أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits Ahad Sebagai Hujjah di Dalam Masalah Akidah Maupun Hukum (Fikih) (bagian I)

Sesungguhnya orang-orang yang beranggapan bahwa Hadits ahad bukan merupakan hujjah di dalam masalah akidah, mereka justru mengatakan bahwa hadits ahad itu hujjah pada masalah-masalah hukum fikih. Mereka membedakan antara masalah akidah dan masalah hukum. Namun pernahkah kalian mendapati perbedaan keduanya di dalam al Quran maupun as Sunnah? Sungguh hal ini tidak akan pernah dijumpai, bahkan seluruh ayat maupun Hadits-hadits yang telah dikemukakan pada awal buku ini, secara umum mencakup juga masalah akidah.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang mereka…”(Al Ahzab (33):36). Dalam ayat ini, Allah berfirman (menetapkan suatu perkara) dan firmannya ini tidak diragukan lagi meliputi suatu yang umum, baik menyangkut masalah akidah maupun yang lainnya.

Demikian halnya, terhadap semua perintah Allah Ta’ala untuk menaati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan larangannya untuk mendurhakai beliau, ancamannya kepada orang-orang yang menyelisihinya dan pujian terhadap orang-orang yang taat dan berkata tatkala mereka diseru untuk  berhukum kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, “Kami dengar dan kami taat.” Seluruh dalil-dalil tersebut menunjukkan perintah yang umum untuk taat dan patuh terhadap segala ajaran beliau Shallallahu Alaihi Wasallam baik yang menyangkut masalah akidah maupun fikih. Juga firmannya, “Apa yang diberikan oleh Rasul, maka terimalah.” (QS. Al Hasyr (59):7) menunjukkan perintah-perintah yang umum.

Kemudian jika kalian bertanya kepada orang-orang yang menjadikan Hadits ahad sebagai hujjah dalam masalah-masalah fikih belaka, maka dalil apa yang kalian pakai? Niscaya mereka juga akan berdalil dengan ayat-ayat yang telah disebutkan secara ringkas tadi dan juga telah disebutkan oleh Imam Asy Syafi’i di dalam kitab Ar Risalah. Kalau demikian, apakah yang menyebabkan mereka mengkhususkan keotentikan Hadits ahad pada masalah-masalah hukum dan tidak pada masalah-masalah akidah?

Syubhat dan Jawabannya

Syubhat (keragu-raguan) telah merasuk ke dalam benak mereka sehingga tertanam menjadi sebuah fanatisme terhadap pendapat! Syubhat yang dimaksud adalah prasangka mereka, bahwasanya Hadits ahad tidak memberi faidah melainkan Azh Zhannul Ghalib (persangkaan yang kuat), sedang yang dimaksud dengan Azh Zhannul Ghalib (persangkaan yang kuat akan keabsahan Hadits ahad tersebut) adalah hal yang wajib diamalkan dalam masalah-masalah hukum. Demikianlah telah menjadi konsensus (kesepakatan) mereka. Adapun pada masalah-masalah ghaib dan yang berkaitan dengan akidah, maka menurut mereka tidak dibolehkan untuk menjadikan Azh Zhannul Ghalib ini sebagai dalil padanya.

Namun, jika kita terima saja perkataan mereka, maka kami bertanya, “Bagaimana kalian membedakan antara masalah-masalah hukum dan masalah yang berkaitan dengan akidah? Dalil apa yang kalian jadikan pegangan, sehingga kalian menjadikan Hadits ahad ini sebagai dalil di dalam masalah hukum tetapi tidak pada masalah akidah?

Beberapa ulama kontemporer telah berdalih akan hal ini denga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap kaum musyrikin, “Tidak lain hanya mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka.’ (QS. An Najm (53): 28), dan ayat-ayat lain yang di dalamnya terdapat celaan terhadap kaum musyrikin yang hanya mengikuti persangkaan-persangkaan mereka belaka.

Tetapi sungguh mereka telah lupa bahwa yang dimaksud dengan azh Zhannu (persangkaan) pada ayat-ayat tersebut bukanlah persangkaan yang kuat azh Zhannul Ghalib sebagaimana yang dimiliki Hadits ahad, sehingga para ulama bersepakat untuk menjadikannya hujjah (dalil) di dalam masalah agama. Namun, yang dimaksud azh Zhannu di dalam ayat-ayat yang telah disebutkan tadi adalah persangkaan yang tidak dibuktikan oleh dalil apapun.

Disebutkan di dalam an Nihayah, al Lisan dan kamus-kamus bahasa yang lain, azh zhannu adalah keragu-raguan yang menghinggapi seseorang akan suatu masalah hingga ia dapat membuktikannya. Pengertian ini yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala tatkala mencela kaum musyrikin. Di antara yang menguatkan hal itu adalah firman-Nya, “Mereka tidak lain hanyalah persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al An’am (6):115).

Kalau saja yang dimaksud dengan azh Zhannu dalam ayat ini adalah azh Zhannul Ghalib (persangkaan yang kuat) sebagaimana yang mereka perkitakan, maka tidak dibolehkan bagi seseorang untuk menjadikannya sebagai dalil (hujjah) di dalam masalah hukum sebagaimana tidak dibolehkan menjadikannya sebagai dalil di dalam masalah akidah, karena dua sebab, yaitu:

Pertama, Allah Ta’ala telah mengingkari perbuatan orang-orang musyrikin tersebut dengan pengingkaran dalam masalah-masalah  yang umum dan tidak terfokuskan pada masalah-masalah akidah.

Kedua, Allah Ta’ala telah menyatakan secara jelas bahwa pengingkaran-Nya terhadap Azh zhannu yang dibuat oleh kaum musyrikin juga mencakup masalah-masalah hukum. Allah Ta’ala berfirman, di dalam surat Al An’am (6):148, “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan berkata, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya’”, ini menunjukkan pengingkaran Allah terhadap persangkaan mereka  yang batil di dalam masalah akidah, kemudian Allah berfirman , “Dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apapun”, firman-Nya ini menunjukkan akan pengingkaran-Nya terhadap prasangka mereka dalam masalah hukum, kemudia Allah melanjutkan firman-Nya, “Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan para rasul sampai mereka merasakan siksa kami, katakanlah, ‘Adalah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada kami?’ Kamu tidaklah mengikuti melainkan azh zhannu (persangkaan) belaka dan kamu tidak lain hanyalah mengira-mengira (berdusta).”

Dapat diketahui dari ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan azh zhannu yang tidak boleh dijadikan hujjah dalam masalah apapun menyangkut agama (baik dalam masalah akidah maupun hukum) adalah azh zhannu menurut definisi bahasa yang telah disebutkan, yaitu sangkaan dan perkiraan-perkiraan yang tidak didasari oleh ilmu.

Kelau demikian halnya, maka benarlah perkataan kami: bahwa seluruh ayat maupun Hadits-hadits yang menunjukkan seorang muslim untuk menjadikan Hadits Ahad sebagai hujjah dalam masalah hukum juga menunjukkan-secara umum- untuk menjadikan hujjah di dalam masalah akidah.

Jika dicermati, maka sesungguhnya pemisahan antara masalah hukum dan akidah ditujukan dari sisi kehujjahan Hadits ahad terhadap keduanya adalah merupakan suatu falsafah baru di dalam Islam. Hal tersebut tidak pernah dikenal sebelumnya oleh ulama salaf, Imam yang empat, maupun ulama-ulama yang lain di seluruh penjuru dunia (yang  diikuti oleh para ulama sekarang ini).

bersambung insya Allah…

Al Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqa’I wal Ahkam, Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Edisi Indonesia “Hadits Sebagai landasan Akidah dan Hukum”, Penerbit Pustaka Azzam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 13, 2009 by in Hadits, Manhaj and tagged , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: