أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Nasihat

Hadits Keseratus tujuh Puluh Dua

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال بايعت رسول الله صلى الله عليه وسلم على إقام الصلاة وإيتاء الزكاة والنصح لكل مسلم متفق عليه

“Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, ia berkata,”Saya berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk senantiasa mengerjakan shalat, dan member nasihat kepada sesame muslim.”(Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim)

Hadits Keseratus tujuh Puluh Tiga

عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه متفق عليه

“Dari Anas Radhiallhu Anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda, ‘tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’”(Al Bukhari dan Muslim)

Penjelasan

Penulis, An Nawawi, meriwayatkan hadits pertama dari Jabir bin Abdillah Al Bajali berkata,”Saya berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk senantiasa mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasihat kepada sesame muslim.”

Hadits ini mengandung tiga hal penting : hak primer Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hak primer manusia, dan hak keduanya secara bersama-sama. Yang disebut dengan hak primer Allah adalah sabda beliau,”Mengerjakan shalat.”

Arti menegakkan shalat adalah mengerjakan secara lurus sesuai dengan yang diinginkan, menjaga pelaksanaannya melaksanakan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, syarat-syaratnya, serta menyempurnakan dengan sunnah-sunnahnya.

Di antaranya adalah bagi laki-laki mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Ini termasuk bagian dari menegakkan shalat. Siapa meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur, maka dia berdosa. Bahkan, ada sebagian ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Jika seseorang meninggalkan shalat berjamaah tanpa uzur, maka shalatnya batal, ditolak dan tidak diterima.” Tetapi menurut jumhur ulama bahwa orang yang tidak shalat jamaah shalatnya tetap syah, tetapi dia berdosa. Inilah pendapat yang benar. Barangsiapa yang meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur, maka shalatnya syah tetapi dia berdosa. Inilah pendapat yang kuat dan terkenal menurut mazhab Imam Ahmad dan pendapat inilah yang dipegang jumhur ulama yang berpendapat tentang wajibnya shalat berjamaah.

Di antara bentuk mendirikan shalat adalah khusyukdi dalamnya. Khusyuk adalah hadirnya hati dengan merenugkan apa yang diucapkan dan dikerjakan orang yang shalat. Ini masalah penting, karena shalat tanpa khusyuk seperti jasad tanpa ruh. Jika kamu shalat dan hatimu mengembara ke lembah-lembah , maka kamu hanya shalat dengan gerakan badan saja. Tetapi jika hatimu hadir dan kamu merasakan seakan-akan kamu berada di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bermunajad kepada-Nya, berbicara langsung dengan-Nya, dan mendekat kepada-Nyadengan zikir dan do’a, maka inilah isi dan ruh shalat itu.

Sedangkan sabda Rasulullah Shallallahu ALaihi Wasallam,” menunaikan zakat” artinya memberikan kepada yang berhak. Ini memadukan antara hak Allah dan hak manusia. Disebut hak Allah karena Allah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk membayar zakat dan menjadikannya sebagai rukun Islam. Sedangkan hak manusia artinya karena di dalamnya ada pemenuhan kebutuhan orang-orang yang memperlakukan dan kemaslahatan-kemaslahatan tertentu yang diketahui dari orang-orang yang berhak mendapat zakat.

Sedangkan sabda Rasulullah, “Memberikan nasihat kepada sesama muslim.” pernyataan inilah yang selaras dengan judul pada bab ini, yaitu menasehati kepada setiap umat  islam, baik yang dekat maupun yang jauh, kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan.

Bagaimana cara memberikan nasehat kepada setiap muslim, yaitu seperti yang dijelaskan dalam hadits Anas Radhiallahu Anhu, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” Inilah nasehatnya, yaitu hendaklah kamu mencintai saudara-saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri; kamu merasa gembira karena mereka gembira; kamu merasa sedih karena mereka sedih; bergaul dengan mereka dengan cara yang kamu senang jika mereka bergaul dengan cara itu denganmu. Masalah ini sangat luas sekali cakupannya.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak menganggap beriman orang yang tidak mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dalam segala hal. Tentang penolakan iman ini, para ulama menyatakan, maksudnya adalah keimanan yang sempurna. Artinya, tidak sempurna keimanan kamu sehingga kamu mencintai saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri. Maksud penolakan di sini bukan iman secara keseluruhan.

Dijelaskan bahwa Jarir bin Abdullah al Bajali Radhiyallahu Anhu ketika berbai’at (berjanji) di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk senantiasa memberikan nasehat kepada kaum muslimin, dia membeli seekor kuda dari seseorang dengan harga beberapa dirham. Ketika dia telah membelinya dan pergi dengannya, dia mendapatkan bahwa mestinya kudanya ini harganya lebih mahal, lalu dia kembali kepada si penjual seraya berkata kepadanya, “Kudamu ini terlalu murah”, lalu dia memberikan alternatif harga yang pantas untuk kuda tersebut. Lalu dia kembali dan mencoba kudanya lagi. Di tengah jalan dia mendapati bahwa harga kuda ini mestinya lebih mahal, lalu dia memberikan tambahan harga lagi. Begitu juga pada kali ketiga hingga dia memberinya sekitar dua ratus dirham sampai delapan ratus dirham; karena dia berjanji kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk memberikan nasihat kepada setiap muslim. Jika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam membai’at seseorang paa sesuatu, berarti itu tidak hanya berlaku baginya saja melainkan berlaku pada semua umat manusia. Setiap manusia berjanji kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk memberikan nasihat kepada setiap muslim, bahkan untuk mendirikan shalat, membayar zakat, serta memberikan nasihat kepada setiap muslim. Mubaya’ah dapat dimaksudkan untuk jual beli dan dapat juga untuk perjanjian. Berbaiat di sini berarti berjanji seperti yang difirmankan Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at (berjanji) kepadamu sesungguhnya mereka telah berjanji kepada Allah…(Al Fath : 10)

Disebut mubaya’ah karena setiap orang yang berjanji dan yang menyumpah itu saling mengulurkan tangannya, satu sama lain supaya keduanya bisa berjabat tangan seraya berkata, “Saya berjanji kepadamu akan melakukan begini dan begitu.”

Sumber : Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad Al Utsaimin,Penerbit Darul Falah, Hal. 865-867

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 6, 2009 by in Adab dan Akhlak, Hadits and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: