أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits Ahad Sebagai Hujjah di Dalam Masalah Akidah Maupun Hukum (Fikih) (bagian II)

Dasar dari Pendapat Mereka Hanya Persangkaan dan Khayalan.

Sungguh suatu yang ajaib dan mengherankan, bahwa kalimat yang terdengar oleh seorang muslim sejati dari lisan para khatib dan dari pena-pena para penulis-di kala keimanan mereka terhadap Hadits semakin melemah-, mereka menolak sebuah Hadits mutawatir yang telah dijelaskan oleh para Ahli Hadits, seperti Hadits turunnya Nabi Isa Alaihissalam di akhir zaman, dengan dalil “Hadits ahad bukan merupakan standar di dalam masalah akidah.” Sebenarnya yang mengherankan adalah perkataan mereka ketika menjadikannya sebagai akidah, maka jika demikian, selayaknya mereka mendatangkan sebuah dalil yang kuat untuk membuktikan kebenaran dari perkataan mereka itu. Tetapi sungguh hal itu merupakan sesuatu yang sangat mustahil, karena tidak ada satu dalil pun yang benar untuk dijadikan sandaran oleh mereka.

Kalau demikian, prasangka mereka itu hanyalah sebuah khayalan yang tidak boleh dijadikan standar di dalam masalah hukum. Jika demikian, maka bagaimana mungkin dapat dijadikan standar hukum dalam masalah-masalah akidah? Dengan kata lain, mereka berusaha untuk tidak berdalil dengan menggunakan azh zhannul ghalib, namun secara tidak sadar mereka terjatuh kepada sesuatu yang lebih buruk dari hal itu, yaitu berdalil dengan menggunakan azh zhannul marjuh (prasangka yang lemah), (untuk mengambil pelajaran, wahai orang-orang yang berakal).

Beberapa Dalil yang Menunjukkan Keotentikan Hadits Ahad dalam Masalah Akidah

Terdapat beberapa dalil yang lebih khusus yang menunjukkan keabsahan Hadits ahad sebagai dalil di dalam masalah akidah, di antara dalil-dalil itu adalah:

1. Firman Allah Ta’ala, “… mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam penetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada-Nya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah (9):122).

Pada ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan agar thaifah (segolongan) dari kaum  mukminin tidak keluar ke medan jihad  bersama kaum muslimin yang lainnya, tetapi hendaklah thaifah tersebut pergi untuk menimba ilmu-ilmu syar’ie dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak diragukan lagi, bahwa perintah untuk menuntut ilmu syar’ie yang dimaksud,bukan yang dikhususkan untuk memepelajari hukum-hukum fikih semata, namun perintah itu juga tertuju pada ilmu-ilmu agama yang lainnya. Dan tidak pelak lagi, bahwa akidah adalah sesuatu yang paling asasi bagi setiap manusia. Untuk itulah, maka mereka (orang-orang yang tidak berdalih dengan Hadits ahad terhadap masalah akidah) meniggalkan Hadits ahad dalam masalah akidah, karena kedudukannya yang sangat asasi di dalam agama.

Namun, anggapan mereka itu terbantah dengan ayat yang mulia ini. Allah Ta’ala selain memerintahkan kepada thaifah dari kamu muslimin untuk menuntut ilmu, Dia juga memerintahkan mereka agar memberikan peringatan kepada kaumnya dari apa-apa yang telah dipelajari (baik akidah maupun hukum) tatkala telah kembali dari menuntut ilmu. Perlu diketahui, bahwa kata thaifah dalam bahasa Arab mencakup satu orang atau lebih.

Kalau saja, Hadits ahad bukan merupakan hujjah di dalam masalah akidah maupun hukum, niscaya Allah Ta’ala tidak akan memerintahkan kepada thaifah iu untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari dengan perintah yang umum, sebagaimana firman Allah, “Semoga mereka itu dapat menjaga dirinya”, yang jelas menunjukkan bahwa ilmu yang berupa keyakinan itu juga sama dengan hasil yang akan didapatkan tatkala Allah memerintahkan kaum muslimin untuk merenungi ayat-ayat-Nya: naqliyah maupun aqliyah. Allah Ta’ala berfirman, “Semoga mereka berfikir” (QS Al A’raf (7):176). Serta firman-Nya, “Semoga kalian mendapat petunjuk.” (QS An Nahl (16):15).

2. Firman Allah Ta’ala: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS Al Isra’(17):36).

Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk tidak mengikuti dan tidak mengerjakan sesuatu yang tidak memiliki landasan ilmu. Telah diketahui bersama, bahwa kaum muslimin masih terus menyampaikan dan beramal dengan  Hadits ahad. Mereka masih senantiasa berdalih dengan Hadits Ahad pada perkara: ghaib, perkara-perkara akidah seperti, awal penciptaan, tanda-tanda kiamat, bahkan sifat-sifat Allah pun mereka tetapkan dengan menggunakan Hadits Ahad. Jika seandainya Hadits Ahad termasuk sesuatu yang otentik, niscaya para sahabat, tabiin dan pengikut tabiin serta ulama-ulama lainnya telah mengada-adakan sesuatu yang tidak berlandaskan dengan ilmu. Maka perkara ini tidak pernah dilakukan oleh seorang muslim. (lihat Mukhtashar As Shawaiq oleh Ibnu Qayyim 2: 396).

3. Firman Allah Ta’ala;

“Wahai orang-orang yang beriman, jka datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah denagn teliti.”(QS. Al Hujurat (49): 6)

Ayat ini mengisyaratkan bahwasanya, jika seorang adil dan terpercaya datang dengan membawa suatu kabar berita, maka kabar tersebut sudah jelas kebenarannya yang wajib untuk segera diterima dan dijalankan.   Berkata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah di dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in (2: 394), “ini menunjukkan bahwasanya Hadits Ahad itu adalah sesuatu yang pasti kebenarannya dan tidak perlu lagi untuk diteliti. Seandainya Hadits Ahad ini tidak menunjukkan sesuatu yang diyakini, pasti Allah Ta’ala juga akan memerintahkan untuk meneliti berita yang datang dari seorang yang terpercaya hingga tercapai sebuah kepastian. Di antara yang membuktikan kebenaran hal ini, bahwa para ulama salaf dan para imam kaum muslimin, hingga saat ini masih terus berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Begini, beliau melakukan ini, beliau memerintahkan itu atau beliau melarang berbuat demikian’. Perkataan mereka ini adalah sesuatu yang telah diketahui secara umum. Contohnya, di dalam Shahih Bukhari pada beberapa tempat disebutkan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’ padahal mereka tidak mendengar hadits tersebu tlangsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, melainkan mereka mendengar Hadits tersebut dari sahabat yang lain. Jika seandainya Hadits ahad tidak termasuk sesuatu yang memberikan keyakinan (akan keabsahannya), niscaya para sahabat telah dusta akan persaksiannya terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam karena tidak berdasarkan dengan ilmu.”

4. Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau yang menunjukkan keotentikan Hadits Ahad.

Beberapa Sunnah amaliyah (perbuatan) yang telah dijalani oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya (baik pada masa hidupnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam maupun setelah wafatnya) menunjukkan secara jelas akan keotentikan Hadits ahad dalam masalah akidah maupun hukum, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Dalil sunnah tersebut di antaranya adalah.

Berkata Imam Bukhari rahimahullah di dalam Shahihnya (8: 132) “Bab dibolehkannya menjadikan Hadits ahad yang dipercaya sebagai hujjah di dalam masalah adzan, shalat, puasa, hukum waris dan hukum yang lainnya dan firman Allah Ta’ala, “Mengapa tidak pergi tiap-tiap tha’ifah (golongan) di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada-Nya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya’. (QS At Taubah (9): 122). Kata Thai’fah diperuntukkan pula untuk seorang laki-laki dengan dalil firman Allah Ta’ala, ‘Dan jika ada dua golongan dari  orang-orang mukminin berperang maka damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al Hujurat (49): 9), dimana jika terdapat dua orang laki-laki berperang, maka keadaan keduanya termasuk dari arti ayat ini. Firman Allah Ta’ala, ‘ Apabila datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.’ Jika Hadits ahad itu bukanlah hujjah, maka bagaimana mungkin Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengutus para menterinya satu persatu? Jika salah seorang dari mereka keliru, maka persoalannya dikembalikan kepada As Sunnah.” Kemudian beliau membawakan beberapa Hadits sebagai dalil akan bab yang beliau sebutkan di antaranya adalah:

1. Dari Malik bin Al Huairits Radhiallahu Anhu, dia berkata,

Kami telah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedang usia kami masih muda. Kami menetap bersama beliau selama 20 malam, ternyata beliau Shallallahu Alaihi Wasallam seorang penyayang lagi pengasih. Tatkala beliau beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga-keluarga kami, beliau bertanya siapa yang akan  menggantikan kami, maka kami memberitahukan beliau. (setelah itu) beliau berkata,’Kembalilah kepada keluarga-keluarga kalian dan menetaplah bersama mereka, ajarilah mereka dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Pada Hadits ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyuruh kepada pemuda itu untuk mengajari keluarganya masing-masing, dan pengajaran tersebut tentunya mencakup pengjaran tentang akidah, karena masalah akidah adalah masalah yang utama. Kalau Hadits ahad itu bukan hujjah, niscaya perintah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tidak bermakna.

2. Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu, dia  berkata,

“Sesungguhnya penduduk Yaman telah datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mereka berkata,’Utuslah kepada kami seorang yang akan mengajarkan kepada kami As Sunnah dan Islam.’ Anas bin Malik berkata, ‘Maka beliaupun menggenggam tangan Abu Ubaidah dan berkata, Ini adalah kepercayaan umat”.”

(Diriwayatkan oleh Muslim (7:129) dan Bukhari secara ringkas).

Saya mengatakan bahwa, jika Hadits ahad bukan termasuk hujjah, pasti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak akan mengutus Abu Ubaidah seorang diri. Demikian juga yang dikatakan pada utusan-utusan beliau yang lainnya ke beberapa negeri, seperti tatkala beliau mengutus Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ari seperti tercantum di dalam As Shahihain dan yang lainnya. Tidak diragukan lagi bahwa di antara ajaran mereka kepada kaumnya adalah hal-hal yang meyangkut persoalan akidah. Kalau Hadits ahad bukan termasuk ukuran  dalam penetapan sebuah dalil, tentu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak akan mengutus sahabatnya orang perorangan, karena yang demikian itu adalah merupakan suatu yang sia-sia. Hal ini juga telah disinyalir oleh Imam Asy Syafi’I di dalam Ar Risalah, (hal 412), “Sesungguhnya belau Shallallahu Alaihi Wasallam mengutus seorang kepada suatu kaum, dengan membawa kabar. Jika beliau menginginkan, mungkin beliau langsung mendatangi kaum itu dan berbicara kepada mereka atau beliau mengutus kepada mereka beberapa orang, namun beliau hanya mengutus seorang yang diketahui kejujurannya.”

3. Dari Abdillah bin Umar Radhiallhu Anhuma berkata,

“Tatkala beberapa orang berada di Quba sedang melaksanakan shalat subuh, tiba-tiba datang kepada mereka seseorang dan berkata,’ Sesungguhnya telah turun ayat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada mala mini, beliau diperintahkan untuk menghadap ka’bah, maka hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya.” Pada saat itu mereka lantas  memutar arah menghadap kiblat sedangkan sebelumnya mereka, menghadapkan wajah-wajah mereka kea rah Syam (Baitul Maqdis).” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Hadits ini merupakan dalil yang sangat jelas  yang menunjukkan bahwa para sahabat menerima Hadits ahad sebagai hujjah dalam menghapuskan suatu hukum dan menggantinya dengan hukum baru.  Andaikan kabar itu tidak termasuk hujjah, maka mereka tidak akan mentang sesuatu yang telah terdapat hukumnya dengan khabar tersebut. Berkata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, “perbuatan mereka itu (menerima khabar ahad) tidak dipungkiri oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bahkan beliau mensyukuri mereka akan hal itu.”

4. Dari Sa’id bin Zubair Radhiallahu Anhu beliau mengatakan bahwa, dia berkata kepada Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu sesungguhnya Naufan Bakkali beranggapan bahwasanya Musa teman al Khidhir bukanlah Musa yang diutus kepada Bani Isra’il.” Berkatalah Ibnu Abbas,’ Sungguh telah dusta musuh Allah, telah mengabarkan kepadaku Ubay bin Ka’ab, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah berkhutbah di hadapan kami…kemudian beiau menyebutkan kisah Musa bersama Al Khidhir secara panjang lebar yang menunjukkan bahwa Nabi Musa yang diutus kepada Bani Isra’il adalah yang mengikuti Al Khidhir’.” (Dikeluarkan oleh Syaikhani dengan lafadz yang panjang dan dikeluarkan pula oleh Asy Syafi’I dengan lafadz ini.)

Berkata Imam As Syafi’i, (hal. 332:1219) mengomnetari kisah Musa tersebut,”Ibnu Abbas dengan segala pemahaman dan kewaraan beliau (kehati-hatian) tetap saja menetapkan kebenaran dari hadits Ubay bin Ka’ab hingga dia mengatakan kepada seorang muslim yang mengingkari khabar itu sebagai pendusta, dimana Ubay bin Ka’ab telah mengabarkan berita tersebut dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan di dalamnya terdapat petunjuk yang menerangkan bahwasanya Musa yang diutus kepada bani Isra’il adalah yang mengikuti Al Khidhir.

Saya mengatakan bahwa perkataan Imam Syafi’i ini merupakan dalil, bahwa tidak melihat adanya perbedaan antara akidah dan amal, ditinjau dari keabsahan Hadits ahad sebagai hujjah atas keduanya. Hal ini jelas terlihat dalam masalah Musa, dimana masalah ini adalah masalah akidah dan bukan menyangkut masalah hukum perbuatan seorang hamba (fikih).

Menegaskan hal ini beliau menuliskan sebuah pasal yang penting dalam kitab ar Risalah yang beliau beri judul “Dalil-dalil yang menetapkan keotentikan Hadits ahad”. Kemudian beliau menerangkan beberapa dalil umum, baik dari Al Quran maupun As Sunnah yang menjelaskan tentang penegasan keotentikan Hadits ahad di masalah akidah.

Selanjutnya beliau mengakhiri pembahasannya dengan mengatakan bahwa di dalam penetapan Hadits ahad ini sebagai hujjah terdapat banyak dalil yang menguatkannya, namun cukup kami sebutkan sebagian saja, dan demikianlah jalan yang telah ditempuh oleh pendahulu-pendahulu kami, bukan setelah mereka hingga saat ini di berbagai Negara, sama seperti apa yang telah kami sebutkan.

Kemudian pada hal 457 beliau berkata, “Seandainya boleh bagi seseorang untuk menetapkan bahwasanya seluruh kaum muslimin baik sekarang maupun dahulu telah sepakat akan kehujjahan Hadits ahad, niscaya akan kukatakan hal itu. Tetapi saya tidak ingat adanya perselisihan di kalangan ulama akan kahujjahan Hadits ahad.”

(insya Allah bersambung…)

Information

This entry was posted on Oktober 23, 2009 by in Hadits, Manhaj and tagged , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: