أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Hadits Shahih Lidzatihi

Definisi Hadits Shahih Li Dzatihi

الصحيح لذاته هو الذي اتصل سنده بنقل العدل الضابط عن مثله إلى منتهاه ولايكون شاذا ولامعللا

Hadits shahih Lidzatihi yaitu hadits yang bersambung sanadnya dengan penukilan perawi yang ‘adl dan dhabith dari yang semisalnya sampai akhir sanad tersebut serta hadits tersebut bukan hadits yang syadz dan bukan hadits yang mu’allal (cacat).

Dari definisi ini dapat diketahui bahwa hadits shahih memiliki empat syarat :

________

Pertama :
Ittshaalus-Sanad (bersambung sanad hadits tersebut) yaitu mendengarnya setiaop perawi dari perawi sebelumnya (syaikhnya).

_________

Kedua:
Perawi-perawi hadits tersebut harus perawi-perawi yang bersifat ‘adl dan dhabth.

Definisi Adl

العدل هو كل مسلم بالغ عاقل سليم من أسباب الفسق وخوارم المروءة

Adl adalah setiap muslim yang baligh, berakal serta selamat dari sebab-sebab kefasikan dan hal-hal yang dapat menjatuhkan harga diri.

Keluar dari pengertian ini, majhul a’in, majhul hal, dan mubham.

Pengertian majhul Hal, ‘Ain, dan Mubham

Majhul ‘Ain

Majhul ‘Ain yaitu seorang perawi dimana tidak ada perawi lain yang meriwayatkan darinya melainkan hanya seorang perawi saja serta tidak ada satu ulama mu’tabar pun yang memberikan ta’dil dan jarh kepadanya.

Majhul Hal

Majhul Hal yaitu seorang perawi yang tidak ada perawi lain yang meriwayatkan darinya melainkan hanya dua orang atau lebih dan tidak ada seorang pun dari ulama mu’tabar yang memberikan ta’dil dan jarh kepadanya (disyaratkan pula dua orang yang meriwayatkan darinya tadi harus perawi yang memiliki sifat ‘adl sebagaimana hal ini disebutkan oleh Az Zaila’iy dalam kitabnya Nashbur Rayah).

Mubham

Mubham yaitu perawi yang tidak disebutkan namanya, seperti “dari seseorang…”

Faidah

Al mastur adalah majhul hal (sebagaimana disebutkan oleh al Hafidz dalam an Nuzhah)

Yang dimaksud dengan mu’tabar dalam definisi di atas adalah imam yang mu’tadil (adil) dalam memberikan al jarh wa ta’dil.

Sehingga keluar dari perkataan mu’tabar terebut ulama yang mutasyaddid (kelewat keras) dan mutasahil (bermudah-mudah) dalam memberikan jarh (kritikan) dan ta’dil (sifat ‘adalah).

Contoh mu’tadil : Imam Ahmad bin Hambal
Contoh Mutasyaddid : Abu Hatim Ar Razy
Contoh Mutasahil : Ibnu Hibban

Keluar dari perkataan “muslim’ pada definisi ‘adl di atas: semua orang kafir.
Keluar dari perkataan “baligh’ :semua yang belum mumayyiz atau belum baligh (hal yang diperselisihkan).
Keluar dengan perkataan “berakal” ialah semua orang tidak waras (gila).
Keluar dengan perkataan “selamat dari sebab-sebab kefasikan”: semua orang yang tidak selamat dari sebab-sebab kefasikan.

Fasik ada dua :
Pertama : fasik yang disebabkan syubhat seperti, khawarij, syiah, murji’ah dan lain-lainnya. Dalam periwayatan mereka terdapat perincian diterima atau tidaknya.

Kedua : Fasik disebabkan syahwat, seperti minum khamr, zina, mencuri dan sebagainya.

Pendapat ulama tentang periwayatan ahlul bid’ah :
a. Ada di antara mereka yng berpendapat ditolak hadits da’inya dan diterima hadits yang diriwayatkan selain dari da’inya.
b. Ada juga yang berpendapat : ditolak hadits yng diriwayatkan perawi yang kuat (kental) kebid’ahannya, baik perawi tersebut da’I atau selainnya.
c. Di antara mereka ada yang menolak periwayatan mereka secara mutlak.
d. Di antara mereka ada yang menerima periwayatnnya secara mutlak.

Keluar dari perkataan “khawarimil muru’ah : orang-orang yang tidak selamat darinya (yakni dari hal-hal yang bias menjatuhkan harga diri).

Muru’ah yaitu menjauhi hal-hal yang tercela menurut adat istiadat. Hal ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan zaman dan tempat.

Tanbih
Semua shahabat bersifat ‘adl.

Adh dhabt dibagi menjadi dua :
a. Dhabthu shadr, yaitu perawi hafal benar dengan apa yang dia dengar dan memungkinkan baginya untuk menghadirkannya kapan saja dikehendaki.
b. Dhabthul kitab, yaitu seorang perawi benar-benar menjaga kitab yang ia tulis sejak ia mendengar dan memperbaikinya (menshahihkannya) sampai ia menyampaikan hadits yang ia tulis tersebut serta tidak menyerahkannya kepada orang-orang yang tidak menjaganya dan dimungkinkan ia akan merubah atau mengganti hadits yang ada di dalamnya.

Keluar dari perkataan “ad- dhabth” pada definisi hadits shahih di atas : orang-orang yang syadidul takhlith (kazau hafalannay), mughaffal (mudah lalai), dhaif (lemah hafalannya), shahibul auham (orang-orang yang sering wahm atau keliru), atau orang-orang yang dikatakan shaduq atau semisalnya di dalam lafadz-laadz untuk rijal/rawi-rawi hadits hasan.

_____
Ketiga : Tidak terdapat syadz (syudzudz)

Definisi syadz

Syadz (syudzudz) yaitu periwayatan perawi maqbul (diterima) yang menyelisihi periwayatan perawi yang lebih baik darinya, baik dari segi jumlah atau ketsiqahannya.

Contoh syadz dalam matan dan isnad

Contoh periwayatan perawi yang dhabith yang menyelisihi perawi yang lebih dhabith darinya di dalam matan :
Hdits yang dikeluarkan oleh abu Dawud dalam as sunan no. 2337 dari jalan Hamam bin yahya, ia berkata : telah menyampaikan hadits kepada kami Qatadah, dari al hasan, dari samurah dari Rasulullah Shaollallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda : “setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh (dari kelahirannya) dan dipotog rambut kepalanya serta (يدمى)diteteskan darah (yakni darah sembelihan tadi ke atas kepala si bayi).”

Abu daud berkata: “hamam dalam periwayatan hadits ini telah diselisihi oelh perwi-perawi lain. Lafadz periwayatan tersebut adalah wahm (kekeliruan) dari Hamam. Karena para perawi yang lain mengatakan [يُسمى]”dan diberi nama”. Sedangkan Hamam mengatakan [يُدمى] “dan kepalanya dioles darah”.

Aku (abu l Harits) katakana : Hamam, meskipun ia sahabat Qatadah, namun ia bukan dari thabaqat pertama dari sahabat Qatadah. Ia seorang perawi yang sering wahm (keliru) dalam meriwayatkan hadits dari Qotadah, meskipun ia tsiqah. (dalam periwayatan ini), dia telah menyelisihi perawi yang lebih banyak jumlahnya dan lebih kuat dhabth (hafalan)-nya dari orang-orang yang meriwayatkan hadits ini dengan benar dari Qatadah. Mereka semua mengatakan “dan diberi nama”. Di antara perawi tersebut ialah Sa’id bin Abi ‘Arubah, dia orang yang paling atsbat (terpercaya) dari shahabat Qatadah dan Aban bin Yazid al athar. Sehingga dengan demikian periwayatan Hamam dengan lafadz tersebut adalah periwayatan yang syadz, dan yang benar adalah periwatan jama’ah.

Contoh periwayatan peawi dhabith yang menyelisihi perawi yang lebih dhabith darinya dalam sanad.

Hadits yang dikeluarkan oleh Imam ahmad (5/382,402), Ibnu Majah (1/52), Muslim (1/228), Abu Awanah (1/198), Abu dawud (23), Tirmidzi (13), nasa’I (1/19,25) dan Ibnu Majah (305) dari berbagai jalan dari Al A’masy dari Abi Wail dari Hudzaifah bin al Yaman Radhiallahu Anhuma.
Bahwa Nabi Shaollallahu Alaihi wasallam pernah mendatangi tempat pembuangan sampah kemudian beliau kencing sambil berdiri. Aku datangkan kepada beliau air wudlu kemudian aku pergi mundur/menjauh dari beliau. Namun ternyata beliau berwudlu dan mengusap khufnya.
Aku katakana : “Hadits ini telah diriwayatkan oleh jamaah dengan sanad seperti di atas, di antara merka adlah Ibnu Uyainah, Waki’, Syu’bah, Abu Awanah, Isa bin Yunus, Abu Mu’awiyah, Yahya bin isa Ar Ramly dan Jarir bin Hazim.

Dan Abu Bakar bin Iyasy telah menyelisihi mereka semua (dia adlah perawi yang tsiqah namun memiliki beberapa kesalahan). Dia meriwayatkan hadits di atas dari al A’masy, dari Abi Wail, dari Mughirah bin Syu’bah dengan lafadz tersebut.

Berkata al hafidz Abu Zur’ah ar Razy: “Telah salah dalam periwayatan hadits ini Abu Bakr bin Iyasy. Periwayatan yang shahih hadits tersebut ialah dari al A’masy, dari Abu Wa’il dari Hudzaifah Radhialllahu Anhu dengan lafadz tersebut di atas.

_____
Keempat : Tidak ada ‘illah qadihah khafiyah (cacat tersembunyi yang mencoreng keshahihan sebuah hadits) di dalmnya.

Definisi ‘Illah Qadihah Khafiyah
Yaitu sebab yang mencoreng keshahihan suatu hadits yang dzahirnya shahih dan terlepas dari illah tersebut tidak Nampak kecuali bagi orang-orang yang mumpuni dalam ilmu yang mulia ini.
Keluar dari perkataan qadihah pada definisi di atas “ilah” yang tidak mencoreng keshahihan suatu hadits (ghairul qadihah) yaitu jika didapatkan suatu “illah qadihah pada suatu hadits kemudian dihilangkan, maka hadits kembali selamat dari ‘illah, seperti tergantinya perawi yang tsiqah dengan tsiqah. Demikian juga’an’anah mudallis yang membahayakan an’anahnya kemudian dating dari jalan yang lain dan berhenti pada mudallis tersebut serta di dalamnya terdapat pernyataan yang jelas bahwa perawi mudallis tersebut benar-benar mendengar haits tersebut dari syaikhnya yang ia meriwayatkan hadits tadi darinya.

Keluar dari perkataan “khafiyah”: ‘illah yang dzahir (Nampak dengan jelas). ‘illah yang dzahir adalah semua jenis inqutha’ kecuali mursal khofi, tidak adanya ‘adalah dan dhabith.

Tanbih

‘Illah qadihah dapat diketahui dengan cara mengumpulkan semua jalan hadits tersebut.

Dinukil dari Syarhu Al Mandhumah al baiquniyah, Edidi Indonesia Mengenal kaidah Dasar Ilmu Hadits, Syaikh Yahya bin Ali Al Hajury. penerbit maktabah al Ghuroba’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 21, 2009 by in Hadits and tagged , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 252,192 hits
%d blogger menyukai ini: