أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Perbuatan Imam, Hadits?

Beberapa waktu yang lalu saya menemukan dan membaca sebuah artikel  dalam suatu website yang menarik untuk dikomentari. Menarik karena si penulis berbicara tentang hadits dhaif tetapi tidak memiliki dasar sedikit pun bahkan secara terang-terangan dirinya menyebutkan berdasarkan logika!!!  Saya hanya mau mengomentari sebagian kecil saja, karena kebetulan si  penulis tidak menyediakan tempat untuk komentar, maka saya membuat komentarnya di sini.

Dalam artikel tersebut tertulis sebagai berikut: (saya copas apa adanya)

Kenapa hadits dhoif tidak serta merta dibuang? Logikanya begini!

Imam Hambali umpamanya. Beliau menghafal sejuta hadits lengkap dengan sanad-sanadnya. Namun kenyataannya, hadits yang beliau hafal itu hanya sempat dituliskan sebanyak 27.688 buah hadits. Nah, kemana perginya yang 970 ribuan hadits lagi? Semua yang tersisa itu Tentu karena TIDAK DAPAT DITULISKAN, BUKAN KARENA DIBUANG begitu saja! Hal ini disebabkan karena kesibukan sang Imam dalam mengajar sehari-hari, menjawab pertanyaan masyarakat, memberi fatwa dan juga beribadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Imam Hambali setiap malam melakukan sholat sekitar 300 rakaat banyaknya. Belum lagi karena keterbatasan peralatan saat itu. Kertas belum banyak, juga tinta dan pena masih sangat sederhana. Sementara mesin ketik, alat cetak, apalagi computer sama sekali belum ada. Sebab itulah sedikit sekali hadits yang beliau hafal itu yang sempat ditulis dan sampai kepada kita.

Namun demikian, tidaklah serta merta hadits-hadits yang tidak sempat ditulis itu terbusng dan hilang begitu saja. Para murid yang setiap hari bergaul dengan sang guru pasti sempat memperhatikan dan menghafal setiap gerak langkah sang guru. Dan, gerak langkah sang guru ini pastilah sesuai dengan tuntunan sejuta hadits yang beliau hafal di dadanya. Sehingga kelak setelah sang guru wafat para muridnya mulai menulis dalam berbagai masalah dengan rujukan perilaku atau fiil sang guru tersebut. Prilaku sang guru tersebut kemudian hari dituliskan juga sebagai hadits yang terwarisi oleh kita sehingga kini.

Komentar:

A-immah, para imam, merupakan orang-orang yang kita cintai, kita hormati, karena keilmuan dan ketakwaan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita mengikuti amalan mereka yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah. Kita mempelajari ucapan-ucapan mereka untuk membantu kita dalam melaksanakan yang haq dan meninggalkan yang menyelisihi al-Quran dan as-Sunnah. Dalam hal-hal yang tidak tercantum dalam nash, dibenarkan untuk mengikuti ijtihad mereka. Ijtihad mereka kadang lebih mendekati kebenaran daripada ijtihad kita sendiri karena keunggulan mereka dalam ilmu dan ketakwaan.

Tetapi mereka, para a-immah Rahimahullah, tidaklah maksum. Masing-masing dari mereka, seperti dikatakan para ulama, memiliki beberapa pendapat yang bertentangan dengan  sunnah. Hal ini tidaklah bertujuan mengurangi kemuliaan mereka atau membuka aib mereka karena mereka telah bekerja keras, mengeluarkan seluruh kemampuan mereka untuk mempelajari al-Quran dan as-Sunnah kemudian mereka berijtihad sesuai dengan kemampuan mereka. Bagi yang berpendapat yang benar mendapat pahala atas ijtihad dan atas kebenaran ijtihad mereka, dan yang salah mendapat pahala atas ijtihad mereka dan kekeliruan mereka diampuni.[1]

Dalam kaidah jarh wa ta’dil yang saya kutip dari Kitab al Fushul Fii Musthalahi Haditsirrasul tulisan Syaikh Hafidz Tsana-ullah Az-Zahidi, disebutkan satu kaidah:

مُجَرَّدُ عَمَلِ العَالِمِ أو فُتْيَاهُ بِوِفْقِ حَدِيْثٍ لا يُعْتَبَرُ تَصْحِيْحًا لَهُ ، وَلا تَوْثِيْقًا لِرَاوِيْهِ

Sekedar amalan atau berfatwanya seorang alim yang selaras dengan suatu hadits tidak dipandang sebagai penshahihan atas hadits tersebut atau mentsiqahkan perawinya.” [2]

Artinya apabila seorang alim beramal dengan amalan yang selaras dengan suatu hadits bukan berarti hadits itu shahih secara otomatis, atau berarti otomatis para perawi hadits tersebut tsiqah semua. Jadi kalau dilihat dari artikel tersebut yang mengatakan bahwa fiil para imam dianggap sebagai hadits, na’udzubillah min dzalik. Seperti telah disebutkan di atas bahwa para imam bukanlah nabi yang maksum, mereka tetaplah manusia bisaa yang bisa saja pendapatnya benar, tetapi bisa saja salah. Berbeda dengan Rasulullahh Shallallahu Alaihi Wasallam yang memang semua perbuatannya adalah sunnah (sunnah fi’liyyah), karena semua perbuatan, ucapan, dan taqrirnya berdasarkan wahyu.

Tulisan ini bahkan bertentangan dengan pernyataan penulis sendiri “…Saat itu, mulailah muncul tukang-tukang penjual cerita yang di antara mereka bahkan berani mengarang-ngarang hadits, dan mengatakan bahwa hadits karangannya itu berasal dari Nabi. Hal ini ini membuat para Ulama mulai khawatir.”

Berarti apa yang dilakukan oleh murid-murid para imam sebagaimana disebutkan oleh penulis tadi tentunya termasuk juga hadits palsu, kalau hanya berdasarkan fiil gurunya. Mereka hanya tukang-tukang penjual cerita tentang kehidupan gurunya, yang parahnya mereka sulap menjadi hadits. Sungguh aneh !!!

Kalau benar apa yang disebutkan oleh si penulis, wajar saja jika banyak tersebar kitab-kitab yang berisi hikayat-hikayat yang tidak memiliki sanad yang jelas, walaupun tujuan penulis hikayat itu bagus. Para penulis hadits-hadits palsu tidak semuanya memiliki tujuan yang jelek, sebagian pengarang hadits ini memiliki tujuan yang baik seperti mengarang hadits-hadits palsu mengenai fadhilah membaca al-Quran.

Wallahu a’lam.

Hanya itu yang bisa saya komentari, bagi antum yang mau menambahkan komentarnya, saya persilahkan.


[1] Saya ambil faedah dari kitab Shahih fiqh as-sunnah Syaikh Abu Malik Kamal, hal. 35-36.

[2] الفصول في مصطلح حديث الرسول, hal. 20 (asy-Syamilah).

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 12, 2010 by in Hadits and tagged , .

Kategori

Arsip

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

Blog Stats

  • 152,576 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: