أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Pengantin (pria) yang Terlambat Melakukan Shalat Jum’at dan Jama’ah

 

 

Di antara kesalahan yang telah tersebar luas di kalangan masyarakat adalah pendapat yang mengatakan bahwa pengantin pria diperbolehkan terlambat melakukan shalat jumat ataupun shalat berjamaah di dalam masjid.

 

Sebagian mereka ada yang menyandarkan pendapat ini pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “(Pengantin pria tinggal di dalam rumah) selama tujuh hai untuk (wanita) perawan (yang dinikahinya. Baru setelah itu berlaku jatah bergilir bagi yang beristri lebih dari satu) dan untuk janda tiga hari.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari di dalam al Shahih (IX/313-314) nomor 5213 dan 5214, Muslim di dalam Al Shahih nomor 1461, Abu Dawud di dalam Al Sunan nomor 2124, al Turmudzi di dalam al Jaami’ nomor 1139, Abdur Razaq di dalam al Mushannaf nomor 10643, al Baihaqi di dalam al Sunan al Kubra (VII/301), al Baghawi di dalam Syarh al Sunnah nomor 2326, al Thahawi di dalam Syarh Ma’aani al Atsar (III/28) dan Malik di dalam al Muwaththa’ (II/530/15). Hadits ini menurut mereka diriwayatkan secara mauquf).

 

Sedangka jika diriwayatkan secara marfu’, maka diriwayatkan oleh Ibn Majah di dalam Al Sunan nomor 1916, al Darimi di dalam al Sunan (II/144), Ahmad di dalam Al Musnad (III/99), Abu Nu’aim di dalam kitab al Hilyah (II/288) dan (III/13), Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al Ismaili sebagaimana disebutkan di dalam kitab al Fath (IX/315).

 

Al Zaila’I berkata di dalam Nashb al Raayah (I/314): “Ketahuilah, sesungguhnya jika seorang sahabat mengatakan sesuatu sebagai sunnah, berarti yang dimaksud adalah sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,” lihat juga di dalam al Kifaayah karya al Khatib halaman 426 dan Ahkaam al Qur’an karya Ibn Daqiq al “Id (III/67) dan (IV/41).

 

Menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa pengantin boleh terlambat untuk shalat jumat atau shalat jamaah adalah tidak tepat. Karena di dalam hadits ini tidak dijelaskan adanya izin bagi pengantin untuk terlambat melakukan shalat jumat dan jamaah.

 

Al Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang bersambung kepada Abu Qilabah, dari Anas Radhiyallahu Anhu, dia berkata: “yang termasuk perbuatan sunnah, jika seseorang mengawini gadis, namun sebelumnya telah beristrikan seorang janda. Dia berhak tingal bersama gadis itu selama tujuh hari, baru kemudian menggilir hari bagi istri-istrinya. Jika dia menikah dengan janda setelah sebelumnya menikah dengan gadis, maka dia berhak bermukim selam tiga hari, baru setelah itu berlaku jatah gilir.”

 

Muhammad al ‘Atabi al Quthubi rahimahullah ditanya tentang pengantin yang bertemu pertama kali dengan istrinya pada malam jumat. Apakah dia boleh tertinggal shalat jumat (pada keesokan harinya)?” Dia menjawab: “Tidak, dia tidak boleh tertinggal shalat dzuhur dan ashar (secara berjamaah). Dia tidak bolhe ketinggalan kedua shalat itu dan harus keluar rumah untuk melakukannya.’

 

Al ‘Atabi  juga berkata: “Sahnun berkata: ‘Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa pengantin boleh tidak keluar rumah (untuk shalat jumat atau shalat berjamaah) Karena dia telah mendapatkan keterangan hal ini dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam’.”

 

Namun Imam Malik berkata: “Aku dibuat heran dengan pengantin yang meninggalkan shalat secara keseluruhan.” (al Bayan wa al Tahshiil (I/356)).

 

Muhammad bin Rusy rahimahullah mengomentari perkataan Sahnun dan Malik di atas sebagai berikut: “Yang jelas, perkataan banyak orang seperti juga yang disampaikan oleh Sahnun bahwa pengantin memiliki hak untuk tidak shalat jumat dan shalat yang lain merupakan pendapat yang sangat bodoh. Seperti yang telah dikatakan oleh Malik rahimahullah bahwa kesalahan pendapat ini bukan suatu yang samar lagi.”

 

Kemudian al ‘Atabi rahimahullah ta’ala kembali berkata: “Sedangkan perkataan Malik: “Aku dibuat heran dengan pengantin yang meninggalkan shalat secara keseluruhan,” maksudnya adalah tidak heran bagiku jika pengantin diberikan keringanan untuk meninggalkan shalat jamaah di dalam masjid. Namun yang membuat aku keheranan adalah jika pengantin diberi keringanan meninggalkan shalat fardhu karena sibuk mengurus istrinya. Apalagi jika keringanan itu berupa meninggalkan shalat jumat yang memang menghadirinya adalah sesuatu yang fardhu. Wabillahit taufiq.” (al Bayan wa al tahshiil (I/356-357)

 

Setelah mensyarahi hadits tersebut di atas, al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Setelah tujuh hari atau tiga hari, makruh bagi pengantin untuk terlambat mengerjakan shalat jamaah dan semua perbuatan baik yang dulu biasa dikerjakan. Demikianlah yang dinash oleh Syafi’i.”

 

Dinukil dari Ibnu Daqiqil ‘Id, dia berkata: “Sebagian ulama ahli fiqih ada yang bersikap berlebihan. Mereka memberikan udzur kepada pengantin untuk tidak mengerjakan shalat jumat. Hal ini benar-benar perbuatan yang keji.” (Fath al Baari (IX/316)

 

Ketika hal itu diketahui orang-orang generasi akhir, mereka langsung mengira bahwa shalat jumat hukumnya fardhu kifayah. Sebenarnya ini merupakan pendapat yang salah. Padahal yang mengatakan hal ini masih ragu, apakah benar acara pengantin bias dijadikan udzur untuk meninggalkan shalat jumat. Manjadikan pernikahan sebagai udzur jelas merupakan pendapat yang salah. Sedangkan yang benar, shalat jumat itu hukumnya fardhu ain sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa nash. (Ihkaam al Ahkaam (IV/32), Ibnu Qayyim di dalam Zaadul Ma’aad (I/398) dan Ibnu Rusyd di dalam Bidaayatul Mujtahid (III/255)).

 

Menjadi gamblang bagi kita dari perkataan Ibnu Daqiqil ‘Id – jika kita telah tahu bahwa shalat jamaah hukumnya wajib- bahwa pendapat yang mengatakan bahwa shalat jamaah boleh ditinggalkan karena alas an masih menikmati hari-hari perama pernikahan bukanlah pendapat kuat. (masalah ini telah dijelaskan oleh al Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab al Fath (IX/316)). Bagaimana dengan pendapat yang membolehkan tidak shalat jumat dengan alas an yang sama?! Padahal shalat jumat memiliki kekhususan yang tidak dipunyai oleh shalat-shalat fardhu yang lain, baik berupa berkumpul bersama dengan orang banyak, harus diselenggarakan sengan jumlah yang ditentukan, yang shalat haruslah orang yang mukim dan imam mengeraskan bacaan al Qurannya.

 

Telah dijelaskan dalam nash tentang meninggalkan shalat jumat yang tidak dimiliki oleh shalat fardhu lainnya kecuali hanya pada shalat asar.(Zadul Ma’aad (I/397)). Selain itu shalat jumat juga temasuk ibadah fardhu yang paling penting dalam Islam. Sebab di dalam shalat jumat, semua umat berkumpul menjadi satu mirip dengan yang terjadi ketika berkumpul di padang ‘Arafah. Jadi barangsiapa yang meninggalkannya, Allah akan mencap hatinya menjadi hati yang keras. Selain itu, kedekatan ahli surga dengan Allah dan tambahan karunia yang diperolehnya nanti pada hari kiamat tergantung pada kedekatannya dengan imam ketika shalat jumat dan kedatangannya yang lebih awal di dalam masjid. (Zaadul Ma’aad(I/376)).

 

Oelh karena itulah, setiap orang muslim sangat antusias untuk menghadiri shalat jumat dan tidak gampang meniggalkannya hanya karena ada udzur yang tidak berarti.

 

 

Al Qoulul Mubiin fii Akhthaa al Mushalliin; Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman, edisi Indonesia Koreksi Total Ritual Shalat, penerbit Pustaka Azzam, hal. 320-323.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: