalnya, maka tentunya beliau mendengar ucapan shalawat dan salam dari umatnya.

 

Dari sini anda sekalian menjadi tahu kesalahan -bahkan kesesatan- orang-orang yang memohon perlindungan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahkan kepada orang yang derajatnya di bawah beliau baik dari kalangan para Rasul, Nabi atau orang-orang shahih, karena ketika mereka memohon perlindungan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau tidak dapat mendengar mereka sebagaimana dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

Artinya :

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”(QS. al-A’raaf : 194)

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

Artinya :

“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Faathir : 14)

 

Kesimpulannya; orang-orang yang sudah mati tidak akan dapat mendengar kecuali pada keadaan tertentu yang .disebutkan dalam nash -sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas- seperti orang mati yang dapat mendengar suara sandal para pengantarnya. Dengan demikian selesailah jawaban untuk pertanyaan ini.

 

Sumber: Belajar Mudah Ilmu Tafsir bersama Utsaimin dan Albani, Penerbit Pustaka As-Sunnah, hal. 133-139.

 

 


[1] Shahih al-Jami’(1970)

[2] Shahih al-Jami’ (1675).

[3] Shahih al-Jami’ (2174)

One comment on “Orang Yang Telah Dikubur Disiksa Karena Tangisan Keluarganya

  1. dianpemuda
    Mei 12, 2010

    memang sebaiknya qt jangan terlalu berlebihan bersedih dengan meninggalnya keluarga qt. disitu juga ketabahan qt dan keridhoan kita akan keputusan Allah. pertanyaannya adalah siapa yang lebih kita cintai ? Allah dan Rasulnya ? Atau Orang yang ada disekitar qt yang pasti akan mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 12, 2010 by in Al Quran, Hadits and tagged , , , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: