أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Yang Lebih Berhak Mengasuh Anak Ketika Suami Istri Bercerai

Soal :

Sebutkan dalil yang menyebutkan bahwa si ibu lebih berhak untuk mengasuh si anak dari pada ayah si anak!

Jawab :

Dalilnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dari sanad yang hasan dari Abdullah bin Amr Radhiallahu Anhu bahwasanya seorang wanita berkata, “Aku katakana : Ya Rasulullah, sesungguhnya perutku yang menjadi selimut pembungkus anak ini selama ia berada di dalam kandungan, dan dadaku yang menjadi tempat penyedia minuman untuknya, serta pangkuanku yang menjadi tempat hangat baginya. Kemudian ayahnya menceraikanku dan ingin mengambil anak tersebut dariku? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadanya :

“Kamu lebih berhak terhadap bayimu selama kamu belum menikah.”

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila suami istri bercerai, sementara mereka sudah memiliki anak-anak yang masih kecil maka ibu lebih berhak mengasuhnya, selama tidak ada kendala syar’iy untuk mendahulukannya 1 atau kendala dari si anak sendiri yang memilih si ayah.2 Tidak ada perselisihan di kalangan para ulama dalam perkara ini. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya Zaadu al Ma’aad.

Ibnu Abdil Barr berkata, “setahuku tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama salaf (terdahulu) dan ulama khalaf (belakangan), bahwa wanita yang sudah dicerai suaminya lebih behak mengasuh anaknya ketimbang si ayah selama wanita tersebut belum menikah dan selama si anak masih kecil belum mencapai usia mumayyiz, dengan syarat si anak terjaga serta mencukupi kebutuhannya dan si ibu bukan termasuk orang-orang yang fasik.

Soal :

Apakah hak pengasuhan gugur jika si ibu menikah lagi dengan laki-laki lain?

Jawab :

Hadits yang telah disebutkan :

“Kamu lebih berhak terhadap bayimu selama kamu belum menikah.”

Menunjukkan gugurnya hak asuh si ibu setelah ia menikah dan ini merupakan madzhab jumhur ulama. Sampai-sampai Ibnul Mundzir Rahimahullah berkata,”Setahuku seluruh ulama sepakat akan kesimpulan ini.” Kecuali Abu Muhammad bin Hazm yang berpendapat bahwa hak asuh si ibu tidak gugur setelah ia menikah. Ia menolak sisi pendalilan dengan hadits di atas, karena hadits tersebut  adalah hadits riwayat Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berupa shahifah (lembaran). Akan tetapi pendapat Ibnu Hazm ini (dalam hal ini) adalah pendapat yang tidak dianggap, karena banyak ulama hadits yang memakai riwayat Amr sebagai hujjah dan menshahihkan haditsnya, seperti Al Bukhari, Ahmad, Ibnu Al Madini, Al Humaidi, Ishaq dan lain-lain. Sebagaimana yang telah kita singgung di atas bahwa hadits ini derajatnya hasan. Ibnu Hazm juga menguatkan pendapatnya bahwa Anas bin Malik berada di bawah asuhan ibunya yang sudah menikah. Argumen ini juga tidak perlu ditanggapi karena tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan ada kerabat Anas yang menggugat asuhan ibunya setelah ibunya menikah denan Abu Thalhah. Tidak disangsikan lagi bahwa tidak haram bagi seorang wanita yang sudah menikah dengan laki-laki lain untuk mengasuh anaknya jika ia dan mantan suaminya serta kerabat si anak sudah sepakat untuk itu.

Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, “Berargumentasi denan kisah Anas merupakan argumen yang sangat jauh dan lemah. Dalil mereka yang lain bahwa ketika Ummu Salamah menikah dengan rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, nafkah untuk anaknya Salamah terus mengalir dan tetap di bawah asuhan ibunya Ummu Salamah. Tentu tidak mungkin pihak keluarganya menggugat asuhan tersebut, karena mereka lebih suka kalau Salamah tetap berada di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ibnu hazm juga berhujjah denan keputusan yang ditetapkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam terhadap putrid Hamzah, yang mana ia berada di bawah pengasuhan bibinya dari pihak ibu yang sudah menikah. Mengenai hadits ini akan dating pembahasannya dengan soal lain, insya Allah. Jadi kesimpulannya, pendapat yang rajah adalah apabila seorang ibu menikah lagi maka gugurlah hak pengasuhannya terhadap anak dari suami pertama, terutama jika ada gugatan dari pihak suami. Allahu A’lam.

Ensiklopedi Anak, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al Isawi, Penerbit Darus Sunnah

_____

1. Seperti tidak memenuhi syarat-syarat yang seharusnya wajib dilakukan ketika pengasuhan sedang berlangsung sebagaimana yang akan kita sebutkan.

2. Yaitu si anak sudah dapat memilih dan sudah tidak lagi membutukan pengasuhan dari wanita.

One comment on “Yang Lebih Berhak Mengasuh Anak Ketika Suami Istri Bercerai

  1. Ping-balik: Hak Asuh Anak Pasca Perceraian « Al Bayyinah Haqqul Mubiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 7, 2009 by in Fiqih and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: