أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Tatswib

Sebuah coretan, semoga bermanfaat…

 

Adzan disyari’atkan untuk sebagai tanda masuknya waktu sholat sehingga dikumandangkan setelah masuknya waktu sholat. Sholat subuh dikecualikan dari sholat-sholat yang lain karena seperti telah kita ketahui bersama bahwa adzan subuh dilaksanakan dua kali yaitu sebelum masuk waktu subuh dan sekali lagi setelah masuk waktu. Hal lain yang disunnahkan khusus untuk adzan subuh adalah ucapan tatswib ( الصلاة خير من النوم ). Dasarnya adalah hadits riwayat Ibnu Umar Radhiallahu Anhu, dia berkata : “Dulu pada adzan pertama (waktu subuh), setelah membaca hayya ‘alal falaah, (dibaca lafadz) “ashsholatu khoirum minan naum” sebanyak dua kali.”(diriwayatkan oleh Abdurrozzak, ibn Abi Syaibah, Al Baihaqi, al Thahawi). Di riwayat lain, “Jika kamu mengumandangkan adzan pertama di waktu subuh, maka katakanlah ashsholatu khoirun minan naum, ashsholatu khoirun minan naum.”(Diriwayatkan oleh Abu Dawuud, An Nasa’I dan ath Thohawi dengan sanad yang shahih).1

 

Alhamdulillah sunnah yang mulia ini telah dilaksanakan di masjid kami, walaupun pada awal pelaksanaannya banyak menuai protes. Aneh bukan? Bahkan sekali kami mendapat teguran dari salah seorang utusan dari pejabat bintal dari suatu instansi tertentu yang kebetulan berdekatan dengan lokasi masjid kami. Lebih aneh lagi, ada orang yang merasa pernah umroh, pernah mengatakan bahwa di Arab sana aja adzan subuh cuma sekali. Wallahu a’lam kami memang belum pernah kesana, apakah memang hanya sekali atau mungkin dia tidak pernah mendengar adzan pertama selama berada di Mekkah atau Madinah, tapi yang jelas adzan subuh disyariatkan dua kali dan banyak juga jemaah yang sudah haji yang mengiyakan.

 

Hanya saja, ternyata anggapan kami selama ini ternyata salah. Kami kira tidak ada ikhtilaf bahwa tatswib itu disyariatkan pada adzan yang pertama sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman di kitab Qoulul Mubiin fi Akhtho-ul Musholliin. Ketika ada orang yang mengatakan bahwa adzan kedualah yang pake tastwib, kami katakan dia itu mengada-ada. Berawal dari pertanyaan seorang ikhwan dalam suatu ta’lim, kami baru sadar bahwa ternyata di Arab Saudi memang umumnya tastwib dibaca pada adzan subuh kedua, yaitu setalah masuk waktu subuh. Hal itu diperkuat oleh rekaman video sholat subuh di Masjidil haram yang kami donload dari internet.

 

Ulama-ulama yang mendukung pembacaan tastwib pada adzan kedua antara lain Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin.Pada intinya mereka berpendapat bahwa maksud adzan pertama dalam hadits di atas adalah adzan pertama setelah masuk waktu, yaitu adzan itu sendiri, sedangkan adzan keduanya adalah iqomat sebagaimana difahami dari hadits “baina kullu adzanaini ashsholat”. 2

 

Sebagai penutup, kami ingin mengemukakan bahwa memang terjadi ikhtilaf dalam hal ini, yaitu antara ulama-ulama hijaz seperi Syaikh Utsaimin dan Syaikh Bin Baaz dengan ulama-ulama di luar Hijaz seperti Syaikh Al Albani. Bagaimana dengan anggapan bahwa pendapat yang membaca tastwib pada adzan kedua adalah bid’ah? Walaupun kami dan ikhwan-ikhwan yang lain tetap sepakat dengan pendapat yang membaca tastwib pada adzan pertama tetapi tidak berani mengatakan bid’ah. Dan bagi yang mengamalkannya pada adzan kedua juga tidak usah berkecil hati atau kebakaran jenggot karena juga memiliki sandaran. Yang penting setiap amal ada dalilnya, al ‘ilmu qobla ‘amal.

 

Semoga para nadzir masjid lain yang belum mengamalkannya bisa segera mengikuti sunnah ini dan membuang jauh-jauh kebiasaan tarahim (bacaan-bacaan sholawat menjelang adzan) atau menghidupkan murottal sebelum masuk waktu sholat.

 

Aisyah Radhiallahu Anha juga pernah dianggap telah berbuat bid’ah ketika beliau dan istri-istri Rasulullah Shollallahu alaihi Wasallam yang lain mensyolatkan jenazah salah seorang sahabat di dalam masjid. Beliau tidak marah, tetapi menjelaskan kepada orang-orang yang menganggapnya berbuat bid’ah bahwa apa yang dilakukannya juga pernah dilakukan oleh Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam. Tidak perlu marah ketika kita dianggap berbuat bid’ah, cukup buktikan bahwa tindakan kita memang berlandaskan dalil.

 

Semoga kita selalu dalam bimbingan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Wallahu a’lam

______________

1. 1. Lihat Koreksi Total Ritual Sholat (Qoulul Mubin fi Akhtho-il Mushollin), Syaikh Masyhur Hasan Salman, hal. 185.

2. Lihat http://www.binbaz.org.sa/mat/2416

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 8, 2009 by in Fiqih and tagged , , , , .

Kategori

Arsip

IKLAN YANG KADANG TAMPIL DI BLOG INI SAMA SEKALI BUKAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB PEMILIK BLOG INI, MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA...TERIMA KASIH

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 122 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 253,149 hits
%d blogger menyukai ini: