أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits keseratus Enam Puluh satu Riyadhus Shalihin


Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkhutbah, kedua matanya memerah,suaranya keras, dan kelihatan sangat marah seakan-akan beliau seorang panglima yang memberi peringatan kepada tentaranya seraya bersabda, ‘Hati-hatilah! Dari pagi sampai sore terhadap musuh yang mengancam kalian! ‘ Selanjutnya, beliau bersabda, Aku diutus sedangkan hari Kiamat itu bagaikan dua jari ini sambil menyejajarkan jari telunjuk dan jari tengah. Beliau bersabda, ‘ Ketahuilah bahwa sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah,sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sejelek-jelek  perkara agama sepeninggalku adalah melakukan sesuatu yang baru dalam agama, yang demikian itu disebut bid’ah dan setiap bid’ah itu pasti sesat.’  Selanjutnya, beliau bersabda, `Aku lebih utama bagi setiap orang Mukmin dibandingkan dirinya sendiri. Siapa saja yang mening­alkan harta akan menjadi hak bagi ahli warisnya dan siapa yang mening­alkan hutang atau keluarga yang tersia-sia, maka sayalah wali dan penanggung jawabnya’. ” (Diriwayatkan Muslim)

Penjelasan:

Penulis —An-Nawawi— meriwayatkan hadits ini dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma dan menyitirnya ke dalam bab peringatan agar berhati-hati dari bid’ah. Dia berkata, “Jika Nabi Shallallahu Alaihi me Sallam berkhutbah di hari Jum’at, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan sangat marah.” Beliau melakukan hal semacam ini karena beliau adalah seorang orator yang sangat mengesankan para pendengar. Beliau melakukan tindakan seperti ini demi kemaslahatan. Demikian itu karena diketahui bersama bahwa beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling lembut perangainya. Akan tetapi, di setiap tempat ada bahasanya sendiri-sendiri. Dalam khutbah harus menggetarkan hati dan mempengaruhi jiwa sesuai dengan tema dan bagaimana pelaksanaannya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku diutus, sedangkan hari Kiamat itu bagaikan dua jari ini”, sambil menyejajarkan jari teluntuk dan jari tengah. Jika kamu menyejajarkan kedua jarimu itu, kamu dapati keduanya saling berdekatan dan jaraknya sangat pendek. Jarak antara jari tengah dan jari telunjuk sangat pendek, hanya sejauh satu kuku atau setengah kuku. Artinya bahwa ajal dunia ini sudah dekat, bukan jauh. Hal serupa juga pernah beliau lakukan ketika beliau berkhutbah kepada manusia di akhir siang, sedangkan matahari di atas pucuk buah korma. Beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak tersisa dunia kalian, kecuali seperti yang tersisa pada hari ini.”

Jika masalahnya seperti itu, mengapa sampai sekarang belum Kiamat, padahal jika dihitung, semenjak meninggalnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sampai sekarang sudah berjalan sekitar 1400 tahun lebih, tetapi mengapa belum terjadi Kiamat? Ini menunjukkan bahwa usia dunia itu sangat panjang. Akan tetapi, perhitungan yang dibuat oleh para ahli geologi bahwa usia dunia sejak dulu telah mencapai berjuta-juta tahun, ini sesuatu yang nisbi, tidak bisa dipercayai sepenuhnya, dan tidak pula bisa dibenarkan sepenuhnya. Ini seperti berita bani Israil karena tidak ada penjelasan dari Kitab maupun dari sunah, yang menunjukkan secara pasti tentang usia dunia sejak dulu dan berapa usia bumi yang tersisa. Nabi hanya memberikan perumpamaan seperti itu saja. Segala sesuatu yang tidak ada dalilnya, baik dalam Al-Qur’an maupun sunah, berarti termasuk masa lah yang tidak bisa diterima sepenuhnya, melainkan dibagi menjadi tiga bagian:

Pertama: berita yang disaksikan kebenarannya oleh syariat, maka berita itu diterima karena kesaksian syariat.

Kedua: berita yang disaksikan ketidakbenarannya oleh syariat, maka berita itu ditolak karena disaksikan kedustaannya oleh syariat.

Ketiga: berita yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan oleh syariat, maka kita diamkan, entah benar atau salah. Hal semacam ini ditunjukkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,

“Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka, selain Allah….” (Ibrahim: .9)

Jika Allah telah membatasi bahwa yang memiliki pengetahuan hanya Dia, maka orang tidak akan mendapatkan ilmu tentangnya secara benar, kecuali dari wahyu-Nya semata dan tidak ada yang dapat mengetahui mereka, kecuali Allah. Siapa pun yang mengaku-aku mengeta­hui masa lalu, baik yang berkaitan dengan manusia, alam bumi, angkasa, dan sebagainya, kami tidak mempercayainya dan tidak mendustakannya, tetapi menempatkan berita mereka itu ke dalam tiga kategori di atas.

Sedangkan masa yang akan datang juga terbagi menjadi beberapa bagian:

Pertama: apa yang dikabarkan syariat akan terjadi. Sesuatu yang dikabarkan syariat akan terjadi, maka itu pasti akan terjadi. Seperti berita tentang Ya’juj dan Ma’juj, Dajjal, turunnya Isa bin Maryam, dan sebagainya yang dijelaskan dalam Al-Kitab dan sunah Nabi.

Kedua: berita yang tidak diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan sunah Nabi, maka berita itu hanya didasarkan pada perkiraan dan prasangka. Oleh karena itu, tidak seorang pun boleh meyakini kebenarannya di masa depan karena hal itu termasuk ilmu gaib dan tidak ada yang mengetahui ilmu gaib, kecuali Allah.

Yang jelas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku diutus sedangkan hari Kiamat itu bagaikan dua jari ini”, sambil menyejajarkan jari telunjuk dan jari tengah. Jari telunjuk adalah jari yang berada di antara ibu jari dan jari tengah. Dinamakan jari telunjuk karena jika seseorang ingin mencela seseorang, maka dia menunjuknya dengan jari telunjuk ini. Jari ini juga disebut jari tasbih karena jika manusia memberikan isyarat tentang keagungan Allah, dia akan menunjuk ke atas dan menggunakan jari ini untuk mengisyaratkan ke langit.

Kemudian, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Keta­huilah bahwa sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sejelek­-jelek perkara agama sepeninggalku adalah melakukan sesuatu yang baru dalam agama, yang demikian itu disebut bid’ah dan setiap bid’ah itu pasti sesat.” Kita telah membicarakan masalah ini.

Kemudian, beliau melanjutkan sabdanya, “Aku lebih utama bagi setiap Mukmin dibandingkan diri mereka sendiri.” Seperti yang difir­mankan Allah,

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka (Al-Ahzaab: 6)

Dia lebih utama daripada dirimu dan dia sangat kasih dan sayang kepada orang-orang Mukmin. Kemudian, beliau bersabda, “Siapa saja yang meninggalkan harta akan menjadi hak bagi ahli warisnya. ” Yaitu, siapa saja yang meninggal dunia dan meninggalkan harta, maka harta itu untuk keluarganya, yang diwariskan kepadanya sesuatu dengan apa yang ditetapkan di dalam Kitabullah dan sunah Rasul-Nya. “Dan siapa saja yang meninggalkan hutang atau keluarga yang tersia-sia, maka sayalah wali dan penanggung jawabnya.” Yaitu, anak-anak kecil yang disia-siakan. “Sayalah yang akan bertanggung jawab terhadap mereka, sayalah walinya, dan saya yang akan menanggung hutang-hutangnya.” Begitulah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau diberi kemenangan.

Adapun sebelum itu, jika dibawa seorang mayat kepadanyn, maka beliau bertanya dulu, apakah dia mempunyai hutang? Jika mereka menjawab, “Ya,” dan dia belum membayarnya, maka beliau menunda dulu menyalatkannya. Pada suatu hari, didatangkan kepada beliau seorang laki-laki dari Anshar, lalu beliau maju untuk menyalatinya. Kemudian beliau bertanya, “Apakah dia berhutang?” Mereka menjawab, “Ya, benar.” Maka, beliau menunda menyalatkannya seraya berkata, “Shalatilah sendiri sahabat kalian ini.” Hal itu diketahui dari wajah-wajah kaum itu. Kemudian, Abu Qatadah berdiri seraya berkata, “Shalati dia, ya Rasulullah dan saya yang akan menanggung hutangnya.” Abu Qatadah menanggung hutangnya sehingga Nabi maju ke depan dan menyalatinya.

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang besarnya masalah utang dan seyogyanya manusia tidak berutang, kecuali jika terpaksa sampai berhutang untuk menikah, untuk membangun rumah, dan untuk memenuhi perabotan rumah tangga. Semua itu kebodohan. Allah Sub, nahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian

(diri) nya sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia Nya (An-Nuur: 33)

Untuk nikah saja tidak boleh menghutang, apalagi untuk yang lain.

Banyak orang bodoh yang berhutang untuk membeli kasur spring bed, sofa, pintu otomatis yang dibuka dengan listrik, dan sebagainya, padahal dia miskin. Dia mengambil barang itu dengan berhutang karena jika dia membeli barang, sedangkan pembayarannya secara berkala,berarti itu hutang. Yang disebut dengan hutang menurut para ulama adalah segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab seseorang, baik yang berupa harga pembelian, cicilan, jaminan, upah, dan sebagainya. Jauhilah utang, jauhkanlah dirimu darinya karena hal itu dapat membinasakanmu, kecuali sesuatu yang darurat, itu masalah lain. Selama kamu tidak membutuhkan, jangan berhutang.

Banyak orang yang berhutang, misalnya, empat puluh ribu rupiah. Jika dia harus membayar langsung, dia berkata, “Saya tidak punya uang.” Maka dia berhutang sebanyak empat puluh ribu rupiah dan pembayarannya dilakukan dengan cara cicilan sehingga dia mengembalikan seluruhnya menjadi enam puluh ribu. Bila belum bisa membayar hingga satu tahun ke depan,, maka hutangnya akan semakin menumpuk sehingga menjadi menjadi semakin banyak dan banyak tanpa dirasakannya.

sumber: terjemah Syarh Riyadhush Shalihin Syaikh Utsaimin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 4, 2010 by in Aqidah, Bid'ah and tagged .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: