أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Imam Yang Melakukan Kemaksiatan Yang Tersembunyi

Seorang pemuda menjadi imam di salah satu masjid. Dia-seperti yang dikatakannya- sangat disukai oleh jamaahnya. Tetapi dia mengetahui dalam hatinya bahwa dia memiliki kekuragan yaitu bersalah atas beberapa kemaksiatan sehingga dia merasa tidak berhak menjadi imam, tidak pantas untuk disukai dan dihormati oleh manusia. Dia takut jatuh kepada kemunafikan dan riya apabila terus menjadi imam. Haruskah dia terus bertahan sebagai imam di masjid tersebut? Haruskah dia melanjutkan menjadi imam atau meninggalkannya karena takut akan riya dan kemunafikan?

 

Jawab:

 

Pemuda ini disukai oleh kaumnya tetapi dia telah melampaui batas terhadap Rabnya. Saya katakan: Pemuda yang telah diberkati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan menjadi imam dan disukai oleh kaumnya ini wajib menghentikan perbuatannya yang melampaui batas, memperbaiki ibadahnya, dan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena keberadaan dia sebagai imam dan disukai oleh kaumnya merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Alah Ta’ala berfirman:

 

وعباد الرحمن الذين يمشون على الأرض هوناً

 

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (QS. Al Furqan: 63)

 

Kemudian:

 

واجعلنا للمتقين إماماً

 

“…jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. Al Furqan:74)

 

Orang-orang bertaqwa yang shalat dan imamnya termasuk dalam firman Allah Ta’ala:

 

“…jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

 

Maka seharusnya dia memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas nikmat tersebut, dan menghentikan tindakan-tindakannya yang melampaui batas  dan menjadikan hal  ini sebagai salah satu sarana untuk membawa dirinya kembali ke ketaatan kepada Allah, serta menjadikan dia bertakwa kepada Allah dengan keberadaannya sebagai imam.

 

Mengenai kekuatirannya atas riya, hal ini merupakan bisikan jahat yang dihembuskan oleh syaitan ke dalam hati manusia ketika dia hendak melakukan ketaatan. Syaitan masuk kepadanya dan membisikkan: “kamu orang riya”, maka dia wajib membuangnya, berpaling darinya, dan memohon pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla sebaimana selalu dilakukan ketika dalam shalat yaitu:

 

إياك نعبد وإياك نستعين

 

”Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al Fatihan

 

Liqa’ al-Bab al-Maftuh oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, 53/77.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 3, 2010 by in Fiqih and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: