أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Sujud Untuk Berdoa Setelah Mengerjakan Shalat

 

 

Tradisi yang berlaku di kalangan masyarakat adalah mengerjakan sujud selepas shalat. Ketika sujud itu dikerjakan, bisaanya dia juga memanjatkan doa. Sujud yang seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar dan tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Perbuatan seperti itu juga tidak pernah diriwayatkan dari para sahabat beliau. Yang lebih baik adalah berdoa di dalam shalat-bukan di dalam sujud selepas shalat- sebagaimana yang dijelaskan di dalam beberapa hadits. Masalah ini juga telah disebutkan oleh pengarang kitab al Tatimmah dan dikomentari oleh Abu Syamah.

Beliau (pengarang kitab) berkata: “Aku berkata: Sujud  yang dianggap ibadah sebagai ibadah dalam shalat tidak mesti juga dianggap sebagai ibadah jika dikerjakan di luar shalat. Begitu juga dengan ruku’.”(al Baa’its ‘alaa Inkaar al Bida’ wa al Hawaadits halaman 58).

 

Al ‘Izz ibn Abdussalam berkata: “Syariat tidak mengajarkan sujud untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’alaa yang dikerjakan di luar shalat. Apalagi jika sujud itu sendiri tidak mempunyai sebab akibat. Sesungguhnya ibadah mendekatkan diri kepada Allah itu harus memiliki beberapa sebab, syarat, waktu dan beberapa rukun. Ibadah tidak akan dianggap syah tanpa memperhatikan beberapa hal yang baru disebutkan. Begitu juga mendekatkan diri kepada Allah denga cara wukuf di padang Arafah dan Muzdalifah, melempar jumrah dan sa’i (lari-lari kecil) di antara Shafa dan Marwah denga tanpa memperhatikan waktu, sebab dan syarat-syaratnya, tidak akan dianggap sebagai ibadah yang sah. Seseorang juga hendaknya tidak melakukan sujud, sekalipun itu salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah, jika tidak dilatarbelakangi oleh sebab yang benar. Begitu juga dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala berupa shalat dan puasa, hendaklah tidak dikerjakan secara sembarangan tanpa memperhatikan waktu dan sebabnya. Boleh jadi banyak orang bodoh yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara-cara seperti itu. Padahal yang mereka lakukan tidak malah mendekatkan diri mereka kepada Allah, akan tetapi malah sebaliknya, menjauhkan mereka dari-Nya. Akan tetapi mereka tidak menyadari akan hal itu. (al Baa’its ‘alaa Inkaar al Bida’ wa al Hawadits halaman 58. Lihat juga Musaajalah ‘Ilmiyah halaman 7-8)

 

Kesimpulannya adalah kesungguhan syariat Islam tidak mengajarkan seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah denga cara sujud kecuali hanya di dalam shalat atau karena ada sebab-sebab tertentu, seperti misalnya sujud sahwi (sujud karena lupa ketika shalat), sujud syukur (bersyukur karena mendapatkan kenikmatan dari Allah) dan sujud tilawah (sujud karena mendengar bacaan ayat sajadah).

 

Sebenarnya akar perbuatan bid’ah ini (sejud untuk berdoa selepas shalat) diawali oleh perbuatan sebagian sufi yang menganjurkan setiap orang yang shalat untuk melakukannya. Sujud itu mereka kerjakan dengan tujuan untuk menambah hal-hal yang dilalaikan oleh hati ketika sedang shalat. Sebab seseorang hampir bisa dipastikan tidak akan konsentrasi penuh selama mengerjakan shalat. Kelalaian hati itu sebenarnya adalah perbuatan setan. Cacat itu tidak bisa ditambal kecuali dengan suatu perbuatan yang tidak mungkin bisa didekati oleh setan (yakni ketika hamba dalam keadaan sujud).

 

Tidak perlu diragukan lagi bahwa setanlah sebenarnya yang meniupkan rasa was-was kepada orang-orang seperti itu dan membujuknya untuk mlakukan perbuatan bid’ah (sujud seusai shalat). Mereka tidak sadar kalau setan telah membujuk mereka melalui perbuatan bid’ah di dalam masalah agama. Ketika ibadah shalat pada hakikatnya sebua ibadah yang dikerjakan dengan hanya meniru apa yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka melakukan hal yang tidak beliau contohkan dianggap oleh para ulama sebagai perbuatan bid’ah.

 

Al Qoulul Mubiin fii Akhthaa al Mushalliin; Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman, edisi Indonesia Koreksi Total Ritual Shalat, penerbit Pustaka Azzam, hal. 298-300.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 9, 2009 by in Bid'ah, Fiqih and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: