أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

ASINGNYA AS SUNNAH DI KALANGAN ULAMA KONTEMPORER

Di antara yang menunjukkan asingnya as Sunnah di kalangan mereka adalah jawaban yang dikeluarkan oleh salah satu majalah Islam atas pertanyaan, “Apakah semua hewan juga dibangkitkan pada hari kiamat?”

Mereka menjawab, “Telah berkata Imam Al Alusi di dalam tafsirnya dan tidak ada satu pun keterangan dari Al Quran maupun As Sunnah yang menyatakan bahwa makhluk selain manusia dan jin akan dikumpulkan di padang mahsyar.”

Jawaban ini adalah merupakan suatu jawaban yang aneh dan sekaligus membuktikan betapa As Sunnah di kalangan mereka telah manjadi sesuatu yang asing dan terlupakan, baik di kalangan ulamanya atau di kalangan orang-orang selain mereka. Sebenarnya banyak hadits-hadits yang menunjukkan bahwa semua hewan akan dikumpulkan dan diadili pada saat hari kiamat. Di antara hadits-hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya,

“Sungguh kalian benar-benar akan mengembalikan (mempertanggungjawabkan) seluruh hak-hak yang kalian rampas dari pemiliknya. Sempai-sampai domba yang tidak bertanduk pun akan mendapatkan haknya dari domba-domba yang bertanduk”.

Juga telah disebutkan dari sebuah hadits dari Ibnu Amru, bahwasanya orang-orang kafir di kala menyaksikan pengadilan tersebut mereka berkata,”…Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (QS. An NAba’ (78): 40).

Beberapa Landasan Kaum Khalaf yang Menyebabkan Mereka Meninggalkan As Sunnah

Kaidah atau landasan apakah yang dijadikan pegangan oleh mereka, sehingga tidak mempelajarinya, tidak mengamalkannya, bahkan mereka meninggalkan as Sunnah? Jawabannya mungkin dapat disimpulkan dari point-point berikut ini:

  1. Perkataan sebagian ulama kalam, “Sesungguhnya hadits ahad tidak sah digunakan untuk menetapkan suatu perkara akidah”. Kaidah yang sama juga telah diungkapkan oleh beberapa da’i kontemporer hingga di antara mereka ada yang mengatakan bahwa haram untuk menetapkan urusan-urusan akidah dengan menggunakan hadits ahad.
  2. Beberapa kaidah yang dijadikan standar oleh beberapa madzhab, di antaranya adalah:
    1. Mendahulukan qiyas atas hadits ahad. (al I’lam I:327,300 dan Syarhul Manar, hal 623)
    2. Batalnya hadits ahad apabila berseberangan dengan ushul. (al I’lam I:329 dan Syarhul Manar, hal 646)
    3. Batalnya hadits yang di dalamnya terdapat hokum lebih daripada kandungan suatu ayat al Quran dengan dalih bahwasanya yang demikian itu merupakan nash (penghapusan) bagi ayat-ayat al Quran, sedangkan as Sunnah tidak mungkin menghapus kandungan hokum dari suatu ayat al Quran. (Syarhul Manar, hal 647 da al Ihkam 2:65)
    4. Mendahulukan perbuatan penduduk Madinah atas hadits yang shahih.
    5. Taklid dan menjadikan suatu madzhab seakan-akan sebagai agama mereka.

Al Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqa’I wal Ahkam, Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Edisi Indonesia “Hadits Sebagai landasan Akidah dan Hukum”, Penerbit Pustaka Azzam, hal. 61-63

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 12, 2009 by in Hadits, Manhaj and tagged , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: