أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Petugas Keamanan yang Tidak Sholat Jumat

Banyak sekali petugas pemerintahan dan pengawal raja tertinggal melakukan shalat jumat karena harus berdiri di pintu masjid sambil membawa senjata untuk melakukan tugasnya.

Termasuk kemungkaran yang paling buruk adalah petugas keamanan yangberdiri membawa senjata pada waktu penguasa ataupun raja sedang melakukan shalat jumat. Mereka berdiri untuk menjaga keselamatan para penguasa tersebut dan tidak mengerjakan shalat jumat bersama-sama dengan para jamaah . seakan-akan mereka hanya diciptakan untuk menjaga salah satu dari sekian banyak hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak diperintahkan untuk taat kepada Tuhan yang Maha Mulia. Tidakkah mereka mendengarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :” Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk pun dalam bermaksiat kepada Allah. Ketaatan (kepada makhluk) hanya pada hal yang ma’ruf.” (Diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari di dalam Ash Shahih (XIII/122) nomor 7145-beserta al Fath) dan Muslim di dalam ash Shahih nomor 1840, serta kitab-kitab hadts yang lain).

Hendaklah para penguasa merasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas pertanggungjawaban kepmimpinannya kelak di Hari Kiamat. Hendaklah mereka juga memperlakukan rakyatnya sebagaimana layaknya sesame hamba Allah subhanahu Wa Ta’ala. Hendaklah para penguasa mengingat aka hari disetorkan segala amal perbuatan kepada Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Pemaksa.pada hari ada seseorang yang menyeru:”Siapakah yang mempunyai kekuatan tunggal pada hari ini?” Kemudian akan dijawab dengan perkataan :”Yang memiliki kekuasaan tunggal pada hari ini hanyala Allah Yang Maha Satu dan Maha Pemaksa.”

Sesungguhnya orang yang pertama kali membuat bid’ah semacam itu dalah para penguasa, sekalipun di dalam Negara-negara Islam. Akan tetapi Alhamdulillah, ada para petugas keamanan yang ada di beberapa Negara Islam lainnya tidak mengerjakan bid’ah yang paling buruk ini. Karena sesungguhnya masjid itu adalah rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka ereka pun shalat bersama –sama dengan para jamaah shalat lainnya, menyembah dan mengabdikan diri mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sesungguhnya perbuatan inilah yang seyogyanya dijadikan contoh bagi siapa saja. (a; Diin al Khaalish(IV/313)).

Qoulul Mubin fii Akhtho-il Musholliin, Edisi Indonesia “Koreksi Total Ritual Sholat, Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman, Penerbit Pustaka Azzam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 20, 2009 by in Fiqih and tagged , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: