أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Pahala Shalat Berjama’ah yang Dilakukan bukan di dalam Masjid

 

Mayoritas orang-orang yang bandel mengira bahwa shalat berjamaah di tempat mereka mengobrol tentang urusan-urusan duniawi bisa menggugurkan kewajiban mereka untuk shalat di dalam masjid. Mereka mengira shalat di tempat itu juga akan mendapatkan pahala shalat jamaah seperti ketika melakukannya di dalam masjid. Padahal tempat obrolan mereka itu hanya berjarak beberapa meter saja dari masjid.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata :”telah disebutkan riwayat dari sebagian sahabat bahwa pelipatgandaan pahala shalat berjamaah sebanyak dua puluh lima kali hanya dikhususkan bagi yang mengerjakannya di dalam masjid.”

Sa’id ibn Manshur meriwayatkan dengan sanad yang berkualitas hasan, dari Aus al Mu’afiri, bahwa dia telah berkata kepada Abdillah ibn ‘Amr ibn al ‘Ash :”bagaimana menurut pendapatmu tentang orang yang mengambil air wudhu. Lantas ia menyempurnakan wudhunya. Kemudian dia shalat di dalam rumahnya?” dia menjawab :”itu sesuatu yang baik dan terpuji.” Aus kembali bertanya :”Bagaimana jika dia mengerjakan shalat di dalam masjid kampungnya?” Abdullah ibn Amr menjawab:”(dia mendapatkan) dua puluh lima (kali pahala) shalat.” Dia kembali bertanya :” jika dia melangkah ke masjid jami’ untuk shalat berjamaah, lantas dia memang shalat di dalam masjid itu?” Dia menjawab :” (Dia juga mendapatkan) dua puluh lima.” (Fathul Baari (II/135)).

Aku berkata : “Inilah mazhab yang dianut oleh al Imam al Bukhari rahimahullah ta’ala. Yang saya maksud adalah bahwa beberapa hadits yang menerangkan tentang keutamaan shalat berjamaah itu hanya khusus bagimereka yang melakukannya di dalam masjid, bukan orang yang mengerjakannyadi dalam rumah sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam al Fath al Baari (II/131), Irsyad as Saari (II/26) dan Laami’ al Daraari (III/121).

Pendapat ini juga yang dipilih oleh para ulama fikih. Ibn Najim berkata : “Barang siapa yang mengerjakan shalat jamaah beserta keluarganya di dalam rumah tanpa udzur, maka dia tidak mendapatkan pahala shalat berjamaah.” (al Asybah wa al Nadzaair halaman 196).

Hendaklah kamu tahu bahwa yang dimaksud dengan shalat jamaah di atas syari’ (Allah dan RasulNya) adalah yang dilakukan di dalam masjid bukan di dalam rumah. Sesungguhnya para sahabat nabi ridhwanallahu anhum jika ingin sekali mendapatkan pahala shalat jamaah, mereka tidak akan shalat berjamaah di dalam rumah. Namun mereka pergi menuju masjid. Jika mereka telah tertinggal shalat jamaah di masjid, baru mereka melaksanakannya di dalam rumah. Jadi shalat jamaah para sahabat nabi itu selalu dikerjakan di dalam masjid. Jika di dalam rumah, mereka hanya menergjakan shalat munfarid (sendiri). Namun tradisi yang berlaku di masyarakat kita dewasa ini malah sebaliknya. Banyak sekali orang yang memilih melakukan shalat jamaah di dalam rumah mereka. (Faidh al Baari II/72 dan 193).

Rasululllah shallallahu alaihi wasallam, bersabda :”Shalat seorang lelaki yang dikerjakan secara berjamaah itu dilipatgandakan pahalanya atas shalat yang dikerjakannya di dalam rumahnya dan di dalam pasarnya sebanyak dua puluh lima kali. Hal itu jika dia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, setelah itu pergi menuju ke masjid dan kepergiannya itu hanya untuk niat shalat berjamaah. Dia tidak melangkahkan satu kaki pun kecuali akan diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya dengan selangkah kaki terebut satu kesalahan. Jika dia mengerjakan shalat, maka malaikat akan terus mengucapkan shalawat (memintakan ampunan) kepadanya, selama dia masih berada di ruangan shalat tersebut. (berikut ini bacaan shalawat yang dibaca oleh para malaikat): “Allahumma shalli alaihi, Allahumma irhamhu (artinya : ya Allah limpahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah, berikan kasih sayang kepadanya). Jika salah seorang Dario kalian itu masih selalu di dalam shalat. (diriwayatkan oleh al Bukhai di dalam al Shahih (II/131) nomor 647).

Sedangkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :” …sampai dia keluar dari masjid,” merupakan syarat shalat jamaah yang tidak dapat dipungkiri lagi. Tidak boleh mengenyampingkan pengertian hadits ini begitu saja. Dengan demikian kesimpulannya adalah pelipatgandaan pahala hanya terjadi bagi orang yang datang ke dalam masjid, bukan untuk orang yang mengerjakan shalat jamaah di dalam rumah.

Al Kashmiri berkata : “jika mau, tentu aku sudah nyatakan : bahwa shalat di dalam rumah lebih diutamakan dari shalat di masjid, karena keduanya sama-sama penuaian terhadap kewajiban shalat, yaitu dikerjakannya yang lewat dari berjamaah yang dikerjakan di dalam rumah. Pendapat ini jauh dari yang sebenarnya, karena pendapat yang memenuhi selera orang saja. Jadi, sesungguhnya tidak ada landasan syar’i dalam pelaksanaan jamaah di rumah, karena adanya dalil-dalil yang menetapkan tersebut.’

Ibnul Qayyim rahimahullah ta’ala berkata :”barangsiapa yang memahami benar sunnah nabi, maka akan tampak jelas baginya bahwa melakukan shalat jamaah di dalam masjid itu hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi masing-masing individu). Kecuali jika dia berhalangan hadir karena suatu udzur, baru dia boleh meninggalkan shalat jumat dan shalat jamaah. Karena tidak datang ke masjid tanpa udzur sama degan meninggalkan shalat jamaah tanpa udzur. Ungkapan ini sesuai dengan beberapa hadits dan atsar para sahabat.”

Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat dan kabar kewafatan beliau sampai terdengar oleh penduduk Mekkah, maka Suhail ibn Amr langsung berkhutbah di hadapan mereka. Sedangkan pada waktu itu ‘Itab ibn Usaid menjadi amilnya di Mekkah. Namun ‘Itab kelihatannya takut sehingga bersembunyi dari penduduk Mekkah. Lantas Suhail memaksanya keluar dan ternyata penduduk Mekkah tetap memeluk agama Islam. Setelah itu ‘Itab berkhutbah di hadapan mereka. Dia berkata : “Wahai penduduk Mekah, demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang sampai terdengar di telingaku tidak melakukan shalat jamaah di dalam masjid kecuali akan aku penggal lehernya.” Lantas para sahabat nabi bersyukur atas hal itu. Karena itulah siapa saja yang memeluk agama Allah, tidak boleh meninggalkan shalat jamaah di masjid kecuali jika memang sedang udzur. Wallahu A’lam (al Shallah wa Hukm Taarikihaa halaman 137).

Al Qoulul Mubin fii Akhtho-il Mushallin, edisi Indonesia “Koreksi Total Ritual Shalat”, hal.264-266. Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman. Penerbit Pustaka Azzam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 15, 2009 by in Fiqih and tagged , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: