أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Banyak Hadits-hadits Ahad yang Menjadi Standar Ilmu dan Keyakinan


Seluruh alasan yang telah dikemukakan sebelumnya yang telah menjelaskan batalnya pemisahan akidah dan fikih yang telah disebutkan, semata-mata dilandasi akan kaidah terdahulu yang menyatakan bahwa  Hadits ahad tidaklah memberikan faedah kecuali berupa persangkaan yang kuat (azh zhannu ghalib) dan bukan berupa al ilmu dan al yaqin.

Tetapi wajib diketahui, bahwa kaidah ini bukanlah sesuatu yang benar secara mutlak, namun terdapat beberapa perincian yang akan dijelaskan pada pembahasan tersendiri. Hal yang hendak kita bahas pada judul ini bahwasanya Hadits ahad pada beberapa kesempatan banyak memberikan kaidah berupa “Al ilmu dan Al Yaqin”(ilmu dan keyakinan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala).

Di antara khabar dan Hadits-hadits ahad tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Muslim di dalam shahihnya yang telah disepakati oleh umat akan kesahihannya dan bahwasanya Hadits tersebut memberikan penjelasan tentang ilmu dan keyakinan kepada Allah, sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh al Imam ibnu Shalah di dalam kitab Ulumul Hadits, (hal 28-29) dan didukung pula oleh imam Ibnu Katsir di dalam Mukhtashar, beliau dan oleh ulama-ulama sebelumnya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim di dalam Mukhtashar As Shawaiq (2:283).

Imam Ibnu Qayyim memberikan contoh akan hal itu dengan menyebutkan beberapa Hadits di antaranya; Hadits Umar,

“Sesungguhnya setiap pekerjaan tergantung dengan niat”, juga hadits, “Apabila seorang laki-laki telah duduk di antara kedua paha wanitadan menyetubuhinya, maka telah diwajibkan  baginya mandi”’ demikian pula Hadits Ibnu Umar,” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mewajibkan zakat fitrah pada bulam Ramadhan bagi anak-anak, orang dewasa, laki-laki, dan wanita”, dan lain-lain.

Kemudian beliau menyambung ucapannya(2: 373), “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa umat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari dahulu hingga sekarang telah sepakat bahwa Hadits-hadits tersebut memberikan keterangan tentang ilmu dan keyakinan. Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ulama salaf, demikian pula empat empat mazhab setelahnya sebagaimana yang dinukil di dalam kitab-kitab mazhab hanafi, Syaf’ie, dan Hambali. Seperti kitab yang dikarang oleh Imam As Sarakhsi dan Abu Bakar Ar Razi yang bermazhab Hanafi, juga syaikh Abu Hamid dan Abu At Thayyib serta As Syaikh Abu Ishak yang bermazhab Syafi’ie, juga Ibnu Khuwaiz Mindad dan yang lainnya dari mazhab Malik, demikian pula Al Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Abi Musa, Abi Al Khattab dan yang lainnya dari mazhab Hambali. Contoh yang lain adalah, Abu Ishak Al Isfiraini, Ibnu Fauruk dan Abu Ishak an Nazham dari golongan ulama kalam, disebutkan pula oleh Ibnu Shalah dan disahihkan oleh beliau, namun tidak diketahui perkataan beliau  ini oleh kebanyakan orang, akan tetapi yang mashur dari beliau, bahwasanya beliau menyebutkan pendapat ini sebagai salah satu dalil-dalil yang lain. Orang-orang yang membantah beliau dari kalangan ulama yang taqwa namun mereka belum mempunyai pengalaman yang banyak dalam bidang ini mengatakan bahwa perkataan Abu Amru Ibnu Shalah ini adalah perkatan yang menyelisihi  jumhur (kebanyakan ulama). Perkataan mereka itu bias dimaklumi, karena sumber yang mereka pegangi di dalam masalah ini  adalah apa yang mereka nukil dari perkataan Ibnu Al Hajib, As Saif al Amidi, Ibnu Al Khatib, Al Ghazali, Al Juaini, dan Al Bagilan.

Imam Ibnu Qayyim  mengatakan bahwa, seluruh ulama Hadits sepakat terhadap apa yang disebutkan oleh Abu Amru dan kebenaran itu ada pada perkataan jumhur ulama. Mereka mengatakan bahwa, sesungguhnya penerimaan umat akan kebenaran (keabsahan) sebuah Hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (baik yang diwujudkan dalam bentuk keyakinan dalam hati maupun perbuatan) adalah sesuatu yang telah menjadi konsensus di kalangan mereka. Umat Islam tidaklah mungkin bersepakat pada sesuatu yang batil sebagaimana mereka telah sepakat  terhadap isyarat yang ditunjukkan oleh lafadz umum, mutlak, lafadz hakikat, ataupun qiyas. Tidak mungkin mereka bersepakat di dalam sebuah kesalahan.

Kalau sesorang dari umat ini mengadakan penelitian akan kebenaran suatu khabar, maka kebenaran yang dihasilkan itu adalah kebenaran yang nisbi kecuali dari hasil penelitian tersebut didapatkan secara jama’i (kesepakatan jamaah). Hal tersebut seperti khabar yang mutawatir (bersumber dari sekumpulan orang banyak), yang tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan dalam penyampaian yang berasal dari orang perorang, namun hal ini sangat mustahil terjadi pada setiap orang yang menyampaikan Hadits itu. Umat Islam secara keseluruhan akan senantiasa terjaga dari kesalahan dalam setiap pendapat maupun khabar yang mereka sampaikan.

Beliau berkata,”Adapun Hadits-hadits ahad di dalam bab ini , mungkin ia memberikan faidah berupa azh zhannu dengan melihat syarat-syaratnya. Tetapi jika Hadits-hadits itu kuat, maka faedah yang diberikannya akan berupa suatu yang yakin, dan jika Hadits-hadits itu lemah, maka Hadits-hadits itu berubah kedudukannya menjadi sebuah khayalan yang batil.”

Beliau berkata, “ Ketahuilah, kebanyakan hadits-hadits Bukhari dan Muslim termasuk dalam bab ini sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abu Amru dan disebutkan pula oleh ulama sebelum beliau, seperti al hafidz Abu Thahir As Salafi dan yang lainnya.

Sesungguhnya, seluruh khabar yang telah diterima oleh ulama ahli Hadits adalah suatu yang benar yang memberikan faidah berupa ilmu dan keyakinan.

Adapun perkataan yang bersumber selain dari mereka baik ulama kalam maupun ulama ushul adalah tertolak, karena sesungguhnya yang menjadi standar terhadap kesepakatan (ijma’) atas setiap urusan agama adalam perkataan para ahlinya, bukan yang selain mereka.

Bukanlah merupakan standar hal-hal yang merupakan ijma’ atas hukum-hukum syariat kecuali sesuatu yang bersumber dari ahlinya dan bukan dari selainnya, semisal ulama kalam, ahli nahwu atau dokter, juga bukan merupakan standar dalam penentuan kebenaran sebuah Hadits kecuali perkataan yang bersumber dari para ahlinya, yaitu para muhaddits, orang-orang yang mengetahui persis secara terperinci keadaan Nabi mereka (baik perkataan maupun perbuatan beliau).

Demikian halnya ilmu terhadap sesuatu yang mutawatir, ia pun terbagi atas 2 macam; umum dan khusus. Adakalanya sebuah khabar itu adalah sesuatu yang mutawatir di kalangan tertentu, tidak ada yang lainnya maka para ulama Hadits disebabkan karena besarnya perhatian nabi mereka. Oleh Karena itu mereka pun tahu secara yakin dan pasti apa-apa yang tidak diketahui oleh orang-orang selain mereka.

Al Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqa’I wal Ahkam, Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Edisi Indonesia “Hadits Sebagai landasan Akidah dan Hukum”, Penerbit Pustaka Azzam. hal 97-100.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 27, 2009 by in Hadits, Manhaj and tagged , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: