أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Bantahan atas Perkataan Bahwa Maulid adalah Bid’ah Hasanah

Kami bertanya tentang maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, apakah merupakan bid’ah? Saya dengar di sebagian Negara dan dari sebagian ulama berkata bahwa maulid nabi merupakan bid’ah hasanah, wallahu A’lam semoga Allah senantiasa memberikan taufiknya.

Jawab:

Merayakan maulid (kelahiran) Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mulai muncul pada beberapa abad terakhir, setelah tiga kurun waktu terbaik; yaitu abad pertama, kedua, dan ketiga setelah hijrah (3 masa yaitu masa sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in)  adalah bid’ah yang diada-adakan oleh sebagian manusia yang menganggap hal itu suatu kebaikan dan sesuatu yang baik. Pendapat yang shahih dan haq  berdasarkan pendapat para ulama adalah bid’ah. Semua perayaan maulid adalah bid’ah termasuk di dalamnya perayaan maulid Nabi. Kenapa? Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah melaksanakannya, begitu juga para sahabatnya, para khulafa’ur rasyidin, dan generasi islam  yang terbaik semuanya tidak pernah melakukan ini. Yang terbaik adalah mengikuti amalan mereka, bukan amalan-amalan yang diada-adakan oleh orang-orang setelah mereka. Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :

إياكم ومحدثات الأمور

“Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan!” (Al Bukhari dan Muslim)

dan sabdanya:

وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.”(Al Bukhari/6849, Ad Darimy/207)

Dan sabdanya:

من أحدث في أمرنا هذاما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak.” (Al Bukhari)

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka amal itu tertolak.”(Muslim)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menjelaskan hal ini dan menunjukkan bahwa mengada-ada dalam agama adalah mungkar. Tidak boleh seorang pun untuk mengada-ada dalam agama tanpa seizin Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencela hal ini dalam firman-Nya:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syuura:21).

Perayaan maulid adalah perkara muhdats yang tidak diizinkan Allah Subahanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Para sahabat yang merupakan sebaik-baik manusia setelah para nabi, orang-orang yang paling dicintai Nabi, dan orang-orang yang paling bersegera dalam setiap kebaikan, tidak pernah melakukan hal ini, tidak juga Abu Bakar, Umar, Usman, dan tidak juga Ali. Tidak juga  sahabat lain  yang termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga, tidak juga sahabat lainnya, demikian juga para tabi’in tidak pernah melakukan ini. Yang pertama kali mengadakan perayaan ini adalah sebagian kaum syi’ah fathimiyyah di Mesir pada tahun ke-4 Hijriyah sebagaimana disebutkan sebagian ahli sejarah, kemudian diadakan menjelang akhir tahun ke-6 Hijriyah dan awal tahun ke-7 Hijriyah, yang dilakukan oleh orang-orang yang menanganggap hal tersebut baik. Pendapat yang benar adalah bid’ah, karena perayaan tersebut  merupakan suatu ibadah yang tidak disyari’atkan Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyampaikan segala hal dengan jelas  tanpa sedikitpun menyembunyikan segala sesuatu yang disyari’atkan Allah. Rasulullah telah menyampaikan semua yang disyariatkan dan diperintahkan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Ma’idah ayat 3).

Allah Ta’ala telah melekengkapkan dan menyempurnakan agama ini. Perayaan maulid tidak ada dalam agama yang telah Allah sempurnakan ini. Ketahuilah bahwa perayaan maulid adalah bid’ah mungkar, bukan hasanah, Tidak ada istilah bid’ah hasanah dalam agama ini karena setiap bid’ah adalah mungkar. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

كل بدعة ضلالة

“Setiap bid’ah adalah sesat.”

Tidak boleh bagi seorang muslim mengatakan bahwa ada bid’ah yang hasanah sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Setiap bid’ah adalah sesat”. Ini menyalahi dan menyimpang  dari Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Telah diriwayatkan darinya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Setiap bid’ah adalah sesat”. Tidak boleh bagi kita untuk menyelisihi perkataan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.  Perlu diperhatikan bahwa ada sesuatu yang dianggap bid’ah padahal Allah Ta’ala telah mensyari’atkannya (sebenarnya bukan bid’ah) seperti pembukuan Al Quran dan shalat tarawih. Hal itu bukan merupakan bid’ah,, dan menganggapnya bid’ah merupakan anggapan yang tanpa dasar.

Adapun perkataan Umar bin Khaththab Rashiyallahu Anhu tentang tarawih:

نعمت البدعة

“sebaik-baik bid’ah”,  maksudnya adalah bid’ah dari segi bahasa, bukan bid’ah dalam istilah agama. Maka perkataan Umar Radhiyallahu Anhu ini tidak bertentangan dan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak pula menyelisihinya. Ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam “Setiap bid’ah adal;ah sesat”, dan sabdanya: “jauhilah setiap perkara yang diada-adakan.” Dan juga sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam khutbah Jumat :”

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Amma Ba’d, sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyelisihi apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah Ta’ala dan menentang apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.tetapi wajib untuk tunduk kepada syariat Allah dan menahan diri dari larangan Allah yang berupa bid’ah dan maksiat. Kami meminta semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayah.

Sumber: http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=219&PageNo=1&BookID=12

4 comments on “Bantahan atas Perkataan Bahwa Maulid adalah Bid’ah Hasanah

  1. begajul tobat
    Februari 28, 2010

    gue dulu penjahat..hampir semua maksiat udah gue laku-in..sampai suatu hari waktu gue nginep di rumah temen.. tanpa sengaja gue dengar ceramah seoarang ustadz di acara maulid..badan gue merinding hati bergetar sampai akhirnya saat itu juga gue berencana buat tobat..alhamdulillah gue sekarang sholat, belajar fiqih dll…siapa bilang maulid tidak bermanfaat???..

    • midazortega
      Maret 2, 2010

      alhamdulillah … semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu melimpahkan hidayah dan taufiknya kepada kita.

      apa yang antum sampaikan tidak dapat merubah status maulid sebagai perayaan bid’ah.

      silahkan antum baca disini

      mari kita tingkatkan semangat kita untuk mempelajari sunnah untuk memperbaiki dan memperbagus amal ibadah kita.

  2. Sasa
    Juli 23, 2011

    Kalau dasarnya bahwa Nabi gk pernah merayakan Maulid Nabi,,maka perayaan maulid adalah Bid’ah Dhalalah…Maka menurut saya SHOLAT TARAWIH SATU BULAN PENUH BERJAMAAH juga bid’ah..Karena Nabi gk pernah melaksanakannya satu bulan penuh, kecuali sholat sendiri setiap malam bulan ramadhan.. Memang pernah Nabi keluar ke masjid dan sholat sendiri,,tapi para sahabat yg melihatnya mengikuti di belakang nabi..Namun setelah tahu,, nabi meninggalkan mereka..beberapa hari lagi keluar ke masjid dan sholat sendirian,,Sahabat mengikuti dibelakang Nabi,,lalu Nabi meninggalkan mereka,,karena takut jika mereka wajibkan setelah itu…..
    Mengingat hal itu,,berarti shalat tarawih berjamaah terus menerus juga Bid’ah..apalagi sekarang sdh seperti Wajih Kifayah… Gk ada satu pun masjid yg berani meninggalkannya (Sholat tarawih berjamaah)….. Jika Maulid itu bind’ah,,maka “sholat tarawih berjamaah satu bulan penuh” juga bid’ah….. Sebab jika bkn bid’ah,, tentu Nabi yg lebih dahulu melaksanakan secara berjamaah,, bukan menunggu keputusan Umar Bin Khatab…. Apakah begitu pentingnya Derajat Umar bin Khatab dibanding Nabi sehingga Allah hrs menunggu masa kekhalifahan umar baru ada sholat tarawih berjamaah sebulan penuh 23 rakaat/11rakaat…???

    Terimakasih

    • midazortega
      Juli 23, 2011

      shalat tarawih merupakan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasallam (riwayat dalam sahihain dan lainnya)

      Nabi pernah melakukannya secara berjamaah selama tiga hari. pada hari ketiga atau keempat beliau menghentikannya karena takut dianggap wajib.
      tetapi kekhawatiran ini (dianggap wajib) hilang ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat karena dengan wafatnya beliau terputus sudah turunnya wahyu, sehingga kekhawatiran menjadi wajib ngga ada lagi. ketika illat (sebab) pelarangan itu hilang, maka hukumnya kembali sunnah.
      wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 19, 2010 by in Bid'ah and tagged .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: