أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits Ahad Sebagai Hujjah di Dalam Masalah Akidah Maupun Hukum (Fikih) (Bagian III)

Menolak Hadits Ahad Sebagai Hujjah terhadap Masalah Akidah adalah Bid’ah

Secara singkat kami katakan bahwa seluruh dalil dari al Kitab maupun as Sunnah serta perbuatan para sahabat dan perkataan para ulama yang menunjukkan bahwasanya Hadits ahad adalah sah, dijadikan sebagai hujjah di dalam seluruh masalah agama, baik yang berkenaan dalam masalah fikih maupun akidah. Pemisahan yang dilakukan atas kedua masalah tersebut adalah sesuatu yang bid’ah yang tidak dikenal sebelumnya oleh ulama salaf.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa ulama telah sepakat menyatakan bahwasanya pemisahan tersebut adalah sesuatu yang batil. Bahkan mereka harus menggunakan dalil dari Hadits ahad, baik dalam masalah akidah maupun fikih. Terlebih-lebih karena karena hukum-hukum fikih juga memuat penjelasan tentang Allah, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menetapkan syariat dan telah mewajibkannya serta telah meridhainya sebagai agama. Oleh karena itu, syariat dan agama-Nya sesuai dengan nama dan sifat-safat-Nya.

Para sahabat, tabi’in dan para ulama Hadits senantiasa berdalil dengan Hadits-hadits ini, dalam masalah sifat, taqdir, nama-nama Allah dan hukum-hukum-Nya. Tidak ada periwayatan dari seorangpun di antara mereka yang mengkhususkan Hadits ahad terhadap masalah-masalah hukum dan tidak menjadikannya dalil dalam masalah nama dan sifat-sifat Allah. Dengan demikian, mana panutan ulama salaf mereka  yang menjelaskan tentang perbedaan dua hal tersebut?

Sebenarnya yang menjadi panutan mereka hanya segelintir ulama ilmu kalam yang tidak memiliki perhatian terhadap ajaran Allah, Rasul-Nya dan para sahabat. Bahkan mereka it uterus menerus berupaya untuk menghalangi manusia yang haus akan petunjuk al Quran, sunnah serta perhatian para sahabat dalam masalah akidah.

Mereka mengganti dalil-dalil yang jelas itu dengan pendapat ahli kalam dan kaidah-kaidah yang mereka buat. Mereka dalah sebagai orang-orang yang pertama kali memprakarsai pemisahan antaa akidah dan fikih. Adapun pengakuan mereka yang tidak sedikit pun bersumber dari perkatan ulama, sahabat, maupun tabi’in yang telah bersepakat tentang pemisahan ini…

Maka kami meminta mereka agar mendatangkan dalil yang benar tentang masalah terebut, tetapi niscaya mereka itu tak akan sanggup mendatangkannya. Demikian juga perkataan sebahagiaan dari mereka, “Masalah akidah adalah masalah ushul (pokok masalah ilmu) sedangkan masalah fikih adalah masalah furu’(cabang masalah tingkah laku).” Pemisahan ini juga batil, karena tujuan dari perkara-perkara fikih ada dua perkara, yaitu ilmu dan amal. Tujuan dari perkara akidah juga tercakup dalam dua hal, yaitu ilmu dan amal, yang merupakan kecintaan yang timbul dari lubuk hati kan kebenaran dan kebencian yang berakar dari sanubari seseorang akan kemaksiatan. Pengertian amal itu tidak terfokus pada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan panca indera seseorang, tetapi berhubungan dengan tuntutan hati seseorang, karena hati merupakan sumber dari gerak dan tingkahlaku perbuatan seseorang. Semua yang berkaitan dengan masalah keyakinan dikaitkan dengan keimanan yangterletak pada hati dengan pengakuannya serta kecintaannya, dan semua ini adalah dasar dari seluruh perbuatan. Masalah ini yang tidak disadari oleh kebanyakan dari ulama kalam dari masalah-masalah iman dimana mereka menyangka bahwasanya, iman itu semata-mata pembenaran dalam hati, meskipun tidak diiringi dengan perbuatan.

Persangkaan yang demikian itu adalah sejelek-jeleknya sangkaan dan keraguan, karena kebanyakan dari orang-orang kafir mempercayai akan kebenaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak meragukan akan kenabiannya, namun meeka tidak menyertainya dengan perbuatan hati dari mencintai ajarannya, loyal terhadap suatu kebaikandan benci akan sebuah kemaksiatan yang diajarkan beliau. Permasalah ini sangat asasi yang berhubungan erat degan hakikat keimanan seseorang.

Sebenarnya, seluruh masalah-masalah al Ilmiyah (akidah) adalah merupakan masalah-masalah al Amaliyah (fikih) dan begitu juga sebaiknya. Allah tidak pernah membatasi perkara-perkara fikih hanya sebatas perbuatan belaka tanpa diiringi dengan ilmu, sebagaimana tidak pernah membatasai masalah-masalah akidah hanya sebatas ilmu tanpa diiringi dengan amal,

Dari perkataan Ibnu Qayyim, jelas bahwa pemisahan antara akidah dan fikih, selain merupakan sesuatu yang batil dengan berdasarkan kesepakatan umat akan hal tersebut dan juga banyaknya dalil-dalil yang menentangnya, maka pemisahan tersebut juga merupakan sesuatu yang batil, bila ditinjau dari dasar pemikiran mereka sendiri, yaitu yang tidak mewajibkan penyatuan antara ilmu dan amal. Masalah ini adalah sesuatu yang sangat penting, yang diharapkan dapat membantu seorang muslim untuk memahami persoalan-persoalan di atas dengan baikdan meyakini akan batalnya pemisahan yang telah disebutkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 23, 2009 by in Hadits, Manhaj and tagged , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: