أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Tata Cara Bersuci Bagi Orang Yang Sakit (Pasien)

  1. Orang sakit memiliki kewajiban yang sama dengan orang yang sehat dalam bersuci dengan air dari hadats besar dan kecil, yaitu berwudhu’ dari hadats kecil dan mandi karena hadats besar.
  2. Sebelum wudhu’ harus beristinja dengan air, atau beristijmar dengan batu atau benda lain yang bisa menggantikan batu  setalah buang air kecil atau beuan air besar. Dalam istijmar harus menggunakan tiga buah batu yang suci. Tidak boleh menggunakan kotoran binatang, tulang, makanan atau benda lain yang tidak diperbolehkan. Beristijmar lebih afdhal menggunakan batu atau yang sejenisnya seperti tissue toilet, batu bata, dan lainnya. Setelah itu baru menggunakan air. Batu akan menghilangkan najisnya, air mensucikan daerah yang kena najis, itu yang lebih efektif. Orang yang boleh memilih antara istinja dengan air atau istijmar dengan batu atau sejenisnya. Jika  ingin memilih antara keduanya, maka air lebih utama karena bisa membersihkan areal yang terkena najis, menghilangkan bekasnya, dan lebih efektif dalam membersihkan. Apabila memilih menggunakan batu maka boleh menggunakan tiga buah batu apabila cukup untuk membersihkan areal yang terkena najis. Jika tidak cukup boleh menambahkan batunya menjadi empat, lima sehingga bersih, tetapi lebih utama menggunakan batu dengan jumlah yang ganjil. Tidak boleh beristijmar menggunakan tangan kanan, kecuali jika tidak memiliki tangan kiri, tangan kirinya patah, atau sakit.
  3. Apabila si sakit tidak sanggup berwudhu’ menggunakan air karena tidak sanggup, takut akan bertambah sakitnya, atau memperlama masa penyembuhannya, maka dia boleh bertayammum. Tata cara tayammum adalah dengan memukulkan/menepuk dua telapak tangan di atas debu yang suci dengan sekali pukulan, setelah  itu diusapkan ke wajah menggunakan bagian dalam jari-jarinya kemudian diusapkan ke telapak tangan. Boleh tayammum dengan menggunakan segala sesuatu yang suci yang berdebu walaupun tidak berada di permukaan bumi. Seperti debu yang beterbangan kemudian menempel misalnya pada dinding atau lainnya, boleh kita bertayammum dengannya. Apabila setelah tayammum yang pertama dia belum batal  dia boleh shalat, boleh melaksanakan shalat pada waktu shalat lainnya tanpa harus mengulang tayammumnya, karena tayammum berfungsi sebagai pengganti wudhu’ dan berlaku baginya hokum wudhu’.
  4. Apabila sakitnya ringan sehingga air  tidak berbahaya baginya, tidak menyebabkan sakit, tidak memperlama proses penyembuhan, tidak menambah sakit, atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya seperti sakit kepala, sakit gigi, and lainnya atau orang yang memungkinkan baginya menggunakan air hangat, maka tidak diperbolehkan tayammum. Dibolehkannya tayammum bertujuan untuk menghindari bahaya. Apabila tidak terancam bahaya, dan air tersedia, maka dia wajib menggunaka air.
  5. Apabila si sakit tidak sanggup berwudhu’ atau tayammum sendiri maka boleh diwudhu’kan atau ditayammumkan oleh orang lain.
  6. Orang yang memiliki luka, borok, atau sakit lainnya yang makin parah jika menggunakan air, apabila berjunub, dia diperbolehkan untuk tayammum. Apabila memungkinkan dia wajib memandikan bagian yang tidak sakit, sisanya (bagian yang sakit) disucikan dengan tayammum.
  7. Orang yang memiliki luka pada salah satu bagian yang harus dibasuh dengan wudhu’ harus membasuhnya dengan air. Apabila berat atau membahayakan baginya untuk membasuhnya dengan air, maka cukup mengusap atau menggosok bagian yang luka dengan air sesuai dengan urutannya. Jika masih berat atau membahayakan dirinya maka dia boleh bertayammum.
  8. Orang yang sebagian tubuhnya dibalut, yaitu orang yang mengalami patah tulang yang dibalut dengan gips dan pembalut lainnya, cukup baginya mengusap pembalutnya walaupun bagian yang dibalut tadi tidak terkena.
  9. Wajib bagi si sakit untuk memperhatika kebersihan badan, pakaian, dan tempatnya dari najis sebelum shalat. Jika tidak sanggup membersihkannya dia boleh shalat dalam kondisinya.
  10. Apabila orang yang sakit tersebut tidak sanggup mengontrol buang air kecil, maka dia harus beristinja dan berwudhu’ setiap kali hendak shalat setelah masuk waktunya. Dia juga harus membersihkan badan dan pakaian yang dikenakannya yang terkena urin, atau menggantinya dengan pakaian yang bersih, jika tidak menyusahkannya. Kemudian dia harus menjaga agar urin tidak menyebar ke pakaian, badan, atau tempat shalat dengan meletakkan pengaman pada farjinya.

sumber:www.alifta.com, fatwa no. 17798

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 7, 2010 by in Fiqih and tagged , , , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: