أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Shalat Seorang Qari (Yang Mahir Membaca Al-Qur’an) Yang Bermakmum Kepada Imam Yang Ummi Atau Lahhan

Yang dimaksud dengan ummi atau lahhan di sini adalah orang yang tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik.[1]

Menurut madzhab Asy-Syafi’yyah, Hambali dan pendapat Al- Auza’i ummi itu adalah yang tidak mampu membaca Al-Fatihah dengan sempurna atau bersalahan mengucapkan hurufnya atau mem- bacanya dengan bacaan lahhan sehingga merusak arti.[2]

Sudah barang tentu orang yang mahir membaca Al-Qur’an lebih berhak mengimami shalat daripada seorang ummi atau lahhan. Oleh sebab itu orang yang tidak mahir seharusnya tidak mengimami shalat jama’ah. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam::

“Orang yang mengimami shalat hendaklah yang paling mahir membaca Al-Qur’an. “[3]

Akan tetapi masalahnya, jika seorang ummi atau lahhan maju mengimami shalat jama’ah, maka bagaimanakah status shalat para makmum? Apakah harus mengulangi shalat mereka?

Dalam masalah ini ada empat macam pendapat ulama yang berbeda:

Pendapat pertama: Tidak sah shalat bermakmum kepadanya dan harus mengulang shalat. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.[4]

Mereka berdalil dengan hadits:

“Tidak sah shalat bagi yang tidak membaca surat Al-Fatihah.[5]

Hadits ini menunjukkan wajibnya membaca Al-Fatihah. Orang yang tidak dapat membaca Al Fatihah dengan baik dianggap membaca dengan tidak sempurna. Maka bagi yang shalat bermakmum kepadanya harus mengulangi shalat.

Pendapat kedua: Boleh shalat bermakmum kepadanya dan para makmum tidak perlu mengulang shalat mereka. Ini meru­pakan pendapat Atha bin Abi Rabbah, Qatadah, Al-Muzani, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir. Mereka beralasan karena si imam yang ummi itu tidak mampu melaksanakan salah satu rukun shalat, sedangkan bagi yang mampu melaksanakannya dibolehkan bermakmum kepada yang tidak mampu.[6]

Pendapat ketiga: Sebuah riwayat dalam madzhab Asy-Syafi’i dan Hambali yaitu seorang qari (yang mahir membaca Al-Qur’an) boleh bermakmum kepada imam yang ummi (tidak bisa membaca) hanya pada shalat-shalat sirriyah dan tidak dibolehkan pada shalat-shalat jahriyah. Sebab dalam shalat sirriyah, baik imam maupun makmum, semua wajib membaca. Maka dari itu shalat seorang qari yang bermakmum kepada imam yang ummi dianggap sah pada shalat sirriyah tersebut.[7]

Pendapat keempat: Jika seorang ummi mengimami orang-orang yang juga ummi seperti dirinya maka shalat mereka dianggap sah. Adapun jika si makmum seorang qari (yang mahir membaca Al- Qur’an) maka shalat si ummi (imam) dianggap sah sedangkan shalat si qari (makmum) dianggap batal (tidak sah). Dan jika imam yang ummi mengimami hanya satu orang makmum yang mahir membaca Al-Qur’an (qari), maka shalat mereka berdua dianggap batal (tidak sah). Keduanya harus mengulangi shalat.[8]

Pendapal tcrpilih:

Pendapat yang terpilih adalah pendapat keempat. Hanya saja harus memperhatikan beberapa hal berikut:

1-Seorang ummi tidak boleh diangkat menjadi imam ratib (imam tetap) sementara ada qari yang lebih berhak menjadi imam.

2-Seorang qari tidak boleh mengikuti dari awal shalat imam yang ummi.

3-Jika si qari tidak mengetahui keadaan imam yang ummi itu lalu ia bermakmum kepadanya maka shalatnya dianggap sah. Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

“Shalatlah di belakang (bermakmum) kepada orang yang telah bersaksi Laa ilaaha illallah.”

sumber: Bimbingan Lengkap Shalat Berjamaah, DR. Shalih bin Ghanim As-Sadlan, Penerbit At-Tibyan.


[1] Silakan lihat Al-Mathla’halaman 10 dan Asy-Syarah Ash-Shaghirl/437.

[2] Silakan lihat AI Mughni II/195 dan 197 dan lihat juga kitab Al-Majmu’IV/166.

[3] H.R. Muslim I/465.

[4] Silakan lihat Bahrur Raa-iq 1/382, At-TaajulIklilII/98, Al-Majmu’IV/166 dan Al-InshafII/268.

[5] H.R A1-Bukhari I/184.

[6] Lihat kitab Al-Majmu’IV/167-168.

[7] Silakan lihat AI-Majmu’IV /167 dan Al-Mughni (1 /30.

[8] Silakan lihat Al-Inshaf ll/268-270 dan AI-Mughni II/30 dan 41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 30, 2010 by in Fiqih and tagged , , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: