أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dalam Memahami Nama-nama dan Sifat-Sifat Allah

Yang dimaksud dengan ahlus sunnah wal jamaah adalah orang-orang yang sepakat menjadikan sunnah nabi Shallallahu Alaihi wasallam sebagai sumber hokum dan mengamalkannya secara lahir dan batin, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.

Metode kelompok ahlus sunnah wal jamaah dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah sebagai berikut :

Pertama :

Dalam menetapkan sejumlah nama dan sifat. Mereka menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya sendiri, baik melalui kitab-Nya ataupun lisan Rasul-Nya, tanpa harus merubah (menambah atau mengurangi),mengingkari, menjelaskan tentang bentuk atau caranya, ataupun menyerupakan-Nya dengan sesuatu apapun.

Kedua :

Dalam hal meniadakan sejumlah nama dan sifat. Metode mereka dalam masalah ini adalahdengan meniadakan nama-nama dan sifat-sifat yang telah dijauhkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari-Nya, baik melalui kitab-Nya maupun melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, serta meyakini bahwa lawan dari nama-nama dan sifat-sifat tersebut merupakan nama-nama dan sidat-sifat yang dimiliki Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketiga :

Metode mereka dalam menyikapi nama-nama dan sifat-sifat yang diperselisihkan umat Islam karena tidak ada satu nash pun yang meniadakan atau menetapkannya, seperti sifat memiliki jism, menempati ruang, berada pada arah tertentu, dan lain sebagainya, adalah berhenti pada lafadznya saja yaitu dengan tidak menetapkan suatu hokum atau tidak pula meniadakannya. Adapun mengenai maknanya, mereka membuat perincian sebagai berikut : Jika yang dimaksud oleh lafadz tersebut adalah sesuatu yang batil yang mustahil dimiliki oleh Alah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka menolaknya, namun jika maksudnya adalah sesuatu yang benar yang tidak bertentangan dengan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka menerimanya.

Metode ini metode yang wajib digunakan oleh umat Islam dan merupakan perkataan yang menjadi penengah antara pendapat ahlut Ta’thil (kelompok yang meniadakan sifat-sifat Allah) dengan ahlut Tamtsil (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

Kewajiban untuk menggunakan metode tersebut didasarkan pada dalil ‘aqli dan dalil sam’I (wahyu).

Dalil aqli yang yang dimaksud di sini adalah bahwa penjelasan secara terperinci mengenai hal-hal yang wajib, yang ja’ iz (boleh) dan yang mustahil bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah diketahui kecuali melalui wahyu. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim mengikuti wahyu yang berkaitan dengan masalah tersebut yaitu dengan menetapkan apa yang telah ditetapkannya, meniadakan apa yang telah ditiadakannya, dan mendiamkan apa yang didiamkannya.

Sedangkan di antara dalil sam’ie adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husnaitu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’raaf : 180), dan firman-Nya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Asy Syura :11), dan juga firman-Nya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tenangnya.” (QS. Al Israa : 36).

Ayat pertama menunjukkan kewajiban bagi seorang muslim untuk menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tidak merubah ataupun mengingkarinya.

Ayat kedua menunjukkan kewajiban baginya untuk tidak menyerupakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sesuatu apapun.

Sedangkan ayat ketiga menunjukkan kewajiban untuk tidak menanyakan bagaimana caranya dan kewajiban untuk bersikap tawaqquf (berhenti) pada lafadznya saja terhadap hal-hal yang tidak ditetapkan ataupun ditiadakan oelh satu nash pun.

Perlu diketahui bahwa sifat-sifat yang telah ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk diri-Nya sendiri merupakan sifat-sifat yang menunjukkan kesempurnaan, dimana dengannya Alah Subhanahu wa Ta’ala disanjung dan dipuji, sea tidak ada sedikit pun kekurangan di dalamnya. Jadi, sifat yang menunjukkan kesempurnaan itu merupakan sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sedangkan sifat-sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari diri-Nya sendiri merupakan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dan bertentangan dengan kesempurnaan-Nya. Jadi, sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan itu merupakan sifat-sifat yang mustahil bagi Allah. Yang dimaksud dengan meniadakan sifat-sifat yang menunjukkan kekuranan Dzat Allah dalah menjauhkan sifat-sifat tersebut dari Dzat Allah disertai dengan upaya menetapkan lawan dari sifat-sifat tersebut seara sempurna.1 Hal itu disebabkan karena meniadakan sifat yang menunjukkan kekurangan dari diri seseorang tidak dapat menunjukkan kesempurnaan orang tersebut, kecuali jika mencakup satu sifat yang menyebabkan orang tersebut dipuji.

Jika kita sudah memahami hal ini dengan jelas, maka kita dapat mengatakan bahwa di antara sifat-sifat yang ditiadakan (dinegasikan) oleh Allah subhanahu Wa Ta’ala dari Dzat-Nya sendiri adalah perbuatan zhalim. Jadi, maksunya adalah meniadakan perbuatan zhalim dari Dzat Allah dengan menetapkan kesempurnaan dari sifat lawannya, yaitu sifat adil. Kemudian Alah Subhanahu Wa Ta’ala juga meniadakan sifat lemah dan merasa capai, dan yang dimaksud di sini adalah meniadakan sifat lemah dari Dzat Allah disertai dengan upaya untuk menetapkan kesempurnaan sifat yang menjadi lawan dari sifat lemah tersebut, yaitu sifat “kuat”, demikian pula pada sifat-sifat lainnya yang ditiadakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari Dzat-Nya.

Wallahu A’lam

Dinukil dari kitab “Rasa-il fil Aqidah”, edisi Indonesia “Sifat-sifat Allah dalam Pandangan Ibnu Taimiyah”, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Diterbitkan Pustaka Azzam.

______________

1. Sebagai contoh, jika meniadakan sifat “bodoh” dari Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena sifat tersebut merupakan sifat yang menunjukkan adanya kekurangan dari Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kita tidak cukup untuk menetapkan lawan dari sifat yang ditiadakan itu yaitu sifat “mengetahui”, tetapi kita harus menetapkan kesempurnaan sifat yang merupakan lawan dari sifat yang ditiadakan itu. Jadi kita harus menetapkan sifat “mengetahui denan sebenar-benarnya” untuk Dzat Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 1, 2009 by in Aqidah and tagged .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 254,389 hits
%d blogger menyukai ini: