أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Menyentuh Najis, Batalkah Wudhu’ ?

Apabila seorang ibu membersihkan anaknya kemudian dia memegang najis, apakah batalnya wudhu karenanya?

Alhamdulillah

Pembatal-pembatal wudhu telah diketahui, sebagaimana telah disebut dalam pertanyaan no. 14321, menyentuh najis tidak termasuk di dalamnya. Akan tetapi seseorang yang menyentuh najis tidak boleh shalat sebelum membersihkannya.

Seseorang bertanya kepada Syaikh Bin Baz Rahimahullah:

Apa pendapat anda mengenai seorang dokter yang dalam pekerjaannya kadang-kadang melihat atau menyentuh aurat pasiennya dalam rangka pemeriksaan medis? Dan kadang-kadang dalam pekerjaannya seorang dokter melakukan operasi dalam lingkungan yang penuh dengan darah dan urine. Apakah wajib baginya untuk mengulangi wudhu dalam situasi ini, ataukah hal itu perkara afdhaliyah saja?

Beliau menjawab:
Seorang dokter boleh menyentuh dan melihat aurat seorang laki-laki untuk tujuan pengobatan, baik kemaluan bagian belakang (dubur) atau bagian depan. Dia boleh melihat atau menyentunya karena kebutuhan atau darurat. Diperbolehkan menyentuh darah kalau memang diperlukan ketika melakukan operasi, baik untuk menghilangkan luka atau mengetahui kondisinya dan setelah itu dia harus membersihkan tangannya. Menyentuh darah atau urine tidak membatalkan wudhu, akan tetapi menyentuh aurat, baik dubur maupun qubul (kemaluan bagian depan), membatalkan wudhu. Menyentuh darah, urine, atau najis lainnya tidak membatalkan wudhu tetapi dia harus mencuci atau membersihkannya…

Majmu’ Fatawa Ibn Baz (6/20).

Islam Su’al Wa Jawab


إذا كانت الأم تقوم بتنظيف ولدها ، ولمست النجاسة ، فهل ينتقض وضوؤها بذلك ؟.
الحمد لله
نواقض الوضوء معروفة ، وهي مذكورة في جواب السؤال (14321) ، وليس منها لمس النجاسة .
ولكن . . من مس نجاسة فإنه لا يجوز له أن يصلي حتى يغسلها .
وقد سئل الشيخ ابن باز رحمه الله :
ما رأي سماحتكم في أن عمل الطبيب يتطلب في بعض الأحيان رؤية عورة المريض أو مسها للفحص ؟ وفي بعض الأحيان أثناء العمليات يعمل الطبيب الجراح في وسط مليء بالدم والبول فهل إعادة الوضوء واجبة في هذه الحالات أم أنه من باب الأفضلية ؟
فأجاب :
” لا حرج أن يمس الطبيب عورة الرجل للحاجة وينظر إليها للعلاج سواء العورة الدبر أو القبل فله النظر والمس للحاجة والضرورة ، ولا بأس أن يلمس الدم إذا دعت الحاجة للمسه في الجرح لإزالته أو لمعرفة حال الجرح ، ويغسل يده بعد ذلك عما أصابه ، ولا ينتقض الوضوء بلمس الدم أو البول ، لكن إذا مس العورة انتفض وضوءه قبلا كانت أو دبرا ، أما مس الدم أو البول أو غيرهما من النجاسات فلا ينقض الوضوء ولكن يغسل ما أصابه . . . إلخ” اهـ .
“مجموع فتاوى ابن باز” (6/20) .


الإسلام سؤال وجواب

One comment on “Menyentuh Najis, Batalkah Wudhu’ ?

  1. abu zainab abdullah
    Mei 17, 2010

    alhamdulillah…Terjawab sudah keraguan ana slama ini,krn ana prnh dngar dr seorang da’i bhw menyentuh najis membatalkan wudhu’. Syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 17, 2010 by in Fiqih and tagged , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: