أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Bolehkah Mengingkari Anak Karena Beda Warna Kulit atau Tidak Ada Kemiripan?

Soal 123:

Apakah boleh mengingkari seorang anak karena adanya perbedaan warna kulit atau karena tidak ada kemiripan dan berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma tentang Hilal bin Umayyah. Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Jika anak yang lahir nanti berkulit hitam pucat, rambut pendek keriting, bertubuh besar, betisnya besar dan kedua pinggulnya dempal, berarti ia anak dari orang yang kau tuduh (berzina dengan istrimu).”?

Dan ternyata anak yang lahir sesuai apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu beliau bersabda:

“Seandainya bukan karena sumpah (li’an) yang telah diucapkan tentunya aku sudah menghukum wanita tersebut.”

Apakah ada di antara para ulama yang berpendapat seperti ini?

Jawab:

Lafazh hadits seperti ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad dan Ath-Thayalisi dari jalur ‘Abad bin Manshur dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu.

Auraaq artinya warna hitam pucat, ja’d artinya rambutnya pendek kaku, jumaali artinya badannya besar diumpamakan seperti onta, khadlaj artinya besar betisnya.

Hadits ini dishahihkan (oleh Syaikh Ahmad Syaakir Rahimalullah di dalam ta’liqnya terhadap kitab Al-Musnad (2131). Akan tetapi ‘Abbad bin Manshur diperdebatkan karena ia tertuduh melakukan tadliis. Hanya saja Imam Muslim mengeluarkan (meriwayatkan) dalam Kitab Shahih-nya dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwasanya Hilaal bin Umayyah pernah menuduh istriya berselingkuh dengan lelaki yang bernama Syuraik bin Sahmaa’ saudara seibu Al-Baraa’ bin ‘Aazib. Ia adalah orang pertama yang melakukan li’an dalam sejarah Islam. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Perhatikan! Apabila anak yang lahir nanti berkulit putih, berambut lurus dan berrnata jelek berarti anak itu dari Hilaal bin Umayah. Tetapi apabila anak yang nanti lahir bulu matanya lebat, rambutnya keriting dan betisnya kecil berarti ia dari Syuraik bin Sahmaa’.” Hadits.

Sabith artinya berambut lurus, hamsyu al-Saaqaini artinya betisnya kurus, qadhiyal ‘ainain artinya mata rusak).

Kedua hadits ini dan yang semisalnya memiliki makna yang sama yaitu menunjukkan bolehnya menetapkan nasab berdasarkan kemiripan, bagi yang berpendapat demikian.

Penulis kitab Al-Majmu’ berkata, “Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma merupakan dalil bolehnya seorang ayah mengingkari anaknya karena adanya perbedaan warna kulit. Ini adalah pendapat Al-Qadhi, Abul Khaththaab dari kalangan ulama Madzhab Hambali dan salah satu pendapat dari ulama Madzhab Syafi’i. Sedangkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu (yaitu yang telah disebutkan pada pertanyaan no. 122) merupakan dalil tidak dibolehkannya seorang ayah mengingkari anaknya sendiri hanya dikarenakan adanya perbedaan wama kulit. Al-Qurthubi dan Ibnu Rusyd menyatakan bahwasanya ini sudah menjadi kesepakatan ulama. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari bahwa perbedaan ini ada di kalangan ulama madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Seandainya perbedaan warna kulit tidak didukung atau disertai qarinah (dalil, tanda) zina, maka tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak (nasab) anak. Tetapi bila suami menuduh istrinya berbuat zina dan anak yang dilahirkan juga mirip dengan lelaki teman perselingkuhan si istri maka pada kondisi seperti ini suami boleh tidak mengakui si bayi sebagai anak. Demikian pendapat yang shahih menurut mereka, sementara itu menurut ulama Madzhab Hambali mutlak dibolehkan mengingkari si bayi sebagai anak apabila terdapat tanda-tanda yang jelas.

A1-Khaththabi berkata, “Hadits lbnu Abbas tersebut menunjukkan bahwa apa saja yang tidak boleh dijadikan dalil maka tidak boleh juga dijadikan sebagai dasar keputusan hukum, selama ada dalil yang lebih kuat yang bertentangan dengannya. Seandainya kemiripan boleh dijadikan dalil dalam menetapkan nasab tentunya boleh juga dijadikan sebagai dasar dijatuhkannya vonis hukum jika ternyata sifat yang dituduhkan ada pada bayi.

Saya katakan, “Tidak diragukan lagi bahwa dalil firasy lebih kuat dari pada syibhu (kemiripan). Dengan demikian, tidak boleh mengabaikan bukti yang kuat karena bertentangan dengan bukti yang lemah. Oleh karena itu, ketika terjadi pertengkaran antara Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdu bin Zam’ah tentang anak hamba sahayanya Zam’ah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan nasab anak tersebut kepada pemilik firasy walaupun terlihat kemiripan antara ‘Utbah bin Abi Waqqash dan anak tersebut. Pada hadits tersebut terdapat kontradiksi dalam dalil antara syibhu (kemiripan) dan firasy, tetapi bukti firasy lebih kuat dari pada syibhu (kemiripan). Namun demikian, syibhu boleh dijadikan sandaran hukum,apabila tidak terdapat indikasi lain yang bersebarangan dengannya, dan inilah asal landasan diterimanya persaksian qaafah. Allahu A’lam.

 

Dinukil dari Ensiklopedi Anak, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad al-Isawi,  Penerjemah Ustadz Ali Nur, Penerbit Daarus Sunnah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 12, 2010 by in Fiqih and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: