أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Makmum Mengambil Tempat Persis Di Sebelah Kiri Imam

Dalam sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم telah dijelaskan tentang posisi imam dan makmum serta hokum-hukum yang berkaitan dengan shaf dalam shalat jamaah. Imam berdiri tepat di tengah bagian depan shaf jika ia mengimami lebih dari satu makmum. Makmum yang seorang diri berdiri tepat di samping kanan imam, jika peserta shalat jamaah hanya dua orang saja, yakni imam dan makmum.

Jika jamaah terdiri dari tiga orang, maka salah seorang maju ke depan sebagai imam dan yang lain berdiri di belakangnya. Anak-anak berdiri satu shaf dengan orang dewasa. Jika anak dan orang dewasa jumlahnya banyak, maka shaf orang dewasa di depan kemudian shaf anak-anak, kemudian shaf wanita di belakang shaf anak-anak. Jika peserta shalat jamaahnya terdiri dari orang dewasa laki-laki dan perempuan, maka shaf laki-laki di belakang imam dan shaf perempuan di belakang shaf laki-laki. Demikianlah tata cara pengaturan shaf menurut As Sunnah.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah al Anshari رضى الله عنه dalam sebuah hadits yang panjang :
“…rasulullah   صلى الله عليه وسلمberdiri untuk menunaikan shalat, lalu aku pun dating dan berdiri di samping kiri beliau. Rasulullah meraih tanganku lalu memindahkanku ke sebelah kanan beliau. Kemudian datang pula Jabbar bin Shakr رضى الله عنه ia berwudhu lalu mengikuti shalat kami, ia berdiri di samping kiri Rasulullah. Beliaupun meraih tangan kami berdua lalu memindahkan kami ke belakang beliau…”1
Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضى الله عنه ia berkata : “Saya dan seorang anak yatim shalat di belakang Rasulullah صلى الله عليه وسلم di rumah kami sedang Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.”2

Al Baghawi berkata : “Dalam hadits di atas terdapat dalilpenempatan shaf kaum lelaki di depan kaum wanita, juga dalil bahwa anak kecil bersgaf bersama kaum lelaki. Sebab anak kecil boleh diangkat sebagai imam bagi kaum lelaki. Jika kaum lelaki dan anak-anak jumlahnya banyak maka shaf kaum lelaki di depan kemudian menyusul di belakangnya shaf anak-anak kemudian di belakangnya shaf kaum wanita.”3

Al Mirdhawi berkata dalam kitab al Inshaaf : ” Jika peserta shalat jamaah terdiri dari beberapa jenis kelamin dan tingkat usia, maka posisi shaf kaum lelaki berada di depan, kemudian shaf anak-anak, disusul shaf para banci dan terakhir shaf kaum wanita. Cara seperti di atas adalah cara yang dianjurkan. Itulah pendapat yang dipilihdan merupakan pendapat mayoritas sehabat kami, juga madzhab yang dipilih oleh Ibnu Adruus dalam kitab Tadzkirahnya. Pendapat ini pula yang dipilih dalam kitab Asy Syarh dan al Wajiz yang juga merupakan pendapat Ibnu Tamim. Dan juga dalam kitab al Muntakhab dan salah satu pendapat dalam madzhab Ahmad yang disebutkan dalam furu’ dan nazham.4

Kemudian setelah itu, shalat merupakan ibadah menghadap Allah Rabbul Alamin سبحانه و تعالى, maka imam dan makmum harus memiliki etika ubudiyah, ketenangan, kesopanan dan tiap-tiap orang berdiri di tempat yang patut baginya. Hendaklah para imam mengetahui hal ini dan bertakwa kepada Allah سبحانه و تعالى dalam mengerjakan shalat agar Allah menghimpun hati mereka di atas kebenaran dan hidayah.

Akan tetapi, bagaimana hukumnya bila makum salah mengambil tempat dalam shaf, misalnya ia bediri di sebelah kiri yang seharusnya ia berdiri di sebelah kanan imam? Haruskah ia mengulangi shalatnya?

Dalam posisi makmum terhadap imam ada beberapa bentuk:

Bentuk pertama: makmum berdiri di sebelah kiri imam sementara di sebelah kanan atau di belakang imam ada makmum lainnya.

Bentuk kedua; makmum berdiri di sebelah kiri imam sementara beberapa orang bershaf di belakang mereka .

Bentuk ketiga: makmum berdiri di sebelah kiri imam sementara tidak ada seorang pun di kanan atau di belakang imam.

Dalam bentuk pertama dan kedua shalatnya tidak sah. Ada pun bentuk ketiga, para ahli fiqih berbeda pendapat:

Pendapat pertama: shalatnya sah, ia tidak perlu mengulang shalatnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi’iyah. Konon ini juga merupakan pendapat ulama Hambali menurut sebuah riwayat.5

Pendapat kedua: shalatnya tidak sah. Ia harus mengulangi shalatnya. Ini adalah pendapat ulama Hambali.6

Dalil-dalilnya

Para ulama yang memilih pendapat pertama berdalil dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas رضى الله عنه, ia berkata: “Aku bermalam di rumah bibiku, maimunah رضي الله عنها. Rasulullah bangun pada malam hari lalu mengerjakan shalat. Aku pun bangun dan bersama beliau, aku di sebelah kiri beliau. Beliau meraih tanganku lalu memindahkanku ke sebelah kanan.”

Bentuk pengambilan dalil:

Dalam riwayat di atas disebutkan di awal shalat Abdullah bin Abbas رضى الله عنه berdiri di sebelah kiri Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ketika itu beliau bertindak sebagai imam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم membolehkannya meneruskan shalat bersama beliau dan tidak memerintahkannya untuk mengulangi takbiratul ihram. Itu menunjukkan sahnya shalat makmum yang berdiri di sebelah kiri imam.

Mereka juga berdalil dengan hadits Jabir dan Jabar di atas, dalam hadits tersebut Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak menyuruhnya mengulangi takbiratul ihram. Itu menunjukkan sahnya shalat makmum yang berdiri di sebelah kiri imam dan tidak perlu mengulangi shalat. Sebab sah tidaknya shalat berkaitan dengan kesempurnaan rukun dan syaratnya. Rukun dan syarat tersebut telah terpenuhi oleh makmum yang berdiri di sebelah kiri imam. Maka shalatnya dianggap sah dan tidak perlu ia ulangi lagi, sebab makmum juga diperkenankan berdiri di sebelah kiri imam bila di sebelah kanannyaada makmum yang lain. Berarti boleh juga ditempati meski sebelah kanan imam tidak ada makum lainnya. Sama halnya seperti sebelah kanan imam. Jika ternyata sebelah kiri imam boleh diisi berarti shalat makmum di sisi sebelah kiri itu dianggap sah dan tidak perlu diulangi.

Para ulama yang memilih pendapat kedua berdalil dengan sebuah hadits dari Abdullah bin Abbas رضى الله عنه  ia berkata: “Aku bermalam di rumah Maimunah binti al Harits رضي الله عنها. Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bangun untuk mengerjakan shalat malam. Aku pun bangun dan ikut shalat bersama beliau. Aku berdiri di sebelah kiri beliau. Lalu beliau meraih kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanan.”

Alas an itu diperkuat juga dengan hadits Jabir di atas.

Bentuk pengambilan dalil dari kedua hadits di atas tersebut adlah Rasulullah صلى الله عليه وسلم menolak Abdullah bin Abbas, Jabir dan Jabbar رضي الله عنهم ketika mereka berdiri di sebelah kiri beliau. Itu menunjukkan bahwa makmum tidak diperkenankan berdiri di sebelah kiri imam. Berdasarkan hal tersebut maka setiap makum yang berdiri di sebelah kiri tersebut tidak sah shalatnya. Sebab ia keliru mengambil tempat. Sekiranya hal itu boleh dilakukan tentunya Rasulullah صلى الله عليه وسلم membiarkan mereka.

Pendapat Terpilih

Pendapat terpilih adalah pendapat pertama, yaitu shalat di sebelah kiri iamam adalah sah karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak memerintahkan Abdullah bin Abbas, Jabir, dan Jabbar رضي الله عنهم supaya mengulang takbiratul ihram mereka. Ketika mereka berdiri di sebelah kiri Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Bentuk pengambilan dalil kelompok pertama ini lebih terarah.

Syaikh Abdurrahman bin Sa’di Rahimahullah dalam mendukung pendapat pertama di atas mengatakan:

“Menurut pendapat yang benar, makmum berdiri di sebelah kanan imam merupakan sunnah muakkad, bukanlah wajib. Sekiranya wajib maka yang tidak melakukannya batal shalatnya. Berarti shalat di sebelah kiri imam, shalatnya sah bilamana sebelah kanan imam juga kosong. Sebab larangan tersebut berkaitan dengan shalat sendiri. Adapun perbuatan Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang memindahkan Abdullah bin Abbas رضى الله عنه ke sebelah kanan, maka hal itu menunjukkan afdhaliyah (keutamaan). Bukan menunjukkan hal itu wajib hukumnya. Sebab beliau juga tidak melarangnya. Suatu perbuatan yang dilakukan atau dibiarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم
menunjukkan bahwa perbuatan ituadalah sunnat. Sebagaimana halnya juga beliau memindahkan Jabir dan jabbar    رضي الله عنهماke belakang ketika mereka berdua berdiri di kanan dan kiri beliau. Kisah itu hampir sama dengan isah Abdullah bin Abbas رضى الله عنه yang juga dipindahkan oelh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Hal itu hanyalah menunjukkan afdhaliyyah semata.7

Saya (Dr. Shalih bin Ghanim As Sadlan) katakan: itulah pendapat yang paling sesuai dan merangkum seluruh dalil-dalil yang ada, yang layak diangkat sebagai pendapat yang benar dalam masalah ini.

Sebagaimana halnya seorang imam – bila makmumnya hanya seorang – harus memindahkan makmu yang berdiri di sebelah kirinya ke sebelah kanan. Itu untuk mengikuti petunjuk Rasulullah صلى الله عليه وسلمyang memindahkan Abdullah bin Abbas رضى الله عنه.

[Dinukil dari “Shalaatul Jama’ah Hukmuha wa Ahkamuha wat Tanbih ‘Alaa Maa Yaqa’u Fiiha min Bida’ wa akhtha’” edisi Indonesia “Bimbingan Lengkap Shalat Jamaah Menurut Sunnah Nabi”. Penerbit at Tibyan]
_____________
1. Shahih Muslim hadits nomor 3010.
2. Shahih Muslim I/hadits nomor 660.
3. Syarah sunnah karangan Al Baghawi III/829.
4. II/283.
5. Silahkan lihat Badaa’ius Shanaa-I’ I/159, al Mudawwanah Al Kubra I/86, Al Majmu’ IV/188 dan al Inshaaf II/282.
6. Al Mughni II/212.
7. Al Mukharaat al Jaliyyah minal masaa-il fiqhiyyah halaman 61-62.

One comment on “Makmum Mengambil Tempat Persis Di Sebelah Kiri Imam

  1. lendi
    November 8, 2011

    assalamualaikum mau nanya ni , dari pengalaman saya karena saya masih termasuk yang belum mengerti masalah agama . pernah saya shalat berjamaah hanya berdua ,ketika itu saya jadi makmum , saya menggambil posisi di samping kanan imam sejajar. dan setelah tidak berapa lama datang satu orang masbuk ,dimana posisi makmum yg masbuk tadi apakah di sebelah kiri imam ,atau di belakang imam ,dan apakah saya harus mundur,sejajar dg makmum masbuk tadi . dan apakah posisiku tadi sewktu hanya berdua tadi benar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 28, 2009 by in Fiqih and tagged , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: