أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Tafsir Surat At-Takaatsur


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

Allah berfirman:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (QS. 102:1)
sampai kamu mengunjungi kubur. (QS. 102:2)
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (QS. 102:3)
dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (QS. 102:4)
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (QS. 102:5)
niscaya kamu benar-benar akan melihat naar Jahim, (QS. 102:6)
dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yakin, (QS. 102:7)
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu ).” (QS. 102:8)
Allah berfirman mencela para hamba-Nya yang tidak sempat lagi melaksanakan kewajibannya untuk beribadah kepada Allah semata tidak ada sekutu baginya, mengenalnya dan bersandar kepada Nya serta mengutamakan cinta kepada Allah di atas segala sesuatu.


أَلْهَاكُمُ

“Sungguh telah melalaikan kamu..” (QS. 102:1)
Untuk melaksanakan semua kewajiban tersebut di atas,


التَّكَاثُرُ

“..bermegah-megahan..” (QS. 102:1)
Dalam ayat ini tidak disebutkan ‘orang yang bermegah-mega¬han’, agar artinya meliputi segala bentuk hal yang dijadikan ke¬megahan dan dijadikan kebanggaan, seperti mengeruk harta sebanyak-banyaknya, memperbanyak anak, pengikut, bala tentara, para pembantu, pangkat dan sejenisnya dengan tujuan hanya un¬tuk bermegah-megah antara satu dengan yang lain, bukan bertu¬juan untuk mendapatkan wajah Allah.
Sikap lalai, bersenda gurau dan sibuk dengan urusan itu akan terus kalian lakukan,


حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“..sampai kamu mengunjungi kubur.” (QS. 102:2)
Pada saat itulah akan tersingkap bagi kalian penutupnya, saat di mana sudah tidak ada lagi kesempatan untuk merubah segalanya.
Firman Allah: “.. sampai kamu mengunjungi kubur,” menun¬jukkan bahwa alam Barzakh itu adalah alam yang menjadi tran¬sit sebagai pintu masuk menuju alam akhirat yang kekal. Karena Allah menyebut mereka dalam ayat ini sebagai ‘para pengunjung’ di alam kubur, bukan sebagai penghuni. 1tu menunjukkan akan adanya Hari Kebangkitan dan Hari Pembalasan terhadap amal perbuatan di alam yang kekal abadi tiada akan punah.
Oleh sebab itu, Allah mengancam dengan firman-Nya:


كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5)

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (QS. 102:3)
dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (QS. 102:4)
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. 102:5)
Yakni, kalau saja kalian mengetahui dengan ilmu yang masuk ke dalam lubuk hati kalian, pasti kalian tidak akan lalai dengan bermegah-megahan. Tentu kalian akan bersegera melakukan amal shalih. Akan tetapi karena kalian tidak memiliki ilmu yang hakiki, akhirnya jadilah kalian seperti demikian adanya:


لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6)

“..niscaya kamu benar-benar akan melihat naar Jahim..” (QS. 102:6)
Yakni pasti datang Hari Kiamat, dan kalian pasti akan melihat Al-Jahim yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi orang-orang kafir.


ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)

“..dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yakin.” (QS. 102:7)
Yakni dengan pandangan mata kepala sendiri, sebagaimana difirmankan oleh Allah:

“Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling daripadanya.” (A1-Kahfi : 53)


ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

“..kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu ).” (QS. 102:8)
Yakni bahwa kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala kenikmatan yang kalian peroleh di dunia; apakah kalian mensyukurinya dan menunaikan kewajiban kalian kepada Allah serta tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah? Bila demikian, Allah akan memberikan kenikmatan yang lebih utama dan lebih tinggi nilainya dari seluruh kenikmatan tersebut.
Atau sebaliknya, kalian justru terperdaya oleh din sendiri, tidak bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut? Bahkan bisa jadi kalian menggunakan semua kenikmatan itu untuk bermaksiat, sehingga Allah akan menyiksa kalian atas perbuatan kalian itu. Sebagai¬mana dalam firman Allah:
” Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke naar (kepada mereka dikatakan):”Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah ber¬senang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan adzab yang menghinakan.” (A1-Ahqaaf : 20)
Selesai sudah tafsir surat At Takatsur. Segala puji dan keutamaan bagi Allah.

Terjemah Tafsir Juz ‘Amma, Al-‘Allaamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy, Penerjemah Ustadz Abu Umar Al-Maidany, Penerbit At-Tibyan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 12, 2010 by in Al Quran and tagged .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: